Suara.com - Nama YouTuber Ria Ricis terus menjadi sorotan, karena konten-kontennya yang memicu kontroversi. Setelah mengajak bayinya bermain jetski tanpa pengaman, kali ini ia disebut tega melakukan prank pada artis cilik Mazaya Amania.
Dalam salah satu konten YouTubenya, Ria Ricis tampak bermain ke rumah bocah berusia 6 tahun tersebut. Di sana, perempuan bernama lengkap Ria Yunita itu mengaku baru saja menabrak kucing abu-abu yang diduga merupakan hewan peliharaan Mazaya Amania.
Mendengar ciri-ciri kucing yang ditabrak Ricis mirip dengan peliharaannya yang bernama Lope, Mazaya pun langsung menangis tersedu. Melihat bocah tersebut memberikan reaksi yang ia harapkan, istri Teuku Ryan itu terus menerus menggodanya.
"Kucingnya warna abu bukan?," tanyanya seperti yang dibagikan ulang akun Instagram, insta_julid pada Kamis (2/2/2023).
"Iya abu muda," jawab Mazaya lirih.
"Ih iya, jangan-jangan yang tadi," lanjut Ricis.
Ricis terus melanjutkannya dengan memperlihatkan foto kucing Mazaya yang sudah terduduk lemas sambil menangis. Ia justru tampak cengengesan saat anak perempuan itu bersedih.
"Iya ini bener, yang kita tabrak. Ih nggak sengaja. Kan namanya juga nyawa. Katanya nyawa kucing 9 lagian, taunya ketabrak sekali meninggoy," canda Ricis.
Ternyata pengakuan Ricis menabrak kucing Mazaya hanya prank. Konten Ricis bareng Mazaya dibagikan melalui YouTube Ricis Official pada Rabu (25/1/2023) lalu.
Meski begitu hal tersebut langsung mengundang banyak warganet untuk mengkritik aksi Ricis terhadap Mazaya.
"Maen prank nya jangan sama anak kecil dong. Pikirin dampak psikisnya dan nanti anak jadi berfikiran boleh berbohong. Jangan pikirin cuan aja deh," kata @unclxxxxxx.
"Cis cis, lu sendiri digituin nggk terima tapi kelakuan seenaknya sendiri, di kritik nggak mau selalu merasa benar terus," ujar @aaaaaxxxxxx.
"Inovatif banget memang isi konten youtuber satu ini. Bisa kali direport buat ngurangin berita ga bermutu dan ga mendidik seperti ini," tambah @emmaxxxxx.
"Anak kecil ga boleh dibohongin begini walau konteksnya bercanda nanti jadi pemarah," ucap @tesaxxxxx.
"Dulu mainan squisy jaman ade ku masih bocil diblender katanya ikutin ini orang. Sekarang konten prank2 anak orang. Udah gak bener," tulis @jijexxxxx.
Dampak Negatif Prank Pada Anak-anak
Ya, melakukan prank terhadap anak-anak ternyata memiliki dampak yang besar terhadap kondisi psikologis dan perkembangannya. Meski sebagian dari orang dewasa akan merasa terhibur melakukan hal tersebut, namun stres yang diciptakan pada mereka sangatlah buruk.
Dilansir CNA Lifestyle, saat anak merasa tertekan, mereka membutuhkan dukungan emosional. Sebaliknya, ketika orang dewasa, bahkan orang tua nya yang di sekitar mereka hanya sibuk mengambil video dan menjadi pengamat kesusahan mereka, ini jelas berdampak negatif pada kepercayaan anak pada orang tua maupun orang dewasa yang saat itu ada bersama pada mereka.
Jika seorang anak jelas tidak bahagia, sadar diri, atau malu, mereka membutuhkan orang tua dan orang di sekitar mereka untuk berhenti merekam dan menyesuaikan diri dengan mereka.
Attunement, menurut Lin, adalah kemampuan orang tua untuk membaca keadaan emosi anaknya dan memenuhi kebutuhannya. Itu membangun koneksi dan memupuk rasa harga diri untuk anak.
![Ria Ricis bikin Mazaya Amania gara-gara bohong soal kucingnya yang mati. [YouTube Ria Ricis]](https://media.suara.com/pictures/original/2023/02/01/67043-ria-ricis-dan-mazaya-amania.jpg)
"Ketika orang tua yang seharusnya menjadi sosok yang aman, menjadi sumber ketakutan, dua aspek kritis dipertanyakan. Rasa harga diri seorang anak, dan kemampuan mereka untuk percaya," ujar Dr Lin Hong-hui, psikolog klinis utama di The Psychology Atelier dan dosen di Nanyang Technological University.
Ini adalah dua dasar perkembangan psikologis dari diri yang aman. Ketika orang tua sering melewatkan, mengabaikan, atau salah membaca kebutuhan anak mereka, hal itu menimbulkan keraguan di benak mereka.
"Aku merasa tidak enak, tapi kenapa Mummy dan Daddy tidak bisa membantuku? Bisakah aku mempercayai orang terdekat untuk merawatku? Mereka tidak memahami saya – apakah karena ada yang salah denganku?,” tambah Dr Lin.
Ketika penyelarasan orang tua sangat tidak dapat diprediksi, rasa aman anak menjadi goyah. Di kemudian hari, ini menginformasikan pendekatan mereka terhadap hubungan dan tantangan.
Bagaimana Saat Rasa Stres Anak Terhadap Sesuatu Jadi Tontonan Publik?
Saat video ini kemudian beredar di grup chat dan diposting di media sosial, Sesuatu yang kritis telah terjadi di sini. Menurut Dr Lin, momen memalukan bisa menimbulkan perasaan malu secara pribadi.
Tapi, begitu dipublikasikan, rasa malu berubah menjadi penghinaan menurut definisi. Orang tua mungkin melihat kembali video-video ini dengan sayang tetapi anak-anak, setelah menjadi sadar, mungkin tidak.
“Ini berdampak pada kesan anak terhadap orang tuanya. Mengapa mereka memposting video ini? Apakah mereka pikir itu baik-baik saja? Apakah mereka peduli padaku? Ketika anak-anak menyadari pendapat orang lain tentang mereka, beberapa mungkin menertawakannya tetapi yang lain mungkin mengalami penghinaan. Mereka mungkin juga merasa sakit hati dan marah karena orang tua mereka adalah peserta aktif dalam berbagi rasa malu mereka,” kata Lin.