Pengamat politik dan akademisi Rocky Gerung menyoroti manuver cabut dukungan Demokrat dari Anies Baswedan sekaligus keluar dari Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP).
Menurut Rocky, jika pada akhirnya Demokrat bergabung dengan koalisi baru makan ia akan menanggalkan sikap etis dan moralnya.
"Tinggal orang melihat konsekuensi dari move on itu. On the road ke mana," ujar Rocky di kanal Youtube Rocky Gerung Official FNN, dikutip Sabtu (9/9/23).
"Itu juga perlu sikap moral. Kalau on the road pergi ke PDIP ya akan dipersoalkan orang, ternyata bukan sikap moral tapi pragmatis juga. Demikian juga ke Prabowo, itu bukan sikap etis, itu sikap pragmatis," sambungnya.
Menurut Rocky, pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menyebut pihaknya harus move on adalah langkah yang baik. Tinggal, lanjutnya, ke man arah move on itu akan diarahkan.
Bergabungnya Demokrat, tutur dia, dengan koalisi baru seperti ke PDIP atau Gerindra akan mengakibatkan partai AHY dicap baper alias bawa perasaan.
"Demokrat akhirnya memutuskan untuk move on. Itu pertanda bahwa Demokrat akan dinilai oleh publik atau bahkan oleh sejarah nanti sebagai partai yang tidak tergoyahkan dalam sikap etisnya," jelasnya.
"Jadi gabung dengan koalisi yang lain itu bukan sikap moral, itu artinya sikap baper juga atau ingin balas dendam," pungkas Rocky.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Benny K Harman mengungkapkan pihaknya tak akan bentuk poros baru dan akan berlabuh ke dua opsi lainnya yakni Prabowo atau Ganjar.
"Poros baru mana, saya rasa tidak (bentuk poros koalisi baru). Saya rasa paling mungkin itu adalah ke PDIP dengan Ibu Megawati sebagai episentrumnya atau Prabowo," ungkap Benny di gedung DPR, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa (5/9/23).