Mengapa Pertanian Berkelanjutan Menjadi Kunci Masa Depan Indonesia

Rendy Adrikni Sadikin | Suara.com

Rabu, 05 November 2025 | 09:25 WIB
Mengapa Pertanian Berkelanjutan Menjadi Kunci Masa Depan Indonesia
Ilustrasi pertanian berkelanjutan.(Pexels/Lokman Hossain)
    • Pertanian berkelanjutan adalah kebutuhan mendesak di Indonesia untuk menjaga ketahanan pangan, melestarikan lingkungan, dan meningkatkan kesejahteraan petani.
    • Berbagai riset menunjukkan bahwa pertanian ramah lingkungan mampu menjaga produktivitas sekaligus menghadapi ancaman perubahan iklim dan degradasi ekosistem.
    • Transformasi menuju pertanian berkelanjutan memerlukan kolaborasi lintas sektor dengan pemberdayaan komunitas lokal sebagai motor utama perubahan.

Suara.com - Indonesia dibangun di atas tanah subur, dihiasi ribuan pulau dengan iklim tropis yang kaya akan sumber daya hayati. Hatta, pertanian menjadi denyut nadi kehidupan bagi masyarakat, terutama di pedesaan. Tapi, di era modern, cara bertani masyarakat menyentuh titik nadir. Pertanian konvensional yang bergantung pada input kimia dan eksploitasi sumber daya membawa ke ambang risiko ekologis dan sosial.

“Karena itu, pertanian berkelanjutan bukan lagi wacana, tapi kebutuhan mutlak bagi masa depan Indonesia. Pertanian berkelanjutan bukan sekadar pilihan, melainkan prasyarat menjaga ketahanan pangan, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan petani Indonesia,” ujar Sidi Rana Menggala, Koordinator Nasional Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia, dalam pernyataannya di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, Selasa (4/11/2026).

Ya, pertanian berkelanjutan hadir sebagai solusi holistik. Model ini menggabungkan keamanan pangan, konservasi lingkungan, dan inklusivitas sosial. Pertanian berkelanjutan mengurangi ketergantungan pada pestisida dan pupuk sintetis. Buntutnya, kualitas tanah dan air lebih baik. Nggak cuma itu, kesehatan petani dan konsumen pun terjaga.

“Selain itu, sistem ini juga mengedepankan cara-cara lokal dan tradisional yang sejalan dengan keanekaragaman hayati serta budaya Nusantara. Indonesia memiliki potensi besar untuk memimpin praktik pertanian rendah emisi yang tidak hanya menghidupi tanah, tapi juga memperbaiki kehidupan sosial dan ekonomi di pedesaan,” ujar Sidi.

Urgensi transisi ke pertanian berkelanjutan semakin terasa. Pasalnya, ancaman nyata berada di depan mata. Sebut saja, alih fungsi lahan yang masif, penurunan kesuburan tanah akibat bahan kimia, dan iklim yang kian ekstrem. Jika tidak diubah, sektor pertanian bakal menjadi korban sekaligus penyebab dari krisis lingkungan yang lebih besar. Alhasil, produksi pangan bisa terganggu, petani rentan, dan ekosistem rusak permanen.

“Jika kita terus mengabaikan keberlanjutan dalam pertanian, kita akan kehilangan bukan hanya lahan subur, tetapi juga masa depan anak cucu kita,” terang Sidi.

Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala saat memberikan pemaparan dalam acara Dies Natalis Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Selasa (4/11/2025).(Dokumentasi Pribadi)
Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia Sidi Rana Menggala saat memberikan pemaparan dalam acara Dies Natalis Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Selasa (4/11/2025).(Dokumentasi Pribadi)

Kendati begitu, perubahan menuju sistem yang lebih berkelanjutan tidak cukup hanya dengan perubahan teknis. Nah, dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, sektor swasta, lembaga riset, organisasi masyarakat sipil, hingga petani sebagai pelaku utama.

Salah satu langkah yang sudah berjalan adalah program GEF SGP Indonesia yang mendorong investasi pertanian berkelanjutan, dengan langsung menyasar ke petani. Program ini memanfaatkan berbagai strategi, mulai dari memberikan pendanaan awal hingga membangun kemitraan lintas sektor.

“GEF SGP Indonesia memiliki tujuan untuk navigasi pembangunan Indonesia yang berkelanjutan secara scaleable. Melalui pendampingan dan dukungan modal, GEF SGP percaya bahwa komunitas lokal memiliki kapasitas untuk menjadi pusat inovasi dan perubahan dalam sistem pangan yang lebih adil dan berkelanjutan,” terang Sidi.

Tak bisa dipungkiri, masih banyak pekerjaan rumah yang kudu dikelarkan. Namun, dengan langkah kolektif, visi ini bukan omon-omon belaka. Di masa depan, bisa dibayangkan Indonesia sebagai pusat praktik pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga selaras dengan alam dan memperkuat ketahanan pangan global.

“Pertanian berkelanjutan adalah jalan bagi Indonesia untuk menjaga bumi dan manusia sekaligus. Sebuah investasi jangka panjang yang bermanfaat bagi generasi kini dan mendatang,” ujar Sidi.

Peluang bonus demografi

Melansir laman situs Universitas Gadjah Mada (UGM), Subejo, dosen Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian, Faperta UGM, mengatakan pembangunan pertanian berkelanjutan dianggap penting karena untuk memenuhi kebutuhan makanan yang terus meningkat di tengah pertumbuhan penduduk yang cepat, serta untuk mengurangi dampak lingkungan yang negatif dari pertanian.

Di tingkat nasional, kata Subejo, pertanian berkelanjutan merupakan salah satu prioritas pembangunan untuk memperkuat ekonomi nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Pemerintah sering mengeluarkan kebijakan dan program untuk mendorong pertanian berkelanjutan, termasuk melalui pemberian bantuan keuangan kepada petani, pengembangan teknologi pertanian yang ramah lingkungan dan peningkatan akses kepada informasi dan pelatihan bagi petani,” kata Subejo.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Sawah Baru di Tanah Laut Siap Dongkrak Produksi Padi Kalsel, Kementan Perkuat Mekanisasi Pertanian

Sawah Baru di Tanah Laut Siap Dongkrak Produksi Padi Kalsel, Kementan Perkuat Mekanisasi Pertanian

Bisnis | Kamis, 16 Oktober 2025 | 14:46 WIB

Bukti Ketangguhan Pangan Nasional: Ekspor Pertanian Januari-Agustus 2025 Melonjak 38,25 Persen

Bukti Ketangguhan Pangan Nasional: Ekspor Pertanian Januari-Agustus 2025 Melonjak 38,25 Persen

Bisnis | Jum'at, 03 Oktober 2025 | 15:05 WIB

Hari Tani Nasional, BRI Dukung Sektor Pertanian melalui Akses Pembiayaan dan Pemberdayaan Inklusif

Hari Tani Nasional, BRI Dukung Sektor Pertanian melalui Akses Pembiayaan dan Pemberdayaan Inklusif

Bisnis | Kamis, 25 September 2025 | 10:33 WIB

Strategi Hilirisasi Pertanian Jadi Bahasan Mendagri untuk Atasi Middle Income Trap

Strategi Hilirisasi Pertanian Jadi Bahasan Mendagri untuk Atasi Middle Income Trap

News | Senin, 22 September 2025 | 17:32 WIB

Tak Lagi Sekedar Pelawak, Ini Rekam Jejak Narji yang Tekuni Bidang Pertanian

Tak Lagi Sekedar Pelawak, Ini Rekam Jejak Narji yang Tekuni Bidang Pertanian

Your Say | Senin, 22 September 2025 | 12:01 WIB

Terkini

Bolehkah Puasa Syawal 1 Hari Saja? Ini Penjelasan Lengkapnya Sesuai Sunnah

Bolehkah Puasa Syawal 1 Hari Saja? Ini Penjelasan Lengkapnya Sesuai Sunnah

Lifestyle | Sabtu, 21 Maret 2026 | 14:35 WIB

Rencana ke Ragunan saat Libur Lebaran? Cek Harga Tiket dan Jam Buka Terbaru

Rencana ke Ragunan saat Libur Lebaran? Cek Harga Tiket dan Jam Buka Terbaru

Lifestyle | Sabtu, 21 Maret 2026 | 14:28 WIB

Bolehkah Wanita Haid Ziarah Kubur dan Membaca Yasin? Ini Hukumnya

Bolehkah Wanita Haid Ziarah Kubur dan Membaca Yasin? Ini Hukumnya

Lifestyle | Sabtu, 21 Maret 2026 | 14:23 WIB

Apakah Puasa Syawal Harus Berturut-Turu atau Boleh Diselingi? Ini Penjelasan Lengkapnya

Apakah Puasa Syawal Harus Berturut-Turu atau Boleh Diselingi? Ini Penjelasan Lengkapnya

Lifestyle | Sabtu, 21 Maret 2026 | 14:20 WIB

Waduh, Lupa Bayar Zakat Fitrah Setelah Sholat Idulfitri? Ini Hukum dan Cara Mengatasinya

Waduh, Lupa Bayar Zakat Fitrah Setelah Sholat Idulfitri? Ini Hukum dan Cara Mengatasinya

Lifestyle | Sabtu, 21 Maret 2026 | 14:18 WIB

5 Tips Aman Makan Makanan Bersantan saat Lebaran agar Tetap Sehat

5 Tips Aman Makan Makanan Bersantan saat Lebaran agar Tetap Sehat

Lifestyle | Sabtu, 21 Maret 2026 | 14:10 WIB

Jangan Biarkan Iman 'Drop', 7 Tips Menjaga Semangat Ibadah Tetap On Fire setelah Ramadan

Jangan Biarkan Iman 'Drop', 7 Tips Menjaga Semangat Ibadah Tetap On Fire setelah Ramadan

Lifestyle | Sabtu, 21 Maret 2026 | 14:00 WIB

Kapan Mulai Puasa Syawal? Ini Penjelasan Waktu yang Dianjurkan

Kapan Mulai Puasa Syawal? Ini Penjelasan Waktu yang Dianjurkan

Lifestyle | Sabtu, 21 Maret 2026 | 13:10 WIB

Mengapa Opor Ayam Selalu Ada saat Lebaran? Ini Sejarah dan Makna Simbolisnya

Mengapa Opor Ayam Selalu Ada saat Lebaran? Ini Sejarah dan Makna Simbolisnya

Lifestyle | Sabtu, 21 Maret 2026 | 12:40 WIB

Promo Lebaran di Indomaret: Diskon hingga 50 Persen, Berlaku sampai 1 April 2026

Promo Lebaran di Indomaret: Diskon hingga 50 Persen, Berlaku sampai 1 April 2026

Lifestyle | Sabtu, 21 Maret 2026 | 12:35 WIB