alexametrics

Masih Terpantau Ramai saat Pandemi, Mengenal Sejarah Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo

Arendya Nariswari
Masih Terpantau Ramai saat Pandemi, Mengenal Sejarah Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo
Pandemi Tak Menghalangi Berlangsungnya Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo. (Instagram/@cetul22.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Ritual Yadnya Kasada kali ini diselenggarakan secara tertutup untuk para wisatawan.

Suara.com - Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada 2021 ini perayaan Ritual Kasada terpantau lebih sepi. Guna mengantisipasi penyebaran Covid-19, Ritual Kasada hanya dikhususkan untuk warga Suku Tengger saja.

Kendati demikian, dari foto serta video yang diunggah ke berbagai media sosial, Ritual Kasada, Sabtu (26/6/2021) di kawah Gunung Bromo tetap tampak ramai.

Namun yang berbeda kali ini, Ritual Yadnya Kasada dilaksanakan secara tertutup untuk para wisatawan.

Biasanya Ritual Yadnya Kasada menjadi daya tarik tersendiri bagi hadirnya ribuan wisatawan di Gunung Bromo.

Baca Juga: Tertutup untuk Umum, PHDI Siagakan 'Jaga Baya' Amankan Upacara Yadnya Kasada Tengger

Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo. (Instagram/@cetul.22)
Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo. (Instagram/@cetul.22)

Ritual Yadnya Kasada di tengah pandemi tentu menjadi berbeda. Beberapa warga sekitar Gunung Bromo tampak memakai masker sembari menjaring hasil bumi yang dilemparkan.

Ritual Yadnya Kasada sendiri merupakan upacara tradisional Hindu Tengger yang dilaksanakan setiap bulan Kasada hari ke-14.

Pada ritual itu, Suku Tengger akan melarung aneka persembahan atau sesaji berupa hasil tanik, ternak hingga makanan sebagai persembahan untuk Dewa Brahma.

Hal ini juga menjadi wujud rasa syukur kepada Sang Hyang Widi sekaligus meminta berkah dan minta untuk dijauhkan dari malapetaka.

Perayaan Yadnya Kasada sendiri asal usulnya didasarkan pada legenda kuno Roro Anteng dan Joko Seger.

Baca Juga: Bukan Cuma Kasada, Ritual Adat di Bromo Ini Juga Menarik Kamu Dinikmati

Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo. (Instagram/@cetul.22)
Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo. (Instagram/@cetul.22)

Ketika kerajaan Majapahit jatuh, pasangan itu berlindung di lereng atas Gunung Bromo. Bertahun-tahun menikah, keduanya belum dikaruniai momongan.

Hingga akhirnya mereka berdua bersemedi di Bromo dan memohon bantuan dewa gunung. Akhirnya para dewa memberikan 24 anak kepada keduanya.

Namun dengan syarat, kelak anak ke-25 harus dibuang ke gunung berapi sebagai wujud pengorbanan manusia.

Pada akhirnya tradisi mempersembahkan korban demi menenangkan para dewa dipatuhi dan berlanjut.

Perbedaanya, kekinian tradisi terus berlanjut tanpa pengorbanan manusia melainkan hasil ternak seperti kambing ayam atau sayuran sebagai gantinya.

Komentar