facebook

Cerita Malin Kundang, Dongeng Anak Durhaka Dikutuk Ibunya Menjadi Batu

Rima Sekarani Imamun Nissa
Cerita Malin Kundang, Dongeng Anak Durhaka Dikutuk Ibunya Menjadi Batu
Batu Malin Kundang (Instagram/minangtourism)

Pernah dengar cerita Malin Kundang? Dongeng ini berkisah tentangseorang anak yang dikutuk menjadi batu oleh ibunya sendiri.

Suara.com - Malin Kundang merupakan dongeng melegenda yang berasal dari provinsi Sumatera Barat. Cerita Malin Kundang berkisah tentang seorang anak durhaka pada ibunya hingga akhirnya dikutuk menjadi batu.

Konon, batu Malin Kundang benar-benar ada di Sumatera Barat, tepatnya di objek wisata Pantai Air Manis, Padang, Sumatera Barat. Mau mendengar dongeng Malin Kundang? Yuk, simak artikel berikut.

Malin hidup bersama Ibunya yang merupakan seorang janda, Mande Rubayah

Zaman dahulu, diceritakan seorang janda bernama Mande Rubayah yang tinggal di perkampungan nelayan Pantai Air Manis bersama anak laki-lakinya, Malin Kundang.

Baca Juga: 6 Manfaat Mendongeng untuk Anak, Termasuk Melatih Perkembangan Emosional Mereka

Mande Rubayah membesarkan Malin seorang diri dengan sangat baik hingga anaknya menjadi pribadi yang rajin dan penurut. Meski usianya sudah tua, Mande tetap mati-matian menjaga Malin, terutama ketika putra semata wayangnya itu sempat sakit keras.

Musikal di rumah aja Malin Kundang (Dok. Indonesia Kaya)
Musikal di rumah aja Malin Kundang (Dok. Indonesia Kaya)

Malin yang merantau saat dewasa

Ketika tumbuh dewasa, Malin meminta izin untuk merantau karena kebetulan ada kapal besar yang singgah di tempat tinggalnya. Awalnya, sang ibu tidak mengizinkan karena khawatir sesuatu terjadi pada putra semata wayangnya.

Namun, Malin terus meyakinkan ibunya bahwa ia ingin mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik. Alhasil, Mande Rubayah pun luluh dan mengizinkan Malin pergi dengan bekal nasi bungkus dan tujuh buah pisang.

Sejak saat itu, Mande Rubayah tidak pernah lalai dalam mendoakan Malin dan selalu menunggu kepulangan si anak di tepi pantai. Sayangnya, setelah sekian lama, kabar dari kepulangan Malin belum juga muncul meski telah bertanya pada awak kapal yang ada.

Baca Juga: Ulasan Buku Dongeng Pendek tentang Kota-kota dalam Kepala, Waspadai Mulut!

Malin kembali dari perantauan

Setelah penantian panjang, akhirnya Mande Rubayah mendapat kabar bahwa Malin telah menikah dengan wanita cantik yang kaya raya. Mande pun turut bahagia meski tidak mendengar kabar tersebut secara langsung dari anaknya.

Beberapa hari kemudian, penduduk desa dikejutkan dengan kedatangan kapal megah yang membuat mereka terkagum-kagum.

Dari kapal itu, terlihat sepasang suami istri dengan pakaian mewah yang tidak lain adalah Malin. Mande yang melihatnya pun menghampirinya dengan penuh rasa rindu dan langsung memeluk anaknya.

Malin tidak mengakui ibunya

Malin seketika terkejut saat melihat wanita dengan pakaian compang-camping memeluknya. Dia semakin panik saat istrinya berkata bahwa Malin pembohong karena berkata ibunya memiliki derajat yang sama dengannya.

Malin pun langsung mendorong ibunya hingga tergulir di pasir. Malin juga tidak memperdulikan perkataan ibunya meski Mande mengatakannya penuh dengan tangis. Malin bahkan memilih meninggalkan Mande.

Malin dikutuk menjadi batu

Hati Mande Rubayah pun terluka. Ia akhirnya berdoa kepada Tuhan untuk meminta keadilan. Jika pria tadi memang bukanlah anaknya, Mande akan memaafkannya. Namun, jika pria itu ternyata benar anaknya, Mande hanya ingin memohon keadilan.

Tak lama setelah doa itu dipanjatkan, badai besar langsung menyapu kapal megah milik Malin Kundang hingga tubuhnya terseret ke tepi pantai.

Esok harinya, terlihat bongkahan batu di tempat tersebut dengan bentuk menyerupai manusia. Batu itu kemudian dipercaya sebagai tubuh Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu karena telah durhaka pada ibunya.

Kontributor : Hillary Sekar Pawestri

Komentar