Komunitas Premature Indonesia, Sebar Edukasi soal Bayi Prematur

Ade Indra Kusuma, Firsta Nodia

Sabtu, 17 November 2018 | 10:17 WIB
Komunitas Premature Indonesia, Sebar Edukasi soal Bayi Prematur
Komunitas Premature Indonesia

Suara.com - Melahirkan bayi dalam kondisi belum cukup bulan atau prematur tidak pernah diinginkan orangtua manapun. Namun ketika hal itu terjadi, jarang orangtua yang telah mempersiapkan diri untuk merawatnya.

Hal ini pula yang dialami dr.Agung Zentyo Wibowo, B.MedSc bersama sang istri dr. Ning Rahardhiyanti. Mereka adalah orangtua bayi prematur yang lahir pada usia kandungan 26 minggu 1 hari dengan berat badan 800 gram. Meski merupakan pasangan bertitel dokter, mereka sama seperti orangtua lainnya yang panik dan bingung.

Hampir sebagian besar artikel mengenai prematuritas diulas dalam bahasa Inggris. Baik Ning dan Agung menyadari bahwa banyak orangtua bayi prematur di luar sana yang mengalami kesulitan mendapatkan informasi mengenai perawatan bayi prematur.

"Kebingungan mencari informasi yang tepat dan valid sungguh sangat sulit pada saat itu, karena hampir sebagian besar artikel dan referensi yang ditemukan masih berupa Bahasa Inggris," ujar dr Ning.

Hingga akhirnya mereka berdua mendirikan wadah bagi para orangtua yang memiliki anak prematur melalui Komunitas Premature Indonesia, pada 3 April 2015 silam. Kegiatan yang dilakukan komunitas ini pun lebih banyak seputar edukasi.

Hal ini diwujudkan melalui kegiatan perdana pada 2015 lalu berupa Seminar Awam Prematuritas yang bekerjasama dengan sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Pusat.

Para orangtua bayi prematur juga dipertemukan lewat kegiatan Gathering Komunitas Premature Indonesia di Bundaran HI Jakarta Pusat melalui Aksi Simpatik meminta tanda tangan kepada masyarakat awam untuk lebih peduli terhadap kelahiran prematur. Kedua kegiatan tersebut merupakan partisipasi untuk merayakan World Prematurity Day (WPD) yang juga diikuti oleh puluhan negara lain di dunia.

"Nah di awal 2018 ini komunitas Premature Indonesia mulai merambah di luar Jakarta. Jadi kita bikin seminar awam tentang prematuritas di Surabaya kerjasama dengan rumah sakit swasta di sana. Kita harapkan kesadaran para orangtua untuk menjaga kesehatannya selama kehamilan meningkat dan memiliki wawasan tambahan untuk merawat bayi prematur," imbuh dr Ning.

Ning menyebut, berdasarkan data World Health Organization (WHO), Indonesia adalah negara dengan jumlah bayi prematur terbanyak di dunia. Berbeda dengan bayi cukup bulan, bayi prematur merupakan kelompok bayi yang berisiko tinggi.

baca juga

"Hal tersebut disebabkan oleh ketidakmatangan sistem organ tubuh pada bayi prematur, seperti organ paru-paru, jantung, ginjal, hati, dan sistem pencernaan. Dengan tingkat kematangan tumbuh yang belum sempurna tersebut, maka bayi prematur memiliki resiko tinggi mengalami masalah kesehatan hingga kematian," ujar dr .Ning.

Sementara itu dr Agung menambahkan, penanganan dan perawatan bayi prematur membutuhkan ilmu serta wawasan yang baik dan tepat sehingga tumbuh kembangnya dapat terpantau secara optimal. Kebanyakan, kata dr Agung, orangtua hanya mengetahui bahwa prematur adalah kondisi lahir sebelum waktunya dengan ukuran berat badan lebih kecil daripada standar bayi lahir cukup bulan.

Sayangnya tidak semua mengetahui bahkan mempersiapkan langkah apa yang harus dilakukan untuk memastikan bayi prematur tetap bisa tumbuh sehat. Melalui komunitas yang Ia dirikan ini, Agung berharap bisa mendampingi para orangtua bayi prematur atau calon orangtua yang berpotensi memiliki bayi prematur agar mengetahui perawatan yang tepat.

Salah satunya menyebarluaskan pentingnya skrining bayi prematur yang masih belum banyak diketahui oleh orang tua, dan belum merata disarankan oleh tenaga kesehatan. Bayi prematur harus dilakukan skrining pengelihatan (ROP), pendengaran (OAE dan BERA), echo jantung, skrining sistem pernapasan, skrining sistem pencernaan dan skrining hipotiroid.

Selain itu orang tua juga harus bisa memantau pertumbuhan dan perkembangan anaknya dengan cara yang benar dan tepat. Pertumbuhan harus dipantau kenaikannya dengan menggunakan kurva pertumbuhan agar bisa dipantau tren kenaikannya. Sementara untuk memantau perkembangan, orang tua bisa menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP).

"Melalui adanya kegiatan di Jakarta, Bandung, Surabaya, Kediri, dan Pekanbaru sejak 2015-2018, diharapkan akan semakin banyak masyarakat yang terbuka secara wawasannya bahwa kelahiran prematur tidak dapat dianggap sepele. Dibutuhkan kesiapan mental dan informasi yang tepat agar lebih siap terhadap terjadinya kelahiran prematur," tandas dr Agung.

Jika Anda orangtua dari bayi prematur, Anda bisa mengetahui kegiatan dan informasi yang diberikan Komunitas Premature Indonesia lewat akun Instagram mereka di @premature.indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Bayi 12 Hari Tewas Digigit Monyet

Bayi 12 Hari Tewas Digigit Monyet

News | Kamis, 15 November 2018 | 19:45 WIB

4 Manfaat Tunda Mandikan Bayi Setelah Lahir

4 Manfaat Tunda Mandikan Bayi Setelah Lahir

Health | Kamis, 15 November 2018 | 10:45 WIB

Misteri Gundukan Tanah Ungkap Aksi Keji Sepasang Pengantin Baru

Misteri Gundukan Tanah Ungkap Aksi Keji Sepasang Pengantin Baru

News | Rabu, 14 November 2018 | 05:37 WIB

Terkini

Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal

Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:11 WIB

Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering

Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 00:02 WIB

Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026

Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026

Bola | Selasa, 04 Agustus 2026 | 23:55 WIB

Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain

Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain

Sumsel | Selasa, 04 Agustus 2026 | 23:42 WIB

Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar

Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar

Sumsel | Selasa, 04 Agustus 2026 | 23:26 WIB

Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU

Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU

Sumsel | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:55 WIB

Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok

Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok

Jabar | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:53 WIB

Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri

Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:52 WIB

Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor

Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor

Jabar | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:46 WIB

5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan

5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan

Lifestyle | Selasa, 04 Agustus 2026 | 22:42 WIB

×