Hari Bebas Kendaraan Bermotor Sedunia, Pakar Ingatkan Dampak Polusi untuk Lingkungan

M. Reza Sulaiman Suara.Com
Rabu, 22 September 2021 | 18:48 WIB
Hari Bebas Kendaraan Bermotor Sedunia, Pakar Ingatkan Dampak Polusi untuk Lingkungan
Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat menggelar uji emisi kendaraan di kawasan Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta, Selasa (16/5).

Suara.com - Hari Bebas Kendaraan Bermotor Sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 September menjadi momen tepat untuk mengingat dampak buruk polusi udara untuk lingkungan.

Pada awal-awal terjadinya pandemi, kualitas udara di sejumlah kota di dunia termasuk Jakarta sempat berangsur membaik, karena adanya pembatasan ketat dan lockdown, memaksa sebagian besar masyarakat hanya boleh beraktivitas di rumah.

Untuk itulah, pakar lingkungan dari Universitas Indonesia (UI) Mahawan Karuniasa menyebut Hari Bebas Kendaraan Bermotor Sedunia dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran semua pihak tentang keterkaitannya dengan upaya mengurangi polusi udara dan emisi karbon.

"Penting dalam arti memberikan kesadaran, mengingatkan semua pihak, masyarakat, pemerintah dan pihak lain bahwa persoalan kendaraan itu khususnya transportasi berimplikasi pada kualitas udara dan kondisi atmosfer kita," kata Mahawan ketika melansir ANTARA.

Ilustrasi polusi udara. (Elements Envato)
Ilustrasi polusi udara. (Elements Envato)

Hari yang diperingati setiap 22 September itu, katanya, dapat menjadi momentum untuk selalu mengingatkan semua pihak bahwa hal-hal yang sederhana tapi jika dilakukan oleh banyak orang akan berimplikasi kepada lingkungan, termasuk perubahan iklim yang tengah dihadapi dunia saat ini.

Dia menjelaskan bahwa konsumsi energi saat ini sebagian besar masih bergantung kepada minyak dengan transportasi menjadi salah satu sumber emisi karbon dalam sektor energi.

"Sehingga membangun kesadaran itu menjadi penting khususnya terkait dengan emisi kita yang pada dekade ini itu sumber emisi kita akan menjadi dominan dari sektor energi termasuk di dalamnya transportasi," kata Mahawan, yang juga menjadi Ketua Umum Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIKI).

Dia menyebut masih ada pekerjaan rumah dalam usaha mengurangi emisi dan polusi udara dari transportasi dengan opsi kendaraan listrik dan transportasi masal menjadi salah satu solusi.

Kondisi COVID-19 saat ini, katanya, dengan meningkatnya intensitas penggunaan sepeda atau berjalan kaki juga dapat menjadi momentum untuk mengurangi penggunaan transportasi yang hanya bisa digunakan sedikit individu.

Baca Juga: 4 Cara Menjadi Pemimpin yang Disegani, Harus Berani Menegur!

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Jenis Motor Favorit untuk Tahu Gaya Pertemanan Kamu di Jalanan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Gibran Rakabuming Raka?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI