Dalam konteks ini, Broken Strings kembali menjadi lensa yang memperbesar kritik publik. Banyak yang menilai adanya ironi antara citra Kak Seto sebagai “sahabat anak” dengan kisah pribadinya yang kini diperdebatkan. Hal ini juga memunculkan pertanyaan lanjutan terkait respons Kak Seto di masa lalu ketika dimintai bantuan oleh ibu Aurelie.
Akun @/ugethug merangkum kegelisahan banyak pihak dengan menuliskan, “Di zamannya Kakek Seto mungkin dia juga menganggap lumrah pernikahan anak di bawah umur karena memang marak. Tapi zaman makin maju, informasi makin mudah didapat. Harusnya seorang ‘sahabat anak’ sudah teredukasi mengenai hal ini dan bisa speak up dan menentang child grooming ini.”
Perdebatan ini menunjukkan bagaimana standar sosial dan kesadaran terhadap isu perlindungan anak mengalami pergeseran signifikan.
Apa yang dulu dianggap wajar, kini dipertanyakan secara kritis. Publik tidak lagi hanya melihat status atau gelar, tetapi juga konsistensi nilai dan tindakan, terutama dari figur yang selama ini dipercaya sebagai pelindung kelompok rentan.
Demikian itu informasi untuk menjawab Kak Seto menikah umur berapa. Hingga kini, diskusi mengenai Kak Seto, Broken Strings, dan pengalaman Aurelie Moeremans masih terus berkembang.
Bagi banyak orang, isu ini bukan semata tentang kehidupan pribadi seseorang, melainkan tentang refleksi kolektif, sejauh mana masyarakat, termasuk tokoh publik, benar-benar berpihak pada keselamatan dan hak anak.
Kontributor : Mutaya Saroh