Remaja Anda Mulai Melawan? Ini Cara Menanganinya

Esti Utami Suara.Com
Jum'at, 06 November 2015 | 14:15 WIB
Remaja Anda Mulai Melawan? Ini Cara Menanganinya
Ilustrasi orang tua memarahi anak remaja (Shutterstock).

Suara.com - Masa remaja merupakan titik paling krusial dari fase kehidupan seseorang. Akan menjadi seperti apa seseorang saat dewasa maka ditentukan di masa remaja.

Jika masa kanak-kanak ada trauma maka saat remajalah merupakan waktu untuk berbenah. Karena itu menurut psikolog Tika Bisono, remaja membutuhkan pendampingan level tertinggi karena mereka merupakan kelompok yang belum berpikir panjang mengenai dampak dan resiko atas konsekwensi dari suatu tindakan.

"Jika dianalogikan seseorang dari balita hingga remaja maka sejatinya pendampingan setinggi-tingginya itu berada pada usia remaja," ucapnya.

Tika mengingatkan orangtua jangan menganggap remeh anak-anak usia remaja karena ini adalah masa transisi dengan ditandai perubahan secara fisik dan psikologis.

Psikolog lulusan Universitas Indonesia ini mengatakan, orangtua juga harus paham bahwa masa remaja merupakan masa pencarian indentitas dan konsep diri, pengakuan eksistensi, sehingga peran dari lingkungan akan berpengaruh hingga 90 persen.

Terkait eksistensi ini, itu sebabnya remaja senang berkelompok. Bukan perkara kelompok itu diisi oleh kalangan elite atau tidak, namun intinya mereka ingin berkelompok untuk mendapat pengakuan.

Dalam kelompok ini, ada aturan yang berlaku. Sayangnya kadang dalam kelompok yang dikatakan "keren" yakni mereka yang bisa melakukan sesuatu yang menantang dan berisiko seperti balap mobil dan balap motor, narkoba, atau malah seks bebas.

"Lantas, apakah mereka berpikir bahaya, tentunya belum karena mereka masih usia remaja. Itulah perlu pendampingan tingkat tinggi," kata dia.

Untuk itu perlu pendekatan persuasif atau tidak boleh pendekatan secara hukuman. Melalui cara itu, maka remaja diperkenalkan konsekwensi atas tindakan yang dilakukan sehingga nalarnya menjadi terstimulasi. Menurut Tika, cara yang paling cocok yakni mengikutkan remaja dalam kegiatan ekstrakurikuler.

"Mereka ini belum jago soal nalar karena baru melewati fase anak-anak dan belum juga dewasa, jika ikut kegiatan esktrakurikuler maka ada sesuatu kegiatan yang menstimulus otak mereka secara terus menerus," kata dia. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI