Ketika Mahasiswa Asing pun Jatuh Cinta kepada Minangkabau

Arsito Hidayatullah | Suara.com

Sabtu, 27 Agustus 2016 | 19:47 WIB
Ketika Mahasiswa Asing pun Jatuh Cinta kepada Minangkabau
Sejumlah siswa bersama gurunya tampak melihat barang peninggalan Kerajaan Minangkabau yang dipamerkan di Museum Aditywarman, Padang, Sumatera Barat, Selasa (16/8/2016). [Antara/Iggoy el Fitra]

Suara.com - Pagi itu, alunan alat musik pukul tradisional Minangkabau talempong terdengar gegap gempita memenuhi bangunan berlantai dua di Jalan Nuri Air Tawar Barat, Kota Padang, Sumatera Barat.

Sebanyak 12 orang mahasiswa asing peserta program Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI) Kementerian Luar Negeri terlihat serius mempelajari cara memainkan talempong di Sanggar Tari dan Musik Sofyani Padang.

"One.. two.. one... two.. three... four...," ucap Fauzi Akbar, salah seorang pengajar memandu mahasiswa yang duduk di lantai memainkan talempong.

Alat musik yang menyerupai bonang dalam permainan gamelan itu terbuat dari kuningan berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 17 centimeter yang dimainkan dengan menggunakan sepasang kayu sebagai alat pukul.

Salah seorang peserta, Nurhasanah Haji Mohd Salleh asal Brunei Darussalam, terus menyimak arahan dari instruktur sembari tangannya tetap memegang alat pukul.

"Ayo kita ulangi lagi. Ikuti saya ya. Satu.. dua... tiga...," lanjut instruktur memberi arahan.

Nurhasanah tampak kepayahan mengikuti arahan instruktur, namun tetap berupa memainkan talempong sesuai instruksi. Sesekali ia terlihat mengusap dahi sembari menghela nafas di sela-sela latihan.

"Sulit juga. Tapi tak ape, saya akan coba terus sampai bisa," katanya yang merupakan mahasiswi Jurusan Bisnis Universiti Brunei Darussalam.

Sosok yang akrab disapa Lena itu mengaku amat tertarik dengan kebudayaan dan kesenian Minang karena memiliki karakter yang unik, dengan orang-orang yang ramah.

"Saya bukan seorang penari, juga bukan musisi dan tidak punya basis soal kesenian, tapi saya akan belajar pelan-pelan sampai mahir," lanjutnya.

Setelah satu bulan berada di Padang, ia mengaku takjub dengan Padang, terutama budaya, keindahan alam hingga makanannya, karena baru pertama kali berkunjung.

"Ini pengalaman berharga dalam hidup saya. Apalagi ketika belajar tari, para pelatih dengan sabar melatih saya sampai bisa," ujarnya.

Lena berencana mempromosikan tari tradisional Minang dan alat musik di kampusnya ketika program berakhir. "Saya benar-benar jatuh cinta dengan Padang, dan usai program ini rencananya akan kembali berkunjung ke sini," katanya.

Sementara Jack, asal Selandia Baru, memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap talempong, hingga berhasil menyusun komposisi baru lagu-lagu terkenal menggunakan alat musik pukul itu.

Sebanyak 12 mahasiswa yang berasal dari Brunei Darussalam, Vietnam, Rusia, Azerbaijan, Fiji, Selandia Baru hingga Papua Nugini, itu mulai berlatih sejak pukul 08.00 WIB dan baru akan selesai pukul 17.00 WIB, dengan jeda satu jam setiap hari, selama tiga bulan.

Pelatih talempong, Muhammad Regan Nazir, menceritakan kesulitan mengajar peserta adalah melatih tempo dan beat yang kadang terlalu cepat dan ada kalanya lambat, karena belum semua kenal musik.

"Ada yang cepat pandai, sekali diajarkan langsung bisa. Ada juga yang lambat. Target kami tidak sampai mahir, tapi minimal bisa membawakan musik Tari Pasambahan," katanya.

Pelatih Sanggar Sofyani, Andre Pradipja, mengaku senang pihaknya dipercaya oleh pengelola program untuk melatih kesenian tradisional Minang kepada 12 mahasiswa tersebut.

Ia menceritakan, mahasiswa asing tersebut diwajibkan belajar kesenian tradisional mulai dari Tari Piring yang musik pengiringnya juga dimainkan sendiri, hingga alat musik talempong, suling dan gendang.

"Ada di antara mereka yang sudah punya dasar soal tari, namun ada juga yang masih awam. Tapi semangat belajar tinggi," kata dia.

Menurutnya, kesulitan yang dijumpai adalah bahasa, karena ada istilah dalam kesenian Minang yang khas sehingga sulit menjelaskan dalam bahasa Inggris.

"Malah ada yang belum mengenal tari dan musik sehingga perlu dikenalkan dasar-dasarnya," katanya.

Apalagi, lanjut dia, untuk tari tradisional Minang basisnya adalah silat. Jangankan orang luar, orang Minang sendiri cukup sulit untuk mempelajari.

Namun, Andre melihat animo mahasiswa tersebut luar biasa. Bahkan pernah suatu ketika terlambat mulai, mereka malah bertanya ke instruktur kapan akan mulai latihan.

Selain itu, 12 mahasiswa tersebut juga belajar atraksi pertunjukan randai yang memadukan gerakan silat Minang dengan kesenian tradisional serta dendang Minang.

Andre menyebutkan, sebanyak lima pelatih dilibatkan untuk melatih tari dan empat orang pelatih musik, serta dua pelatih randai.

Setiap selesai diajarkan satu materi akan dilakukan tes, dan pada akhir program ke-12 mahasiswa ini akan ditampilkan unjuk kebolehan bermain kesenian Minang.

Ia menambahkan, selain belajar kesenian, mahasiswa tersebut juga belajar bahasa Minang dan telah menguasai beberapa kosa kata.

Andre mengisahkan, yang paling berkesan saat melatih peserta adalah mereka juga mau belajar bahasa Minang, serta bagaimana kegigihan mereka untuk terus mencoba sampai mahir walaupun sulit.

Sedangkan peserta program BSBI asal Universitas Nusa Cendana, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Dianti Koroh, mengaku senang belajar seni Minang karena berbeda dengan daerahnya.

"Sebenarnya tidak sulit. Saya merasa tertantang menyelesaikan materi musik dan tari yang diajarkan," katanya.

Ia memandang seni adalah identitas sebuah bangsa, dan Indonesia memiliki kesenian yang sangat unik dan dipastikan akan menyesal kalau tidak mengenalnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir, sebagaimana dikutip dari laman Kemlu.go.id, menyebutkan pada 2016 sebanyak 60 pemuda dari 41 negara mengikuti kegiatan ini untuk belajar dan tahu lebih banyak tentang Indonesia.

Sebanyak 60 peserta yang berasal dari negara-negara di kawasan Asia, Pasifik, Afrika dan Eropa tersebut merupakan hasil saringan lebih dari 300 orang pendaftar program BSBI 2016 dari 46 negara.

Ia menyampaikan, pada awal penyelenggaraan program BSBI ditujukan bagi negara anggota South West Pacific Dialogue (SWPD) seperti Australia, Selandia Baru, Papua Nugini, Filipina dan Timor Leste, dengan Indonesia sebagai tuan rumah. Seiring perkembangan, peserta diperluas ke negara-negara ASEAN+3, PIF, serta kemudian dari berbagai penjuru dunia lainnya. [Antara]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kisah Penyaji Rendang Paru dan Kalio Lidah Sapi untuk SBY

Kisah Penyaji Rendang Paru dan Kalio Lidah Sapi untuk SBY

News | Minggu, 01 November 2015 | 06:14 WIB

Nirina Merasa Bangga sebagai Anak Minang

Nirina Merasa Bangga sebagai Anak Minang

Entertainment | Minggu, 30 Agustus 2015 | 08:21 WIB

Uniknya Paduan Rasa Minang dan Jepang di Suntiang

Uniknya Paduan Rasa Minang dan Jepang di Suntiang

Lifestyle | Selasa, 08 April 2014 | 08:04 WIB

Pentas "Lidah Basilek Piriang Badantiang" di Galeri Indonesia Kaya

Pentas "Lidah Basilek Piriang Badantiang" di Galeri Indonesia Kaya

Lifestyle | Minggu, 06 April 2014 | 13:09 WIB

Terkini

6 Shio Paling Beruntung Besok 29 April 2026, Hoki Mengalir di Akhir Bulan

6 Shio Paling Beruntung Besok 29 April 2026, Hoki Mengalir di Akhir Bulan

Lifestyle | Selasa, 28 April 2026 | 21:05 WIB

4 Bedak SPF 50 Terbaik untuk Aktivitas Outdoor: Tahan Lama dan Anti Kusam

4 Bedak SPF 50 Terbaik untuk Aktivitas Outdoor: Tahan Lama dan Anti Kusam

Lifestyle | Selasa, 28 April 2026 | 20:40 WIB

JEDA 10 Detik Jadi Solusi Blibli Cegah Respons Impulsif dan Perkuat Perlindungan Konsumen

JEDA 10 Detik Jadi Solusi Blibli Cegah Respons Impulsif dan Perkuat Perlindungan Konsumen

Lifestyle | Selasa, 28 April 2026 | 20:14 WIB

Indonesia Gandeng Teknologi Korea, Perkuat Pertahanan Hadapi Ancaman Siber yang Kian Kompleks

Indonesia Gandeng Teknologi Korea, Perkuat Pertahanan Hadapi Ancaman Siber yang Kian Kompleks

Lifestyle | Selasa, 28 April 2026 | 20:06 WIB

5 Krim Pagi untuk Mencerahkan Wajah Kusam, Bikin Kulit Glowing dan Sehat

5 Krim Pagi untuk Mencerahkan Wajah Kusam, Bikin Kulit Glowing dan Sehat

Lifestyle | Selasa, 28 April 2026 | 20:05 WIB

Berapa Harga Cushion OMG? Rahasia Makeup Cantik Maia Estianty di Nikahan El Rumi

Berapa Harga Cushion OMG? Rahasia Makeup Cantik Maia Estianty di Nikahan El Rumi

Lifestyle | Selasa, 28 April 2026 | 19:18 WIB

Diskon Sepatu Nike di Sports Station, Harga Mulai Rp500 Ribuan

Diskon Sepatu Nike di Sports Station, Harga Mulai Rp500 Ribuan

Lifestyle | Selasa, 28 April 2026 | 19:10 WIB

Siapa Saja Kru Masinis Argo Bromo? Ungkap Masalah Sinyal Usai Kecelakaan Tabrak KRL

Siapa Saja Kru Masinis Argo Bromo? Ungkap Masalah Sinyal Usai Kecelakaan Tabrak KRL

Lifestyle | Selasa, 28 April 2026 | 17:00 WIB

Selamat Tinggal Gas Melon, Bahlil Siapkan Alternatif Pengganti LPG

Selamat Tinggal Gas Melon, Bahlil Siapkan Alternatif Pengganti LPG

Lifestyle | Selasa, 28 April 2026 | 16:45 WIB

Urutan Skincare Wardah Malam untuk Cegah Penuaan Usia 30 Tahun ke Atas

Urutan Skincare Wardah Malam untuk Cegah Penuaan Usia 30 Tahun ke Atas

Lifestyle | Selasa, 28 April 2026 | 16:44 WIB