Dulu Jadi Asisten Pribadi, Wanita Ini Ungkap Kekejaman Putri Kerajaan Saudi

Yasinta Rahmawati | Amertiya Saraswati
Dulu Jadi Asisten Pribadi, Wanita Ini Ungkap Kekejaman Putri Kerajaan Saudi
Ilustrasi (Pixabay/FOTOKALDE)

Lewat kisahnya, mantan asisten pribadi ini membagikan kondisi kerjanya yang tak manusiawi.

Suara.com - Seorang mantan asisten pribadi yang bekerja untuk putri kerajaan Arab Saudi belum lama ini membagikan pengalamannya. Meski dibayar mahal, wanita ini mengaku tidak betah dan keluar setelah 3 bulan bekerja.

Dilansir Daily Mail dari The Times, Catherine Coleman awalnya mendaftar untuk posisi asisten pribadi karena tergoda bayaran yang mahal serta ingin mendapat pengalaman baru.

Namun, di luar dugaan, Catherine malah harus menyaksikan sikap buruk dan kekejaman Putri Arab Saudi selama tiga bulan bekerja.

Menurut Catherine, sang putri yang tidak disebutkan namanya ini kerap menghukum para pelayannya secara fisik dan menyebut mereka sebagai binatang.

Bahkan, Catherine sendiri sempat diminta sang putri untuk membantu mendisiplinkan para pelayan yang dianggap melanggar aturan.

Istana Kerajaan Arab Saudi. [Shutterstock]
Istana Kerajaan Arab Saudi. [Shutterstock]

Aturan yang diterapkan putri kerajaan Saudi itu sendiri dianggapnya tidak wajar. Bagaimana tidak, Catherine harus menghafalkan protokol sepanjang empat halaman.

Beberapa aturan tersebut di antaranya adalah dilarang membantah keluarga kerajaan, dilarang memunggungi mereka, dilarang menjalin hubungan intim, dan dilarang menjalin pertemanan dengan staf lain.

Catherine juga harus bekerja hingga pukul 4 pagi. Kemudian, dirinya juga pernah diminta membersihkan kamar mandi dan mencuci setumpuk pakaian dengan tangan.

Namun, yang lebih mengejutkan Catherine adalah dirinya diperlihatkan foto-foto pelayan yang mengalami luka fisik karena dihukum sang putri.

Salah satunya adalah seorang pelayan yang dihukum dengan cara disiram air es dan diminta berdiri di luar saat musim dingin.

Sementara, pelayan lain terlihat memiliki memar karena ditendang sang putri. Namun, pelayan ini juga dipaksa menerima perhiasan sebagai tanda bahwa dirinya sudah memaafkan sang putri.

Ilustrasi Asisten Pribadi (Pixabay/angeljana_)
Ilustrasi Asisten Pribadi (Pixabay/angeljana_)

Setelah tiga bulan bekerja, Catherine pun mengaku tidak tahan lagi. Dirinya juga menolak mendisiplinkan pelayan seperti permintaan sang putri.

"Alih-alih merusak barang mereka seperti instruksi putri Saudi, aku merapikan barang mereka di kasur. Tiba-tiba saja kemarahan sang putri tertuju padaku."

Dari sana, Catherine pun menuntut ingin keluar dari pekerjaannya. Namun, Catherine juga tidak bisa meninggalkan Arab Saudi tanpa izin sang putri.

Tak hanya itu, dirinya juga dihadapkan dengan penalti sebesar USD 4.000 atau sekitar 59,4 juta rupiah.

Untunglah Catherine tidak kehabisan akal. Dirinya pun mengancam akan mengadu kepada Pangeran Saudi yang merupakan pelindung laki-laki Catherine selama bekerja di sana.

Pada akhirnya, Catherine pun diizinkan keluar dan mendapatkan izin untuk pulang ke negaranya sendiri.

"Mengucapkan selamat tinggal kepada para staf lain, mengetahui bahwa mereka tidak bisa kabur, adalah hal tersulit yang harus kulakukan. Tapi aku harus pergi, untuk kesehatan mentalku dan untuk bertahan hidup."

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS