Benarkah Beasiswa LPDP 2026 Diutamakan 80 Persen ke STEM?

Ruth Meliana

Kamis, 22 Januari 2026 | 12:41 WIB
Benarkah Beasiswa LPDP 2026 Diutamakan 80 Persen ke STEM?
ilustrasi beasiswa LPDP (freepik)
baca 10 detik
  • Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan peningkatan alokasi beasiswa LPDP untuk STEM.
  • Presiden Prabowo meminta beasiswa LPDP untuk STEM mencapai 80 persen mulai tahun 2026.
  • Kebijakan baru ini menuai kritik kekhawatiran pengabaian bidang sosial budaya meskipun didukung untuk penguatan iptek nasional.

Suara.com - Belakangan muncul isu 80 persen alokasi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) akan dialokasikan untuk bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM)?

Klaim beasiswa LPDP 80 persen ke STEM pun menjadi sorotan setelah pernyataan resmi dari Presiden Prabowo Subianto.

Lantas, benarkah beasiswa LPDP 80 persen ke STEM?

Untuk memahami konteksnya, mari kita lihat sejarah singkat LPDP. Didirikan pada 2012, LPDP bertujuan untuk membiayai pendidikan tinggi guna meningkatkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

Awalnya, beasiswa ini terbuka untuk berbagai bidang studi, termasuk ilmu sosial, humaniora, dan saintek.

Namun, seiring perkembangan, pemerintah semakin menekankan pada penguatan sektor teknologi dan sains untuk mengejar ketertinggalan dengan negara-negara maju.

Pada tahun-tahun sebelumnya, alokasi untuk STEM memang sudah signifikan, tetapi tidak mencapai angka 80 persen.

Misalnya, pada 2024 dan 2025, proporsi untuk STEM diperkirakan sekitar 50-60 persen, dengan sisanya untuk bidang lain seperti ekonomi, hukum, dan seni.

Klaim tentang 80 persen ini muncul secara resmi pada Januari 2026. Presiden Prabowo Subianto, dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, menginstruksikan agar alokasi beasiswa LPDP untuk bidang STEM ditingkatkan hingga mencapai atau bahkan melebihi 80 persen.

baca juga

Instruksi ini disampaikan melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, yang menyatakan bahwa langkah ini bertujuan untuk mempercepat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.

Menurut Prasetyo, Presiden berharap porsi ini bisa di atas 80 persen, karena Indonesia perlu mengejar ketertinggalan di bidang iptek global.

Benarkah ini sudah menjadi kebijakan resmi? Jawabannya, ya, instruksi ini telah diberikan dan akan diterapkan mulai tahun 2026.

LPDP sendiri merencanakan penambahan kuota beasiswa pada 2026, dengan total sekitar 5.750 kuota, di mana sebagian besar difokuskan pada STEM dan program dokter spesialis.

Dari kuota tersebut, 1.000 untuk beasiswa Garuda (S1), 4.000 untuk S2 dan S3, serta 750 untuk dokter spesialis.

Fokus pada STEM ini sejalan dengan visi pemerintah untuk membangun SDM yang kompetitif di era digital dan industri 4.0.

Alasan di balik kebijakan ini cukup jelas. Indonesia menghadapi tantangan besar dalam penguasaan teknologi, seperti kecerdasan buatan, energi terbarukan, dan bioteknologi.

Dengan mengalokasikan mayoritas dana ke STEM, pemerintah berharap mencetak lebih banyak ahli yang bisa mendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi.

Namun, kebijakan ini juga menuai kritik. Beberapa pihak, seperti dari kalangan humaniora, khawatir bahwa ini akan menciptakan ketimpangan. Mereka menyebutnya sebagai upaya "membuat robot tanpa jiwa", karena mengabaikan aspek sosial, budaya, dan etika yang krusial untuk pembangunan berkelanjutan.

Apakah ini solusi atau justru masalah baru? Pendukung kebijakan menekankan bahwa prioritas STEM bukan berarti menghilangkan beasiswa untuk bidang lain, melainkan proporsi yang lebih besar untuk saintek, sementara 20 persen sisanya masih untuk sosial humaniora.

Dampak dari kebijakan ini bisa dirasakan dalam jangka pendek dan panjang. Dalam jangka pendek, calon penerima beasiswa dari bidang non-STEM mungkin menghadapi persaingan lebih ketat, dengan kuota yang lebih terbatas.

Namun, ini bisa mendorong lebih banyak anak muda untuk memilih jurusan STEM sejak dini, meningkatkan minat terhadap sains dan teknologi.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu memastikan bahwa lulusan STEM ini kembali ke Indonesia dan berkontribusi, bukan justru ke luar negeri. LPDP telah memiliki mekanisme ikatan dinas untuk itu, tapi pengawasannya harus diperketat.

Secara keseluruhan, klaim bahwa beasiswa LPDP 80 persen ke STEM adalah benar, setidaknya berdasarkan instruksi presiden terbaru yang akan diterapkan pada 2026.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Apa Saja 9 Beasiswa Bundling LPDP 2026? Ini Keistimewaannya

Apa Saja 9 Beasiswa Bundling LPDP 2026? Ini Keistimewaannya

Lifestyle | Kamis, 22 Januari 2026 | 11:27 WIB

Pendaftaran Beasiswa LPDP 2026 Kapan? Prediksi Jadwal dan Persyaratan

Pendaftaran Beasiswa LPDP 2026 Kapan? Prediksi Jadwal dan Persyaratan

News | Kamis, 08 Januari 2026 | 11:53 WIB

Menko PMK Pratikno: Dana LPDP Harus Perkuat Riset dan Ekosistem Pendidikan Nasional

Menko PMK Pratikno: Dana LPDP Harus Perkuat Riset dan Ekosistem Pendidikan Nasional

News | Jum'at, 19 Desember 2025 | 13:17 WIB

Terkini

Api Meluas di TPA Galuga, Kepulan Asap Tebal Paksa Warga Evakuasi Diri akibat Mata Perih

Api Meluas di TPA Galuga, Kepulan Asap Tebal Paksa Warga Evakuasi Diri akibat Mata Perih

Bogor | Selasa, 08 September 2026 | 00:23 WIB

Erupsi 25 Jam Anak Krakatau Berakhir, Tapi Mengapa Sumsel Masih Terdampak?

Erupsi 25 Jam Anak Krakatau Berakhir, Tapi Mengapa Sumsel Masih Terdampak?

Sumsel | Senin, 07 September 2026 | 23:42 WIB

Sukuk Ritel SR025 Dibuka, Bank Sumsel Babel Tawarkan Investasi Syariah Imbal Hasil 6,90 Persen

Sukuk Ritel SR025 Dibuka, Bank Sumsel Babel Tawarkan Investasi Syariah Imbal Hasil 6,90 Persen

Sumsel | Senin, 07 September 2026 | 23:27 WIB

Safrizal ZA: 649 Unit Huntap di Aceh Telah Rampung, Terbanyak di Aceh Utara

Safrizal ZA: 649 Unit Huntap di Aceh Telah Rampung, Terbanyak di Aceh Utara

Jakarta | Senin, 07 September 2026 | 23:20 WIB

PTBA Perkuat Kinerja dan Portofolio Bisnis untuk Pertumbuhan Jangka Panjang

PTBA Perkuat Kinerja dan Portofolio Bisnis untuk Pertumbuhan Jangka Panjang

Sumsel | Senin, 07 September 2026 | 23:07 WIB

Aksi Teddy Main Pulpen saat Putin Pidato Viral, Gaya Jarinya Disamakan Britney Spears

Aksi Teddy Main Pulpen saat Putin Pidato Viral, Gaya Jarinya Disamakan Britney Spears

Video | Senin, 07 September 2026 | 22:45 WIB

Kredit Serba Guna Bank Sumsel Babel Bunga Mulai 0,79 Persen, Ada Cashback 0,2 Persen

Kredit Serba Guna Bank Sumsel Babel Bunga Mulai 0,79 Persen, Ada Cashback 0,2 Persen

Sumsel | Senin, 07 September 2026 | 22:36 WIB

Wet Food Lokal Buat Anabul Makin Dilirik, Cek 3 Hal Ini Sebelum Membeli

Wet Food Lokal Buat Anabul Makin Dilirik, Cek 3 Hal Ini Sebelum Membeli

Lifestyle | Senin, 07 September 2026 | 22:19 WIB

Kenapa Abu Vulkanik Bisa Bikin Pesawat Dilarang Terbang?

Kenapa Abu Vulkanik Bisa Bikin Pesawat Dilarang Terbang?

News | Senin, 07 September 2026 | 22:19 WIB

Ikan Keramba Mati Mendadak dan Mengapung di Danau Ranau, Apa yang Terjadi?

Ikan Keramba Mati Mendadak dan Mengapung di Danau Ranau, Apa yang Terjadi?

Sumsel | Senin, 07 September 2026 | 22:17 WIB

×