Lampah Budaya Mubeng Beteng Digelar, Ini Makna Ritual di Baliknya

Vania Rossa | Suara.com

Minggu, 01 September 2019 | 09:50 WIB
Lampah Budaya Mubeng Beteng Digelar, Ini Makna Ritual di Baliknya
Lampah Budaya Mubeng Beteng. (Suara.com/Julianto)

Suara.com - Ribuan orang mengikuti tradisi Lampah Budaya Mubeng Beteng dalam rangka menyambut 1 Suro 1953. Ritual ini dimulai pada malam 1 Suro pukul 21.00 WIB dan akan berakhir hingga tengah malam. Tradisi ini memang selalu dilakukan sebagian masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terutama abdi dalem Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, dalam rangka menyambut 1 Muharram.

Sejak sore, masyarakat mulai berdatangan ke Kagungan Ndalem Ponconiti Kompleks Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, tempat tradisi berjalan mengelilingi benteng Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat dimulai. Di tempat ini pula, rangkaian acara ritual Lampah Budaya Mubeng Beteng digelar.

Prosesi Lampah Budaya Mubeng Beteng dimulai dengan menyanyikan tetembangan (lagu) Jawa melalui kidung yang dilaksanakan oleh puluhan Abdi Dalem. Dilanjutkan dengan doa oleh Mas Lurah Abdul Syaiful serta membagikan makanan yang telah tersedia.

Ribuan masyarakat lantas mulai berjalan mengelilingi Benteng Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat. Mereka berjalan berlawanan arah jarum jam, yaitu berjalan ke arah barat lantas ke selatan, ke timur, baru ke utara, dan kembali ke tempat dimulainya prosesi ini.

Selepas dari Ndalem Ponconiti, rombongan lantas berjalan melalui jalan Rotowijayan, jalan Agus Salim, jalan KH Wahid Hasyim, pojok Beteng Kulon, Plengkung Gading, pojok Beteng Wetan, jalan Brigjen Katamso, jalan Ibu Ruswo, Alun-alun Utara, dan baru kembali ke Ndalem Ponconiti.

Pengangeng Tepas Dwarapura Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat atau yang dikenal sebagai Kantor Penghubung Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Jatiningrat, menuturkan bahwa tradisi Lampah Budaya Mubeng Beteng ini sebenarnya sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram di Kotagede ratusan tahun silam. Kala itu, tradisi Lampah Budaya Mubeng Beteng ini dilakukan oleh Prajurit Keraton.

Prajurit Keraton memang memiliki kewajiban untuk menjaga keamanan wilayah Keraton. Oleh karena itu, secara rutin rombongan Prajurit Keraton melaksanakan patroli dengan berjalan kaki mengelilingi Benteng Keraton untuk melihat situasi. Dan seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut kini digantikan oleh Abdi Dalem.

"Kini tradisi tersebut sudah berubah esensinya menjadi sebuah upaya koreksi diri," tutur KRT Jatiningrat, Sabtu (31/8/2019).

Dalam tradisi berjalan mengelilingi Benteng Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat ini ada satu pantangan yang harus ditaati oleh peserta. Pantangan tersebut adalah tidak boleh bersuara apalagi berbicara dengan sesama peserta lainnya. Pantangan berbicara inilah yang sering dikatakan sebagai Topo Bisu alias tidak berbicara.

Topo Bisu ini menjadi ajang para peserta Lampah Budaya Mubeng Beteng untuk melakukan instropeksi diri perbuatan apa yang selama ini telah mereka lakukan selama setahun terakhir. Dan berjanji untuk memperbaiki di tahun-tahun mendatang untuk menjadi pribadi yang lebih baik di kemudian hari.

Kontributor : Julianto

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Berharap Berkah, Warga Berebut Air Bekas Jamasan Pusaka Pura Mangkunegaran

Berharap Berkah, Warga Berebut Air Bekas Jamasan Pusaka Pura Mangkunegaran

News | Minggu, 01 September 2019 | 08:43 WIB

Sambut 1 Sura, Tapa Bisu Di Pura Mangkunegara Diikuti Ratusan Orang

Sambut 1 Sura, Tapa Bisu Di Pura Mangkunegara Diikuti Ratusan Orang

Jawa Tengah | Sabtu, 31 Agustus 2019 | 22:45 WIB

1 Suro, Warga Jogja Keliling Benteng Sambil Membisu, Ini Maknanya

1 Suro, Warga Jogja Keliling Benteng Sambil Membisu, Ini Maknanya

Lifestyle | Selasa, 11 September 2018 | 21:00 WIB

Terkini

5 Moisturizer Wardah dengan Tekstur Gel yang Ringan dan Cepat Meresap

5 Moisturizer Wardah dengan Tekstur Gel yang Ringan dan Cepat Meresap

Lifestyle | Kamis, 14 Mei 2026 | 15:09 WIB

5 Liptint untuk Anak Sekolah yang Warnanya Natural dan Nyaman Dipakai

5 Liptint untuk Anak Sekolah yang Warnanya Natural dan Nyaman Dipakai

Lifestyle | Kamis, 14 Mei 2026 | 15:06 WIB

5 Moisturizer Lokal Alternatif La Mer The Moisturizing Soft Cream untuk Atasi Tanda Penuaan

5 Moisturizer Lokal Alternatif La Mer The Moisturizing Soft Cream untuk Atasi Tanda Penuaan

Lifestyle | Kamis, 14 Mei 2026 | 14:52 WIB

6 Rekomendasi Bedak Tabur Tahan Lama Meski Tanpa Foundation, Wajah Bebas Kilap

6 Rekomendasi Bedak Tabur Tahan Lama Meski Tanpa Foundation, Wajah Bebas Kilap

Lifestyle | Kamis, 14 Mei 2026 | 14:42 WIB

Achmad Syahri Assidiqi Lulusan Mana? Politisi Gerindra Asyik Merokok dan Main Gim saat Rapat

Achmad Syahri Assidiqi Lulusan Mana? Politisi Gerindra Asyik Merokok dan Main Gim saat Rapat

Lifestyle | Kamis, 14 Mei 2026 | 14:20 WIB

Moisturizer Viva Cocok untuk Kulit Apa? Ini Varian, Manfaat, dan Harganya

Moisturizer Viva Cocok untuk Kulit Apa? Ini Varian, Manfaat, dan Harganya

Lifestyle | Kamis, 14 Mei 2026 | 14:16 WIB

Umur dan Pendidikan Adela Kanasya, Anak Adies Kadir Dilantik Gantikan Ayahnya di DPR

Umur dan Pendidikan Adela Kanasya, Anak Adies Kadir Dilantik Gantikan Ayahnya di DPR

Lifestyle | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:57 WIB

Peneliti Ingatkan Target Konservasi Global 30x30 Perlu Utamakan Hak Masyarakat Lokal

Peneliti Ingatkan Target Konservasi Global 30x30 Perlu Utamakan Hak Masyarakat Lokal

Lifestyle | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:49 WIB

OIC Youth Capital Konya 2026 Resmi Dibuka, Astrid Nadya Rizqita Wakili Indonesia

OIC Youth Capital Konya 2026 Resmi Dibuka, Astrid Nadya Rizqita Wakili Indonesia

Lifestyle | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:47 WIB

Ferdy Sambo Kuliah S2 di Kampus Apa? Dapat Beasiswa, Bisa Kuliah dari Penjara

Ferdy Sambo Kuliah S2 di Kampus Apa? Dapat Beasiswa, Bisa Kuliah dari Penjara

Lifestyle | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:17 WIB