Pakar Jelaskan yang Disebut Murni Darah Indonesia, Apakah Agnez Mo Salah?

Ade Indra Kusuma

Rabu, 27 November 2019 | 12:15 WIB
Pakar Jelaskan yang Disebut Murni Darah Indonesia, Apakah Agnez Mo Salah?
Agnez Mo (ist)

Suara.com - Pakar Jelaskan yang Disebut Murni Darah Indonesia, Apakah Agnez Mo Salah?

Petikan pernyataan musisi terkenal Agnez Mo bahwa ia sama sekali tidak punya darah Indonesia menjadi viral dan menuai kritik tajam.

Saya sebenarnya tidak punya darah Indonesia sama sekali. Saya sebenarnya campuran Jerman, Jepang, dan Chinese (Tiongkok.red). Saya hanya lahir di Indonesia. Saya juga beragama Kristen, di Indonesia mayoritas adalah Muslim. Saya tidak bilang bahwa saya tidak berasal dari sana, karena saya merasa diterima. Tetapi saya merasa tidak seperti yang lain,” seru Agnez Mo saat Interview dengan Build Series by Yahoo, yang viral di media sosial sejak hari Selasa (26/11) dan memicu kontroversi di tanah air.

Mulai dari aktivis, netizen hingga sesama artis mengecam musisi berusia 33 tahun kelahiran Jakarta itu. Meskipun demikian tidak sedikit juga yang mendukungnya, bahkan tidak meragukan nasionalisme Agnez Mo.

Meski begitu Agnez Mo langsung memberikan klarifikasinya. Agnez Mo sendiri menyesalkan pemotongan wawancara berdurasi 27 menit itu.

“Why don’t you cut and edit this part? Shame on people who only want to spread hatred by twisting my words and my intention. All I said were good things, that even when I’m a MINORITY, I got to share this amazing diversity that I learn in my country. I have always shared that in ALL my interviews (national and international). I can’t choose my blood or my DNA, but I always STAND for…”

Lalu apakah pernyataan itu memang salah, atau salah karena disampaikan oleh seorang “public figure?”

Lalu Siapa sesungguhnya yang dapat disebut murni memiliki darah Indonesia?

Siapa Sebenarnya yang Disebut Orang Indonesia?

baca juga

Lepas dari kontroversi itu, menarik untuk mengungkap siapa sebenarnya yang disebut orang Indonesia? Apakah semata-mata dilihat dari keturunan, asal usul, pola migrasi hingga relasi kawin yang dapat diketahui dari data genetik DNA? Atau dari unsur non-genetik, seperti sejarah, etnografi, arkeologi, paparan lingkungan dan sebagainya.

Menurut Prof. Herawati Soepolo PhD, periset di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, yang kini kerap dipertanyakan adalah seberapa Indonesia seorang warga Indonesia?

‘’Jika melihat dari pernyataan Agnez Mo yang mengatakan ia memiliki campuran darah Tionghoa, Jepang dan Jerman, jelas memang kebetulan nenek moyang dia tidak ada yang misalnya berasal dari Jawa atau Sumatera atau Sulawesi. Jadi tidak ada yang salah dengan pernyataan itu karena sebelumnya sudah ada pernyataan bahwa ia berasal dari Indonesia yang sangat beragam dan betapa ia memang minoritas tetapi merasa diterima, meskipun ia merasa tidak seperti yang lain," jelas Prof Herawati.

Lebih jauh Prof Herawati menjelaskan betapa dari hasil analisa atas data genetik DNA sekitar tiga ribu orang Indonesia dari 13 pulau dan 80 komunitas, lalu membandingkannya dengan data non-genetik, tim di Eijkman selama beberapa tahun, akhirnya dapat menentukan sejarah keberadaan orang di 13 pulau besar di Indonesia, mulai dari waktu kedatangan, pola migrasi hingga relasi kawin.

Pakar jelaskan sejarah manusia Indonesia, klik next untuk artikel selanjutnya.

Sejumlah anak sedang bermain di sebuah air terjun sambil membawa bendera Merah Putih. [Shutterstock]
Sejumlah anak sedang bermain di sebuah air terjun sambil membawa bendera Merah Putih. [Shutterstock]

‘’Saya kan mempelajari apa yang disebut manusia Indonesia karena kita berbeda, kita negara kepulauan, negara maritim. Dulu, dengan sulitnya transportasi dan terisolasinya pulau-pulau dulu, membuat orang-orang yang berada di sana lebih nyaman tinggal di pulau mereka saja dan tidak pernah kemana-mana. Indonesia sendiri setelah diperiksa dengan DNA yang diturunkan dari ibu – yang berarti migrasi perempuan, dan DNA yang hanya diturunkan laki-laki kepada anak laki-lakinya – berarti migrasi laki-laki; menyatakan bahwa ada gelombang migrasi pertama ke kepulauan nusantara sekitar 50-60 ribu tahun lalu yang berasal dari Afrika, melalui dua rute : India Selatan dan sebagainya ke paparan Sunda karena Jawa-Kalimantan-Sulawesi masih jadi satu, dan rute lainnya lewat ke Nusa Tenggara hingga ke Australia,"

Prof Herawati melanjutkan, "Gelombang migrasi kedua sekitar 30-10 ribu tahun lalu datang dari Asia Tenggara Daratan, yang waktu itu masih jadi satu. Gelombang migrasi ketiga dari Taiwan, turun dari Tiongkok Daratan ke Filipina hingga ke nusantara dan masuk ke Madagaskar, Polinesia, dll dan membawa bahasa yang sekarang kita pakai. Gelombang migrasi terakhir adalah jaman sejarah, yaitu bagaimana pedagang-pedagang itu memberi kontribusi genetiknya kepada manusia Indonesia. Jadi apa “isi” orang Indonesia? Apakah kita hanya berasal dari satu gelombang migrasi saja, sehingga bisa mengatakan saya “murni” Cina Daratan, atau apa. Ternyata dari teknologi terbaru tidak demikian adanya,’’ ungkapnya.

Prof Herawati baru-baru ini mengadakan pameran ‘’Asal Usul Orang Indonesia’’ di Jakarta, mengatakan teknologi terbaru untuk mengetahui asal usul sesungguhnya itu tidak saja diperlukan untuk mempelajari struktur populasi di Indonesia, tetapi juga mempelajari pola penanganan penyakit.

‘’Struktur populasi di Indonesia diperlukan untuk penanganan penyakit. Lembaga Biologi Molekuler Eijkman khan memang bekerja dalam bidang kedoktera, jadi akhirnya memang ke soal itu. Kemudian menarik orang karena mereka jadi sadar dengan apa yang dimiliki," lanjutnya.

Orang Indonesia yang asal usulnya beragam, Ternyata sejak awal sangat toleran

Yang menarik juga, ujar Hera, penelitian itu membuktikan bahwa orang Indonesia yang asal usulnya beragam itu sejak awal merupakan sosok yang toleran.

“Pertanyaannya kan apakah mereka yang datang ke suatu pulau, lalu menggeser kelompok yang sudah lama ada, menimbulkan pertentangan, perpecahan dan perang? Ternyata tidak. Yang terjadi dan terbukti justru pembauran, peningkatan rasa toleran. Mereka justru kawin dan saling beradaptasi. Tetapi mengapa kini hal itu tidak terjadi dan muncul rasa intoleransi?"

"Itu jelas karena lingkungan. [Bukan genetikanya?] Sampai sekarang tidak ada bukti tentang itu. Semuanya dilahirkan murni, tetapi tergantung dari tempatnya. [Seperti anak baru lahir yang diibaratkan sebagai kertas putih ya Bu, tergantung bagaimana orangtua ingin mewarnainya?] Betul. Orangtua dalam konteks ini adalah lingkungannya," tegas Prof Herawati seperti mengutip VOAIndonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Agnez Mo Ngaku Tak Berdarah Indonesia, Jubir Jokowi Tanggapi Santai

Agnez Mo Ngaku Tak Berdarah Indonesia, Jubir Jokowi Tanggapi Santai

News | Rabu, 27 November 2019 | 10:40 WIB

Terpopuler: Agnez Mo Tak Berdarah Indonesia, Cut Tari Nikah Lagi

Terpopuler: Agnez Mo Tak Berdarah Indonesia, Cut Tari Nikah Lagi

Entertainment | Rabu, 27 November 2019 | 10:18 WIB

Warganet, Nih Bukti Kalau Agnes Monica Cinta Indonesia

Warganet, Nih Bukti Kalau Agnes Monica Cinta Indonesia

Entertainment | Rabu, 27 November 2019 | 09:35 WIB

Terkini

Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot

Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot

Bogor | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:39 WIB

Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral

Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral

Bogor | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:31 WIB

Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan

Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan

Bogor | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:14 WIB

Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan

Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan

Lifestyle | Kamis, 13 Agustus 2026 | 23:11 WIB

Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan

Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan

Jabar | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:52 WIB

BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan

BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan

Bri | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:43 WIB

Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel

Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel

Banten | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:35 WIB

Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak

Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak

News | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:29 WIB

Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi

Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi

Jawa Tengah | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:28 WIB

Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali

Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali

Jabar | Kamis, 13 Agustus 2026 | 22:26 WIB

×