Gerakan Menikah Muda Tak Relevan Lagi untuk Generasi 90an, Ini Alasannya

Rima Sekarani Imamun Nissa
Gerakan Menikah Muda Tak Relevan Lagi untuk Generasi 90an, Ini Alasannya
Ilustrasi pernikahan. (Unsplash/ Nathan Dumlao)

Menikah muda seolah jadi tren yang begitu menggoda sekaligus meresahkan.

Suara.com - Beberapa waktu lalu, sempat beredar tabel usia ideal menikah di media sosial. Indikatornya adalah usia anak pertama masuk SD sampai kuliah, bahkan sampai menikah.

Hitung-hitungan itu pun membuat banyak orang berpikir untuk sebaiknya menikah muda, salah satunya agar tidak terlalu tua saat anak-anak sekolah.

Pada tabel terkait, idealnya seseorang menikah pada usia 25-28 tahun. Artinya, 2017 adalah waktu paling ideal untuk orang-orang kelahiran 1990an ke bawah menikah.

Saat ini bahkan sedang ramai gerakan menikah muda yang mengajak anak-anak muda Indonesia melepas masa lajang di usia awal 20 tahunan. Jika pertimbangannya berkaitan dengan agama, tentu itu berbeda. Namun, bagaimana jika yang dijadikan alasan adalah perkara ekonomi seperti tabel usia pernikahan ideal itu?

Melansir dari Yukepo.com, generasi 90an tentu sudah masuk dalam usia produktif dan memasuki dunia kerja. Teknologi memainkan peran penting dalam perubahan pola kerja mereka. Namun meski banyak pilihan, tekanan yang ditimbulkan juga semakin nyata.

Andaikan seseorang baru mulai bekerja pada usia 22 tahun, lalu karena standar usia menikah 'ideal' tadi ia mendapat tekanan untuk menikah saat berumur 25 tahun, artinya ia hanya punya waktu tiga tahun untuk mempersiapkan segalanya.

Tabel usia pernikahan ideal yang sempat jadi viral. (Instagram/@ayonikahcom)
Tabel usia pernikahan ideal yang sempat jadi viral. (Instagram/@ayonikahcom)

Inilah yang kemudian menyebabkan menikah muda tak lagi relevan untuk orang-orang kelahiran 1990an ke bawah. Menikah tentu membutuhkan banyak modal, apalagi jika mengikuti tren pernikahan instagrammable.

Masih mengutip Yukepo.com, inilah beberapa hal yang menyebabkan menikah muda tak relevan lagi untuk generasi 90an.

1. Dilihat dari sisi ekonomi, waktu dari mulai bekerja sampai usia 25 tahun belum cukup untuk mengumpulkan biaya pernikahan yang bisa jadi sangat banyak.

2. Bukan hanya biaya pernikahan yang dibutuhkan. Setelah menikah, biaya lainnya segera menyusul, seperti kebutuhan tempat tinggal hingga biaya membesarkan anak.

3. Dengan semakin terbukanya kesempatan untuk melakukan banyak hal, menikah bukan lagi sesuatu yang harus dikejar. Ada banyak pilihan hidup lain yang lebih menyenangkan, misalnya studi lanjut S2 atau S3 ke luar negeri, memperdalam kemampuan di bidang yang disukai, membuat proyek yang berguna untuk lingkungan, dan lain-lain.

4. Pada usia 25-28 tahun, tidak banyak orang yang kariernya sudah mapan. Jika dalam waktu-waktu itu memutuskan untuk menikah, kesempatan untuk meniti tangga karir sampai puncak bisa saja terputus.

Gerakan Menikah Muda Tak Relevan Lagi untuk Generasi 90an, Ini Alasannya - 2
Ilustrasi menikah. (Shutterstock)

5. Salah satu faktor terbesar penyebab perceraian adalah ekonomi. Dengan memahami hal ini, orang usia 25 tahun ke atas yang belum mapan berpikir ulang tentang keputusan menikah.

6. Tuntutan pekerjaan berlebih bikin seseorang tak punya waktu untuk berinteraksi dengan orang-orang baru. Gimana mau nikah? Pacar saja tidak ada, mau cari juga nggak sempat.

7. Banyak yang bilang menikah itu membuka pintu rezeki. Nyatanya, tak semuanya berjalan semanis itu setelah menikah. Kebutuhan makin banyak, kerjaan dan penghasilan tak berkembang. Lalu, siapa yang mau tanggung jawab?

Walau demikian, tentu saja setiap orang boleh berbeda pendapat soal menikah muda. Hanya saja, banyak hal yang mesti dipertimbangkan. Setuju?

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS