Mbok Cikrak, TKI di Taiwan Sukses Jadi Bos Tiket dan Youtuber

Ririn Indriani | Risna Halidi
Mbok Cikrak, TKI di Taiwan Sukses Jadi Bos Tiket dan Youtuber
Di Taiwan, Mbok Cikrak adalah salah satu TKI yang sukses menjadi bos tiket untuk membantu para TKI lainnya. (Foto: Dok. Mbok Cikrak)

Himpitan ekonomi membuat Mbok Cikrak, TKI asal Kroya, terpacu untuk meraih sukses.

Suara.com - Nama populer dengan sapaan Mbok Cikrak, meski begitu perempuan asal Kroya, Indramayu ini enggan menyebutkan nama aslinya pada Suara.com.

Mbok Cikrak biasa tampil dengan dandanan full make up dan tatanan rambut berwarna.

Di kalangan ratusan ribu Tenaga Kerja Indonesia di Taiwan, Mbok Cikrak sudah sangat akrab di telinga mereka.

Saat ini, Mbok Cikrak telah menjadi bos tiketing yang khusus melayani pekerja migran asal Indonesia. Bahkan sudah 10 tahun juga ia membantu para TKI di Bandara Taouyan untuk mengurus segala macam hal keperluan pahlawan devisa yang akan pulang ke Tanah Air.

Kata si Mbok, banyak tenaga kerja Indonesia yang menjadi sasaran agen kurang bertanggung jawab saat akan kembali ke Tanah Air.

Beberapa kali ia menemukan sesama orang Indonesia telantar begitu saja di bandara. Rata-rata di antara mereka tak tahu apa yang dilakukan, yang lainnya bahkan tertipu dengan tiket pulang.

‎"Orang Taiwan enggak peduli, dia sudah ngurusin gitu aja, habis itu ya sudah enggak mau ngurusin lagi,"‎ kata Mbok saat dihubungi Suara.com melalui sambungan telepon.

Perempuan cantik yang menjadi TKI di Taiwan ini populer dengan sapaan Mbok Cikrak. (Foto: Dok. Mbok Cikrak)

Kisah Mbok Cikrak bertualang di negeri orang bermula saat menginjak usia 18 tahun. Keadaan ekonomi yang serba seret mengharuskan Mbok mencari nafkah dan bekerja ke negeri orang.

"Saya dulu dateng sebagai babu, babu kece lah," candanya.

Mbok Cikrak sendiri mengaku tak memiliki pengalaman buruk selama bekerja sebagai 'babu'. Bahkan dirinya telah dipersunting oleh lelaki lokal Taiwan dan kini membantu mengurus bisnis travel milik suaminya tersebut.

‎Dari situ cerita bermula. Ia pernah diberi label calo bandara karena keaktifannya mengurus para tenaga kerja.

Namun Mbok memilih tutup telinga. Ia mengaku tetap membantu dan ikhlas bekerja. Secara aktif Mbok menerangkan mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebelum pulang ke Indonesia.

Mbok Cikrak dan teman-teman TKI di Taiwan saat melakukan kegiatan sosial kunjungan ke rumah sakit, menjenguk salah satu TKI yang sedang sakit. (Foto: Dok. Mbok Cikrak)

"Yang enggak boleh itu kayak (bawa) senter, pulang ke Indonesia kadang-kadang teman-teman bawa senter, raket listrik, kipas angin soalnya barang-barang itu di pasar malam sini kan murah banget. Jadi, mereka bawa buat di kampung. Ternyata enggak boleh dibawa pulang, harus di cargoin," ujarnya.

Bukan hanya aktif woro-woro di Bandara Taouyan, Mbok Cikrak juga menggunakan metode baru dalam berbagi pengalaman dan masukkan dengan para TKI yang hilang arah.

Mbok Cikrak memanfaatkan hampir semua platform media sosial mulai dari Facebook, Youtube hingga Bigo Live. Dari situ Mbok mulai melayani pertanyaan dan ‎sesekali menghibur agar penontonnya tak bosan.

"Iya aku sering di Bigo. Jadi, mereka tanya dan aku bisa langsung jawab, kasih saran. Pokoknya memanfaatkan apa yang ada," kata dari ibu dari dua anak itu.

‎Dari Bigo, Mbok bisa mendulang sekitar Rp 15 juta per bulan. Uang tersebut belum termasuk usaha kosmetik yang dijalankan Mbok Cikrak.

Pundi-pundi rupiah tak dimasukkan semua ke kantong pribadinya. Melalui yayasan, Mbok membantu kehidupan sekitar 200 anak yatim.

Sampai sekarang Mbok terus membantu pekerja migran dan doyan berbagi tips untuk para pekerja yang saat ini berada di luar negeri.

"Pintar-pintar memanfaatkan teknologi. Kalau ada masalah jangan langsung kabur. Karena kalau kabur gitu saja kita akan susah dapat kerja lagi," ujarnya.

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS