Jadi Salah Satu Bentuk Apresiasi, Ini Sejarah Tepuk Tangan

Vania Rossa

Selasa, 15 Desember 2020 | 08:33 WIB
Jadi Salah Satu Bentuk Apresiasi, Ini Sejarah Tepuk Tangan
Ilustrasi tepuk tangan. [Shutterstock]

Suara.com - Tepuk tangan merupakan suatu bentuk apresiasi terhadap sesuatu. Biasanya tepuk tangan diberikan kepada seseorang yang baru saja menunjukkan karyanya. Di sisi lain, tepuk tangan juga dapat disimbolkan sebagai bentuk dukungan.

Seseorang yang mendapat tepuk tangan akan merasa dirinya diapresiasi karena apa yang telah dilakukannya. Namun ketika orang itu gaga sekalipun, tepuk tangan dapat menjadi pemicu semangat. Namun, tahukah kamu sejak kapan tepuk tangan ditunjukkan sebagai bentuk apresiasi?

Dilansir dari laman Todayifoundout, pemikiran bertepuk tangan untuk menunjukkan penghargaan berawal dari perilaku yang dipelajari. Misalnya, pada bayi, awalnya ia akan bertepuk tangan pada usia sekitar satu tahun.

Namun, bayi bertepuk tangan dengan sendirinya tanpa dorongan orangtua. Hal itu ditandakan atas respon bayi terhadap suara yang dihasilkan oleh tangannya. Dari hal tersebut terdapat pemikiran orangtua untuk mengajari mereka menggunakan gerakan tepuk tangan sebagai tanda antuasiasme.

Profesor Bella Itkin dari Sekolah Teater Universitas DePaul memiliki teori bahwa tepuk tangan berasal dari kegiatan di sekitar api unggun. Biasanya kegiatan tersebut terdapat acara menabuh dan menghentakkan kaki yang juga diiringi tepuk tangan.

Selain itu, dikatakan juga bahwa tepuk tangan berasal dari Yunani Kuno. Pada masa itu, mereka memiliki penonton yang ramai. Namun, hal ini tergantung pada suasana hati penonton dan kualitas pertunjukan. Penonton Yunani Kuno tidak segan melempar batu dan makanan ke artis yang tidak mereka sukai. Namun sebaliknya, ketika mereka senang atau antusias dengan pertunjukan, mereka akan menunjukkan perasaan dengan berteriak, menghentakkan kaki, dan apapun yang menimbulkan kebisingan sebanyak mungkin. Akhirnya, disimpulkan bahwa membuat suara merupakan bentuk apresiasi, seperti berteriak, berisul, serta tepuk tangan.

Terdapat referensi lain mengenai tepuk tangan, yaitu oleh Republik Romawi. Seorang pemain drama Romawi abad ke-3 SM yang terkenal, Plautus, sering memasukkan arahan dalam dramanya yang meminta salah satu aktor untuk melangkah maju setelah pidato terakhir untuk mengatakan "Valete et plaudite!". Kalimat latin tersebut berati “Selamat tinggal dan tepuk tangan”.

Sama halnya dengan Yunani, penonton Romawi juga akan memberikan suara riuh ketika melihat sebuah pertunjukkan. Namun, mereka tidak segan untuk memberikan reaksi negatif jika pertunjukannya tidak bagus.

Secara historis, penonton selalu didorong untuk mengekspresikan antusiasme berupa apresiasi ataupun reaksi negatif mereka dalam pertunjukan dengan cara tertentu.

Bagaimanapun, sejak pertama kali ditetapkan sebagai norma oleh orang Romawi Kuno, tepuk tangan sebagai tanda persetujuan telah menjadi fenomena yang sangat bertahan di banyak budaya manusia hingga saat ini. Hal itu sebagai bentuk apresiasi terhadap permainan, pidato, dan konser.

Namun, tepuk tangan tidak bisa dilakukan dalam semua kondisi. Misalnya, bertepuk tangan selama pertunjukan orkestra hari ini dianggap sangat tidak sopan.

Namun, komposer seperti Beethoven dan Mozart mengatakan, penonton akan memberikan reaksi tepuk tangan terhadap suatu pertunjukan yang dinilainya sulit dan mengesankan.

Misalnya, dalam sebuah surat kepada ayahnya pada 1778, Mozart mencatat kesenangannya pada penonton yang sering menyela pertunjukan dengan tepuk tangan.

Hal yang sama juga dikatakan pianis abad ke-19, Franz Liszt. Biasanya dalam pertunjukkan konser, penonton akan benar-benar hening. Namun, pada konsernya, penonton akan sangat ramai. Hal itu membuatnya senang karena merasa diapresiasi.

Praktik tepuk tangan selama pertunjukan klasik semacam itu sebagian besar telah mati pada akhir abad ke-19, sekitar waktu yang sama munculnya penonton pasif dalam berbagai jenis pertunjukan. Setelah itu, banyak komposer mulai menciptakan karya tanpa jeda untuk mencegah tepuk tangan.

Salah satunya adalah komposer Richard Wagner, ia tercatat sebagai salah satu individu yang berkontribusi untuk menghentikan tepuk tangan spontan. Ia mengimbau penonton secara langsung untuk tidak bersorak sampai akhir. (Fajar Ramadhan)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tepuk Tangan 56 Detik, Dukungan untuk Tenaga Kesehatan Covid-19

Tepuk Tangan 56 Detik, Dukungan untuk Tenaga Kesehatan Covid-19

Foto | Kamis, 12 November 2020 | 13:55 WIB

Pertama Kalinya, Anjing Laut Terekam Bertepuk Tangan di Dalam Air

Pertama Kalinya, Anjing Laut Terekam Bertepuk Tangan di Dalam Air

Tekno | Rabu, 05 Februari 2020 | 10:49 WIB

Lho, Lihat Pemotor Terjatuh, Pria Ini Malah Beri Tepuk Tangan

Lho, Lihat Pemotor Terjatuh, Pria Ini Malah Beri Tepuk Tangan

Otomotif | Jum'at, 05 Juli 2019 | 12:35 WIB

Terkini

Cara Beli Paket MAXStream TV untuk Menonton Piala Dunia 2026

Cara Beli Paket MAXStream TV untuk Menonton Piala Dunia 2026

Lifestyle | Jum'at, 12 Juni 2026 | 10:56 WIB

Daftar Siaran Resmi Piala Dunia 2026 di Indonesia, Bisa Nonton Gratis di TV dan Streaming

Daftar Siaran Resmi Piala Dunia 2026 di Indonesia, Bisa Nonton Gratis di TV dan Streaming

Lifestyle | Jum'at, 12 Juni 2026 | 10:48 WIB

Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik

Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik

Lifestyle | Jum'at, 12 Juni 2026 | 10:03 WIB

Ratusan Lentera Bercahaya Hiasi Malam Jakarta, Jadi Pilihan Wisata Unik untuk Liburan

Ratusan Lentera Bercahaya Hiasi Malam Jakarta, Jadi Pilihan Wisata Unik untuk Liburan

Lifestyle | Jum'at, 12 Juni 2026 | 09:57 WIB

Hoki Besar Datang! 4 Shio Ini Diprediksi Panen Rezeki dan Kabar Baik Mulai 12 Juni 2026

Hoki Besar Datang! 4 Shio Ini Diprediksi Panen Rezeki dan Kabar Baik Mulai 12 Juni 2026

Lifestyle | Jum'at, 12 Juni 2026 | 08:50 WIB

Trik Duet Cushion dan Bedak Tabur agar Complexion Bebas Dempul dan Anti-Geser

Trik Duet Cushion dan Bedak Tabur agar Complexion Bebas Dempul dan Anti-Geser

Lifestyle | Jum'at, 12 Juni 2026 | 08:27 WIB

Dompet Hitam Benarkah Paling Mendatangkan Rezeki? Ini Maknanya Menurut Feng Shui

Dompet Hitam Benarkah Paling Mendatangkan Rezeki? Ini Maknanya Menurut Feng Shui

Lifestyle | Jum'at, 12 Juni 2026 | 07:58 WIB

4 Shio yang Hoki 12 Juni 2026, Segalanya Diprediksi Berjalan Lancar

4 Shio yang Hoki 12 Juni 2026, Segalanya Diprediksi Berjalan Lancar

Lifestyle | Jum'at, 12 Juni 2026 | 07:35 WIB

4 Rekomendasi Micellar Water Oil di Shopee, Terbukti Aman untuk Kulit Sensitif dan Berminyak

4 Rekomendasi Micellar Water Oil di Shopee, Terbukti Aman untuk Kulit Sensitif dan Berminyak

Lifestyle | Jum'at, 12 Juni 2026 | 07:15 WIB

4 Zodiak Paling Beruntung pada 12 Juni 2026, Rezeki dan Peluang Emas Menanti

4 Zodiak Paling Beruntung pada 12 Juni 2026, Rezeki dan Peluang Emas Menanti

Lifestyle | Jum'at, 12 Juni 2026 | 07:03 WIB