Array

Semangat Atasi Perubahan Iklim, Simak Sepak Terjang 5 Inspirator Muda Ini

Vania Rossa Suara.Com
Senin, 14 Juni 2021 | 17:37 WIB
Semangat Atasi Perubahan Iklim, Simak Sepak Terjang 5 Inspirator Muda Ini
Ilustrasi perubahan iklim. [Shutterstock]

“Saya percaya, media populer bisa lebih mudah menjangkau anak muda. Seberapa efektif persisnya, saya kurang tahu. Tapi, bercermin dari pengalaman saya pribadi, saya sangat terpengaruh oleh apa yang saya dengar (musik) dan saya tonton (film). Saya yakin, ada orang-orang di luar sana yang sama seperti saya,” kata Robi.

Robi bercerita, ia menjadi petani kopi karena kebetulan lahir di keluarga petani dan punya lahan. Ia meneruskan dan melestarikan budaya ini karena menurutnya hal-hal ini merupakan suatu ‘kemewahan’. Ia tidak fokus berusaha membujuk publik untuk ikut menjadi petani.

“Saya lebih tertarik untuk memberi contoh kepada orang-orang sekitar. Be simple, be sample. Kenapa organik? Karena, selaras alam. Selaras alam adalah meniru cara alam bekerja secara alami. Hasilnya bukan cuma bagus untuk saya pribadi dan keluarga, tapi untuk semua, termasuk ekosistem dan masa depan. Saya percaya, jika ada orang lain yang ikut melihat ini sebagai suatu ‘kemewahan’ dan sesuatu yang ‘keren’, niscaya mereka akan berusaha sendiri untuk mewujudkannya,” kata Robi, yang sempat berprofesi sebagai pengajar pertanian organik di beberapa sekolah.

Kynan Tegar (Filmmaker, Fotografer)

Kynan Tegar . (Youth Virtual Conference 2021)
Kynan Tegar . (Youth Virtual Conference 2021)

Pemuda adat sekaligus siswa homeschooling berusia 16 tahun ini tak menyangka bisa mendapat kesempatan langka untuk bicara di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim Pemuda PBB pada September 2019. Di depan ratusan orang muda yang punya kepedulian tentang masyarakat adat, Kynan berbagi kisah tentang budaya dan kearifan lokal masyarakat adat Dayak Iban yang tinggal di Sungai Utik, Kalimantan Barat. Film dokumenter pertamanya yang berjudul Maali Umai juga diputar pada acara Bali International Indigenous Festival 2019.

Melalui bidikan kamera dan film dokumenter yang dibuatnya, Kynan memperlihatkan tradisi dan ritual yang diwariskan oleh leluhurnya dalam menjaga alam.

“Tanah ini adalah ibu kami, hutan ini adalah bapak kami, sungai ini adalah darah kami. Kalau ada orang mencemari sungai, artinya ia juga mencemari darah kami. Saya sangat mengagumi berbagai nilai kehidupan luhur yang terus dipertahankan oleh masyarakat adat kami. Kami berburu rusa dan babi hutan sebagai bahan makanan, kami mengambil kayu dari hutan, dan mendapatkan air bersih dari sungai. Tapi, kami ambil secukupnya saja, tidak berlebihan, agar ekosistem tetap terjaga. Inilah salah satu value yang kami pegang teguh dalam memelihara alam yang menjadi sumber kehidupan kami,” kata Kynan, yang ingin mengubah mindset orang yang menganggap bahwa masyarakat adat adalah komunitas yang terbelakang.

Kynan yang sangat fasih berbahasa Inggris ingin terus berbagi kepada dunia tentang masyarakat adat melalui film dokumenter. Menurutnya, semakin ke sini, menjaga kampungnya dari penebangan hutan dan pembukaan lahan untuk kelapa sawit semakin sulit, karena dibukanya kesempatan bagi investor untuk masuk ke Indonesia.

Alfira ‘Abex’ Naftaly (Eco Traveler dan Travel Blogger)

Alfira ‘Abex’ Naftaly. (Youth Virtual Conference 2021)
Alfira ‘Abex’ Naftaly. (Youth Virtual Conference 2021)

Kecintaan Abex terhadap lingkungan ditunjukkannya dengan menjelajah alam dan mendaki gunung. Tak hanya mendaki gunung-gunung tertinggi di Indonesia, ia juga bertualang ke negeri lain, termasuk trekking di Himalaya. Kala menjalani berbagai petualangan tersebut ia melihat dampak besar aktivitas traveling terhadap lingkungan, termasuk masalah sampah. Karena itu, Abex mencoba menggugah dan memberi pemahaman tentang pentingnya menjaga bumi selagi traveling, salah satunya dengan menyematkan pesan cinta lingkungan pada tulisan di blog-nya.

“Mencintai lingkungan sering kali identik dengan ribet. Padahal, tidak. Kita hanya perlu mengubah mindset, melakukan suatu hal baru untuk menjadi kebiasaan baru. Kalau kita melihatnya sebagai sesuatu yang sulit, jadinya akan sulit. Tapi, kalau kita bergerak, kita akan terus mencoba mencari solusi saat terbentur masalah. Jika ingin membuat perubahan besar, mulailah dari satu langkah perubahan kecil. Tidak perlu menjadi eco traveler untuk menjaga lingkungan. Pikirkan dampaknya bagi kehidupan anak-cucu kita,” kata Abex, yang saat Youth Virtual Conference mendapatkan gagasan dari peserta untuk mengubah kaos tak terpakai menjadi lap atau saputangan sebagai pengganti tisu.

Baca Juga: Bertemu Dubes Denmark, Moeldoko: Komitmen Presiden Sangat Kuat pada Isu Perubahan Iklim

Abex menilai, kita tidak bisa mengubah orang lain untuk bertindak sesuai dengan harapan kita, misalnya tidak membuang sampah sembarangan. Tapi, kita bisa memengaruhi orang lain dengan aksi yang kita lakukan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI