alexametrics

Tangkap Peluang Baru di 2022, UMKM Harus Siapkan Strategi Jitu Ini!

Risna Halidi | Dinda Rachmawati
Tangkap Peluang Baru di 2022, UMKM Harus Siapkan Strategi Jitu Ini!
Tantangan UMKM di tahun 2022 (Dok. ist)

Menurut Nina, tantangan UMKM yang menyulitkan naik kelas, diantaranya ialah minimnya modal usaha, ketidaktahuan cara membesarkan bisnis, kurangnya inovasi produk.

Suara.com - Tahun depan diharapkan menjadi awal yang baik bagi para pelaku bisnis, termasuk UMKM untuk menjalankan kembali roda perekonomian yang sempat terhenti karena pandemi Covid-19.

Sebagai seorang desainer busana muslim, Nina Nugroho mengungkap sejumlah tantangan yang dihadapi selama kondisi pandemi 2020-2021, hingga berdampak pada eksistensi pelaku UMKM, karena lebih dari 90 persen masih berskala mikro.

“Mereka menjalankan usaha masih skala rumah tangga, sehingga belum memiliki rantai pasok yang berkelanjutan dan barang yang diproduksi yang hampir sama dengan produk UMKM lain. Akibatnya, terjadi perang harga yang berujung kepada tidak sehatnya persaingan," papar Nina dalam webinar bertajuk UMKM Berdaya: ‘Peluang dan Strategi Kebangkitan UMKM 2022’ yang digelar Gerakan #akuberdaya dan Evapora, belum lama ini.

Selain itu, menurut Nina, tantangan lain UMKM yang menyulitkan naik kelas, diantaranya ialah minimnya modal usaha, ketidaktahuan cara membesarkan bisnis, kurangnya inovasi produk, persoalan distribusi barang, minimnya pengetahuan pengenai pemasaran online, branding, tidak memiliki mentor hingga ijin usaha.

Baca Juga: Momen Kahiyang Ayu Perkenalkan Kuliner Medan ke TP PKK Kampar

"Dengan webinar ini saya berharap para pelaku UMKM dapat melihat peluang-peluang yang terbuka lebar di tahun 2022, sehingga mereka dapat menyusun strategi untuk pulih dan meroket,” jelas Nina.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Staf ahli ekonomi makro Kementrian Koperasi dan UKM, Rully Nuryanto mengungkap, diperlukan kesiapan yang baik dari para pelaku UMKM, salah satunya adalah siap untuk 'go digital'.

Dari hasil survey World Bank (2021), kata dia disebutkan UMKM yang terhubung ke dalam ekosistem digital pada masa pandemi Covid-19, justru memiliki daya tahan yang lebih baik dalam menghadapi tantangan saat ini.

"80 persen UMKM menjadikan momentum pandemi Covid-19 sebagai pemicu untuk melakukan perubahan perilaku ke arah digital,” ujarnya.

Terlebih kata dia, dari data yang diterima pihaknya, selama pandemi Covid-19 di Indonesia transaksi di e-commerce meningkat sebesar 54 persen atau lebih dari 3 juta transaksi per hari, serta ekonomi digital Indonesia berpotensi senilai 124 juta US Dollar atau kurang lebih Rp1.700 triliun pada 2025.

Baca Juga: 2 Tahun Pandemi COVID-19, Benua Afrika Masih Alami Diskriminasi Terkait Vaksin

Sementara, ada 37 persen pengguna jasa internet baru, 93 persen konsumen akan tetap memanfaatkan digital, dengan rataan 4,3 - 4,7 jam penggunaan online per hari. Ditambahkan Rully lagi, saat ini setidaknya 25,6 persen UMKM hadir pada ekosistem digital atau sekitar 16,4 juta pelaku usaha. Pertumbuhan yang sangat cepat dibanding tahun 2020 lalu masih di angka 13 persen.

“Karena itu, perlu ada pendekatan ekosistem mencakup proses bisnis dari hulu ke hilir atau end to end digital transformation dan pendampingan bagi Koperasi dan UMKM Indonesia agar dapat mengoptimalkan sepenuhnya platform digital,” ujar Rully.

Hal senada juga diungkapkan Pakar Inovasi sekaligus Youtuber Dr. Indrawan Nugroho, bahwa tahun 2022 adalah tahun peluang bagi UMKM. Namun peluang tersebut tidak akan membawa pengaruh baik, jika mereka tidak memiliki strategi untuk menangkap peluang tersebut.

“Kalau pun ada yang menangkapnya, cara menjalankan bisnisnya tidak
jauh beda dengan bisnis sebelumnya. Akhirnya peluangnya jadi tidak tertangkap,” jelas Indrawan.

Indrawan pun membagi 3 peluang dan 3 strategi yang dapat ditempuh pelaku UMKM, yang pertama yaitu, cari tahu apa yang diinginkan pelanggan.

“Dari riset Mc Kinsey, 75 persen pelanggan telah mengubah perilaku cara berbelanjanya. Mereka kini mulai melakukan uji coba brand baru, punya pertimbangan baru berbelanja di tempat baru, mencoba metode berbelanja. Lantas bagaimana menjaga pelanggan? Kuncinya ikuti pelanggan anda,” papar Indrawan.

Kedua adalah adopsi teknologi digital. Masih menurut riset Mc Kinsey, masyarakat di Asia Pasific telah mengadopsi platform digital 3 tahun lebih cepat dibanding masyarakat di Eropa dan secara global.

“Jadi pelaku usaha beralih ke separuh digital. Karena memang tidak semua layanan-layanan bisa dilakukan secara digital. Contoh; pelayanan pijat, pedagang baso. Jadi menawarkannya melalui platform digital, tapi jasa pijatnya kan nggak mungkin bisa virtual, begitu juga kalau mau makan baso, harus langsung. Penawaran produk secara digital ini maju 10 tahun lebih cepat. Karena prediksinya baru akan tercapai di tahun 2035,”ujar Indrawan.

Dikatakan Indrawan lagi, bagi UMKM yang ingin mengadopsi teknologi digital ini, sementara tidak perlu dituntut secara keseluruhan.

“Nggak perlu canggih-canggih amat. Apakah jualan di market place, oke. Layanannya sudah seluruh Indonesia, iya. Laporan keuangannya sudah dengan aplikasi tertentu apa belum? Kalau masih ada beberapa yang belum digital, ya tidak masalah,” ujar Indrawan.

Terakhir adalah jangan lupa turun ke lapangan, bicaralah dengan pelanggan Anda. Tanyakan kenapa mereka masih bertahan dengan produk Anda, ulik sampai dalam sehingga Amda mendapatkan jawaban yang sebenarnya.

"Jangan mudah puas dengan jawaban yang membuat Anda melambung,” tutup Indrawan.

Komentar