Lebarkan Sayap Batik Kultur, Dea Valencia Rangkul Karyawan Difabel

Silfa Humairah Utami | Dinda Rachmawati
Lebarkan Sayap Batik Kultur, Dea Valencia Rangkul Karyawan Difabel
Dea Valencia. (Suara.com/Dinda Rachmawati)

Ini awalnya kenapa Dea Valencia rangkul karyawan difabel dirikan Batik Kultur.

Suara.com - Lebarkan Sayap Batik Kultur, Dea Valencia Rangkul Karyawan Difabel

Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya, tak terkecuali mereka yang punya keterbatasan.

Inilah yang selalu ada dalam pikiran seorang Dea Valencia dalam menjalani label Batik Kultur yang ia dirikan delapan tahun yang lalu. Semangat ini pula yang membuatnya mantap merekrut para penyandang disabilitas untuk bekerja bersamanya.

"Awalnya ini semua nggak sengaja. Saya sedang visit ke salah satu supplier, lalu ketemu sama karyawan difabel pertama kami, namanya mbak tumi. Dia minta dicariin pekerjaan, akhirnya kita terima untuk bekerja di Batik Kultur," jelas Dea saat ditemui belum lama ini.

Lebih lanjut, perempuan asal Semarang ini mengatakan, karena tangan dan kakinya kurang lengkap, Mbak Tumi sebenarnya butuh partner untuk menguncir rambutnya setiap ingin bekerja. Lalu, masuklah tiga karyawan difabel lainnya yang berasal dari teman-teman Mbak Tumi.

Dea Valencia bersama karyawan difabel Batik Kultur. (Suara.com/Dinda Rachmawati)
Dea Valencia bersama karyawan difabel Batik Kultur. (Suara.com/Dinda Rachmawati)

Jumlahnya pun terus bertambah. Berawal dari hanya satu orang, kini 50 dari 120 karyawan Batik Kultur diisi para difabel. Dea Valencia mengungkap, pastinya ada tantangan tersendiri dalam mempekerjakan para difabel di Batik Kultur.

Ia harus menempatkan mereka sesuai kemampuannya dengan cara memberikan sebuah orientasi singkat untuk melihat apa yang mereka kuasai. Mulai dari membordir, menjahit, admin, fotografi hingga SPG.

"Jadi di tempat kami, memang peralatan untuk mereka bekerja harus kami modifikasi sesuai kebutuhan mereka. Seperti membordir, alatnya diberikan tambahan, supaya tidak menghalangi mereka untuk terus berkarya," jelas Dea.

Dea sadar, dirinya bukan siapa-siapa tanpa bantuan dari para karyawannya saat ini.

Hal inilah yang membuat perempuan kelahiran Semarang, 14 Februari 1994 merasa bahwa dirinya harus mengenalkan siapa saja yang menjahit busana-busana tersebut, hingga bisa sampai di tangan para pelanggan setianya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS