Resensi Buku: Kartini, Kisah yang Tersembunyi

Vania Rossa Suara.Com
Selasa, 21 April 2020 | 08:35 WIB
Resensi Buku: Kartini, Kisah yang Tersembunyi
Kartini, Kisah yang Tersembunyi. (Serbada.com)

Suara.com - Resensi Buku: Kartini, Kisah yang Tersembunyi.

Hari ini, 21 April tepat pada tahun 1879, lahir seorang bayi perempuan yang kelak akan menjadi tokoh sosialis-feminis Indonesia.

Bayi bernama Kartini itu lahir di salah satu ruangan sederhana, di dalam lingkungan gedung mewah asisten wedana masa itu.

Lahir dari rahim seorang ibu bernama Ngasirah, Kartini pun tumbuh menjadi sosok pahlawan perempuan yang berjuang melalui sebuah jeruji suci bernama pingitan.

Dalam buku yang ditulis oleh Aguk Irawan MN dan diterbitkan oleh Javanica ini, diceritakan sosok ayah Kartini sebagai seorang bupati Jepara, bernama Raden Mas Adipati Aryo Sosroningrat (RMAA. Sosroningrat).

Di sini digambarkan Kartini kecil adalah sosok wanita periang dan memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Tak heran bila seiring berjalannya waktu, Kartini menjadi orang yang kritis dan berpikiran jauh ke depan.

Srintil – nama kecil Kartini – adalah satu-satunya perempuan masa itu yang dapat mengenyam pendidikan, meski sekadar sekolah dasar Belanda yang ada di daerahnya.

Keistimewaan ini tentulah berkat bantuan dari ayahnya yang mengizinkan putrinya pergi ke sekolah untuk belajar bersama teman-teman Eropanya.

Bagi Kartini, bersekolah adalah surga yang menjadikan dirinya cakap berbicara, menulis, dan berbahasa. Meski begitu, adat dan tradisi tetaplah sebuah prinsip kehidupan bangsa Jawa.

Baca Juga: Cara Makan Ayam yang Benar, Buku Ini Malah Bikin Netizen Meradang

Setelah sekolah dasar, Kartini yang berniat pergi ke Eropa untuk melanjutkan studinya, mendapat tentangan dari sang ayah.

“Tidak boleh!”

Akhirnya, dalam ruang persegi di salah satu sudut rumah mewah ayahnya, Kartini menghabiskan masa remajanya dengan bermuram durja.

Tak ada kebebasan baginya, meski lingkungan rumahnya terbilang luas dan Kartini bebas berkeliaran, asal tak beranjak keluar dari dinding yang membatasi rumah dengan dunia luar.

Namun bagi Kartini, kebebasan bukanlah berapa luas ia mampu melangkah, tetapi kebebasan adalah berapa luas ia mampu berpikir dan bersosialisasi dengan dunia luar sana.

Tapi, adat tak bisa dibantahkan. Dari balik jeruji bernama pingitan itu, Kartini menghiasi hari-harinya dengan membaca dan terus membaca.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 15 Soal Matematika Kelas 9 SMP dan Kunci Jawaban Aljabar-Geometri
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI