Ini Terapi Kecantikan yang Bakal Tren di 2019

Ade Indra Kusuma | Firsta Nodia
Ini Terapi Kecantikan yang Bakal Tren di 2019
Event soal kecantikan di "20 Tahun Deby Vinski Berkarya" [Suara.com/Firsta]

Debby Vinski menjelaskan terapi sel punca memang bertujuan untuk meregenerasi sel tubuh yang sudah rusak karena usia maupun pengaruh gaya hidup tak sehat.

Suara.com - Berbicara mengenai perawatan kecantikan memang tak ada habisnya. Setiap tahun selalu hadir tren terkini yang memiliki keunggulan dibandingkan tren perawatan sebelumnya. Disampaikan Professor Anti-aging Medicine, Prof. Dr. Deby Vinski, MScAA, PhD terapi kecantikan yang bakal tren di 2019 mendatang adalah stem cell.

Ya, stem cell atau sel punca memang selama ini disebut-sebut dapat mengatasi penyakit yang berhubungan dengan penuaan. Bahkan tak hanya mencegah penyakit, pada 2019 mendatang Prof Deby mengatakan bahwa sel punca juga bisa diterapkan untuk meningkatkan performa di ranjang baik pada laki-laki maupun perempuan.

"Sel punca untuk laki-laki bisa memperbesar organ penis. Untuk perempuan bisa mengurangi gejala menopause yang ditandai dengan vagina kering sehingga memicu rasa sakit ketika berhubungan seks," ujar Prof Deby di sela-sela '20 Tahun Deby Vinski Berkarya.

Perempuan yang juga menjabat sebagai Presiden World Council of Preventive Medicine (WOCPM) ini menambahkan, terapi sel punca memang bertujuan untuk meregenerasi sel tubuh yang sudah rusak karena usia maupun pengaruh gaya hidup tak sehat.

Kemampuannya dalam memberikan terapi sel punca didapatnya setelah menimba ilmu melanjutkan Program Doktor Stem cell and Peptide di Institute Bioregulator & Gerontology, Saint Petersburg Rusia. Risetnya mengenai stem cell dan peptide untuk memperpanjang telomere dan pengaruh sirtuin gen di Rusia langsung dibimbing oleh penemu peptide bioregulator, Prof. Vladimir Khavinson, MD, PhD.

"Jadi memang sel punca ini multidisiplin. Bisa untuk mengatasi penyakit degeneratif seperti diabetes tapi juga di ranah kecantikan juga bermanfaat dalam meregenerasi sel kita. Proses pemberian sel punca juga sangat individual, setiap pasien pendekatannya istimewa sehingga beda reaksinya juga berbeda," tambah dia.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Ikatan Dokter Indonesia, Dr. Daeng M Faqih, SH, MH mengatakan bahwa ketertinggalan teknologi kedokteran di Indonesia memang harus terus dikejar. Itu sebabnya pihaknya terus mendorong para dokter untuk melakukan riset yang pada gilirannya bisa diterapkan di negeri sendiri.

"Kita mendorong riset yang berkaitan dengan preventif medicine. Ada yang dari anti aging, estetika, regeneratif. Terapi sel punca juga termasuk. Jadi memang IDI mendorong untuk riset sehingga bisa membantu pelayanan yang ada di Indonesia," tambah dia.

Bertepatan dengan ulang tahun Prof. Deby kali ini, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membuat gebrakan dalam hal ilmu kedokteran Anti-aging, yaitu dengan dibuatnya kesepakan (MOU) dengan WOCPM Indonesia.

"Tujuan dari MOU ini adalah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat anti-aging dunia sehingga berdampak baik pada perekenomian Indonesia itu sendiri," tandas dr Daeng.

Suara.Com

Suara.com adalah portal berita yang
menyajikan informasi terhangat, baik peristiwa politik, bisnis, hukum, entertainment...

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS