Suara.com - Beberapa hari terakhir, nama Yai Mim, mantan dosen UIN Malang dan pengusaha rental Sahara menjadi perbincangan hangat di media sosial. Keduanya terlibat perseteruan terbuka yang menyita perhatian publik, terutama setelah isu sensitif tentang pelecehan seksual mencuat.
Namun, Yai Mim akhirnya membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa tidak pernah ada tindakan seperti yang dituduhkan oleh Sahara.
Kisah ini berawal dari unggahan Sahara di Tiktok yang menuding dirinya mendapatkan perlakuan tidak pantas dari Yai Mim.
Namun, tudingan tersebut segera mendapat tanggapan dari pihak Yai Mim yang menolak keras semua klaim tersebut.
Lalu, apa saja fakta tersebut? Simak inilah selengkapnya.
1. Awal Perseteruan Bermula dari Tuduhan Sahara
Konflik bermula ketika Sahara memposting video berisi pernyataan yang mengarah pada dugaan pelecehan oleh Yai Mim.
Ia menyebut ada perlakuan tidak pantas yang dialaminya saat berinteraksi dengan sang tokoh agama. Video tersebut langsung viral dan memicu reaksi keras dari warganet, terutama karena Yai Mim dikenal sebagai sosok ustaz yang sering memberikan ceramah moral dan agama di media sosial.
Namun, pihak Yai Mim menegaskan bahwa tuduhan itu tidak benar. Dalam klarifikasinya, ia menyebut bahwa semua interaksi dengan Sahara dilakukan secara profesional dan tidak pernah melanggar batas etika maupun agama. Pernyataannya diperkuat dengan kesaksian beberapa pihak yang mengenal keduanya.
Baca Juga: Apa Hubungan Dedi Mulyadi dan Yai Mim? Turun Gunung Tangani Konflik dengan Sahara
2. Yai Mim Tegaskan Tidak Ada Pelecehan Seksual
Dalam beberapa kesempatan, Yai Mim dengan tegas membantah tuduhan pelecehan seksual tersebut. Ia menyatakan bahwa kasus ini hanya kesalahpahaman dan salah tafsir dari komunikasi yang terjadi antara dirinya dan Sahara.
Menurutnya, Sahara terlalu jauh menafsirkan ucapan dan perilakunya yang sebenarnya tidak bermaksud menyinggung.
Yai Mim juga menyampaikan bahwa dirinya sangat terbuka untuk menyelesaikan masalah ini secara damai dan menempuh jalur tabayyun atau klarifikasi langsung.
Ia mengaku tidak ingin masalah ini merusak nama baik lembaga dan jamaah yang selama ini dipimpinnya. “Saya tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan. Biarlah publik menilai berdasarkan fakta, bukan asumsi,” ungkapnya dalam sebuah pernyataan video.
3. Upaya Mediasi Dihadiri Kang Dedi Mulyadi
Kasus ini akhirnya menarik perhatian banyak pihak, termasuk Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat dikenal sering turun tangan dalam konflik sosial.
Dedi mendatangi langsung kedua pihak untuk mendengar versi cerita masing-masing. Dalam pertemuan itu, ia menekankan pentingnya kejujuran dan ketenangan dalam mencari kebenaran, terutama di era digital yang mudah memperkeruh situasi.
Pertemuan tersebut berlangsung cukup menenangkan. Kedua pihak bersepakat untuk tidak lagi memperpanjang konflik di media sosial dan fokus mencari penyelesaian secara pribadi.
Dedi juga mengingatkan bahwa polemik ini harus menjadi pelajaran agar masyarakat tidak mudah menghakimi seseorang hanya dari satu sisi cerita.
4. Munculnya Dukungan dan Kritik dari Warganet
Tak bisa dipungkiri, konflik Yai Mim dan Sahara memecah opini publik. Ada yang membela Sahara karena menganggap perempuan harus berani bersuara jika mengalami perlakuan tidak pantas.
Namun, tidak sedikit pula yang mendukung Yai Mim, menilai bahwa tuduhan tersebut belum terbukti dan bisa mencemarkan nama baik seseorang tanpa bukti kuat.
Di berbagai platform, netizen memperdebatkan siapa yang benar dan siapa yang salah.
5. Sahara dan Yai Mim Diminta Berdamai
Pasca pertemuan dengan Kang Dedi Mulyadi, kedua pihak mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.
Sahara disebut siap membuka ruang damai, asalkan ada klarifikasi terbuka dari pihak Yai Mim yang bisa meluruskan kesalahpahaman.
Sementara itu, Yai Mim juga mengaku siap memaafkan dan melupakan masalah ini demi ketenangan bersama, namun tetap melanjutkan proses hukum.
Kontributor : Dea Nabila