Trinity mengaku suka jalan-jalan sejak kecil. Oleh orang tuanya, anak kedua dari tiga bersaudara ini dibiasakan untuk memanfaatkan liburan dengan berwisata ke berbagai kota di sekitar tempat tinggalnya.
Singapura menjadi negara pertama yang dikunjungi sarjana komunikasi lulusan Universitas Diponegoro Semarang ini. Ia berkunjung ke negeri singa itu sendirian, meski saat itu ia masih duduk di bangku SMP.
"Saat itu saya harus cek kesehatan, karena tak ada yang mengantar maka saya berangkat sendiri. Tapi saya juga memanfaatkan itu untuk mengunjungi sejumlah tempat di Singapura," ujarnya mengenang.
Lantas dalam perjalanannya, Trinity selalu meluangkan waktu untuk bisa jalan-jalan. Saat masih menjadi karyawan, ia tak pernah melewatkan hak cuti, demi bisa memuaskan dahaganya untuk melancong.
Dalam berwisata, Trinity memilih jalur independen. Ia sangat jarang berwisata bersama dalam grup, apalagi memanfaatkan jasa biro wisata. Ia selalu mengatur sendiri perjalanannya, dan tempat yang dipilih juga tergolong unik. Ia jarang mengunjungi kota-kota besar yang mentereng, tapi lebih suka mengunjungi tempat terpencil yang belum banyak diketahui orang.
Trinity menyukai keindahan alam yang masih perawan dan belum banyak dijamah manusia. Mulanya, Trinity hanya membuat catatan harian setiap kali ia berwisata. Karena dinilai lucu dan
ringan, teman-temannya meminta agar tulisannya diperbanyak dan dibagikan. Sampai suatu saat, seorang temannya menyarankan untuk mempublikasikan tulisan itu secara daring.
Ia lantas menuangkan kisah perjalanannya ke dalam blognya www.thenakedtraveler.com. Karena mendapat respon positif dan banyak dibaca akhirnya muncullah ide untuk membukukan kisah itu dalam buku berjudul sama. Di buku itu, ia menulis suka-duka berjalan-jalan ke tempat-tempat yang dikunjungi dan tips penting untuk berwisata baik di dalam maupun luar negeri.
Tulisannya dinilai sangat informatif dan menghibur, dan telah menginspirasi banyak orang untuk tidak takut lagi berwisata.
Hingga pada satu waktu, perempuan yang mengambil gelar master ilmu manajemen di Asian Institute of Management di Filipina ini, memutuskan untuk berhenti bekerja dan benar-benar menjadi traveler sejati.
"Saya menghitung, kalau memang diseriusi bisa. Dan ternyata ini sangat membebaskan, kita bisa menjadi 'tuan' bagi hidup kita sendiri," ujarnya.
Kini setelah berhasil membuktikan bahwa mengikuti passion bukanlah hal yang salah, perempuan yang ingin hidupnya bermanfaat dan bisa menginspirasi orang lain ini, kini sedang rajin menabung untuk mewujudkan mimpinya mengunjungi Antartika.
"Sebuah tempat yang jauh, tapi bukan tak mungkin dijangkau," ujarnya yakin.
