- Isu "Taubat ekologi" mencuat setelah pejabat publik menyerukan pertobatan terkait bencana alam di Sumatera.
- Deforestasi terus terjadi di Indonesia akibat ekspansi sawit dan industri, menyebabkan hilangnya hutan primer signifikan.
- Gus Baha menafsirkan Al-Qur'an, memperingatkan bahaya kerusakan bumi seperti likuifaksi dan bencana langit.
Suara.com - Istilah 'Taubat ekologi' belakangan jadi pembicaraan publik di tengah rentetan bencana alam seperti banjir dan tanah longsor, yang terutama terjadi di Sumatera hingga ratusan orang kehilangan nyawa.
Sebutan ini mulai mencuat setelah Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Muhaimin Iskandar, yang juga menjabat Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat ini meminta Menteri ESDM Bahlil L, Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq, serta Menteri Kehutanan Raja Juli untuk taubat nasuha.
Di tengah ramainya isu taubat ini, hutan Indonesia memang terus tergerus dari tahun ke tahun, terutama akibat pembukaan lahan sawit, properti, tambang dan lain sebagainya.
Berdasarkan data Global Forest Watch, deforestasi di Sumatera bervariasi per provinsi dan tahun, dengan menunjukkan tren penurunan yang signifikan, terutama di Riau, Sumsel, dan Sumut.
Global Forest Watch (GFW) menyediakan data rinci per tahun dan wilayah, seperti di Sumatera Utara kehilangan 9,49 hektar hutan primer tahun 2023.
Wilayah ini kehilangan mayoritas hutan akibat ekspansi perkebunan dan industri. Diperkirakan 10,5 juta hektar hutan primer hilang di Indonesia selama periode 2002-2023.
Pesan dari Gus Baha
Di tengah ramainya kritik respon pemerintah, kembali viral pesan KH. Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha.
Sebuah video berdurasi 2 menit 30 detik yang diunggah ulang oleh akun Instagram nahdliyyinbersatu menjadi rujukan penting karena relevansinya dengan kondisi darurat bencana saat ini.
Dalam video tersebut, Gus Baha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang secara keras memperingatkan manusia agar tidak congkak dan tidak merusak bumi.
Secara spesifik, beliau menguraikan pesan kuat dari Surat Al-Mulk (Tabarak) ayat 17, yang mengingatkan manusia akan bahaya besar akibat kerusakan alam:
“Kenapa surat Tabarak spesial? Di situ manusia diingatkan oleh Allah Ta’ala: أَمْ أَمِنتُمْ مَّنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ. Kok kamu hidup di bumi tenang-tenang saja, bisa saja bumi ini tamur. Tamur itu likuifaksi, bumi bergelombang, bergeliat, lalu menimpa manusia," jelas Gus Baha.
Poin-Poin Penting dari Tafsir Gus Baha:
Potensi Likuifaksi (Tamur): Beliau secara eksplisit menyebutkan risiko bumi bergelombang (likuifaksi) yang dapat menimpa manusia.
Bencana dari Langit: Selain bencana di darat, Gus Baha juga mengingatkan potensi bencana lain, seperti benda langit yang bisa jatuh ke bumi (hasiban).
Dampak Perilaku Manusia: Beliau menekankan bahwa tanah bisa kehilangan kemampuan menyerap air—salah satu pemicu banjir dan longsor—akibat perilaku merusak manusia.
Berakhlak seperti Akhlak Allah (takhallaqu bi akhlaqillah): Pentingnya manusia berhati-hati dalam mengelola lingkungan, dengan mengadopsi akhlak yang mencerminkan pemeliharaan seperti yang dikehendaki Tuhan.
Ciri Perusak Lingkungan dalam Al-Qur'an
Gus Baha kemudian mengutip ayat lain yang mengkritik keras karakter orang yang merusak lingkungan. Beliau merujuk pada firman Allah:
وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
"Dan ciri utama orang tidak baik itu yang merusak tanaman (termasuk tumbuhan, pohon dan alam) dan merusak populasi.”
Jika ditelusuri lebih jauh, ancaman Allah bagi perusak lingkungan dalam Islam masuk dalam kategori murka Allah, sehingga ada siksa di akhirat, dan bencana duniawi (seperti banjir, longsor, kekeringan) akibat perbuatan mereka sendiri, karena merusak bumi berarti mengkhianati amanah khalifah dan bertentangan dengan perintah-Nya.
Hal ini seperti ditegaskan dalam QS Ar-Rum 41, QS Al-Baqarah 205, dan QS Al-A'raf 56. Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan (fasad), dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.
Seruan kolektif dari tokoh agama dan politik ini menegaskan bahwa taubat ekologi bukan sekadar slogan religius atau wacana akademis, melainkan panggilan moral dan agenda mendesak bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Terlebih bagi mereka yang gemar merusak alam atau merusak lingkungan hanya demi kekayaan. Bukan hanya pelaku saja, melainkan juga pejabat yang memberi izin, pengusaha yang merusak, pelaku penebangan pohon tanpa kontrol dan ilmu, serta pendukung kerusakan alam dengan dalih investasi.
Di tengah meningkatnya frekuensi bencana, mengubah cara pandang dari eksploitasi alam menjadi pemeliharaan ekosistem adalah kunci untuk menciptakan kehidupan yang berkelanjutan. Wallahualam.