-
Puasa Syakban sekaligus qadha Ramadan hukumnya diperbolehkan dan sah secara agama.
-
Ulama Syafii menyebut penggabungan niat ini memberikan pahala untuk kedua ibadah.
-
Tersedia panduan niat bahasa Arab, Latin, dan artinya untuk memudahkan pembaca.
Suara.com - Memasuki bulan Syaban 1447 Hijriah yang jatuh pada 20 Januari 2026, umat Muslim mulai bersiap menyambut kedatangan bulan suci Ramadan.
Syaban merupakan bulan yang istimewa, di mana Rasulullah SAW diketahui lebih banyak menjalankan puasa sunnah dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Namun bagi sebagian orang, bulan Syaban juga menjadi tenggat waktu terakhir untuk melunasi utang puasa Ramadan tahun lalu.
Hal ini juga menimbulkan kebingungan bahwa boleh atau tidak niat puasa sunnah Syaban sekaligus puasa qadha Ramadan.
Hukum Menggabungkan Puasa Sunnah dan Wajib
Dalam literatur fikih dilansir dari NU Online, penggabungan dua niat ibadah dalam satu amalan disebut dengan at-tasyrik.
Merujuk pada mayoritas ulama madzhab Syafi’i, menggabungkan niat puasa sunnah seperti Syaban dengan puasa wajib seperti qadha Ramadan hukumnya adalah diperbolehkan dan sah.
Kitab I’anatuth Thalibin dan Fathul Mu’in karya Syekh Zainuddin al-Malibari juga menjelaskan bahwa seseorang yang melakukan puasa qadha di hari-hari yang dianjurkan berpuasa sunnah, maka ia otomatis mendapatkan pahala keduanya.
Bahkan, Syekh al-Barizi berfatwa bahwa pahala puasa sunnah tetap didapatkan meskipun seseorang hanya berniat qadha saja, selama dilakukan di hari-hari utama seperti bulan Syaban.
Baca Juga: 6 Rekomendasi Skincare Viva untuk Anti-Aging, Harga Mulai Rp13 Ribuan
Namun, menggabungkan keduanya dalam satu niat tentu lebih utama.
Niat Puasa Syaban Sekaligus Qadha Ramadhan
Bagi Anda yang ingin mendapatkan keutamaan bulan Syaban sekaligus melunasi utang puasa, berikut adalah bacaan niatnya:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَسُنَّةِ شَهْرِ شَعْبَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna wa sunnati syahri Sya‘bāna lillāhi ta‘ālā.
Artinya: "Saya berniat berpuasa besok untuk mengqadha kewajiban puasa di bulan Ramadhan dan melaksanakan puasa sunnah di bulan Sya’ban karena Allah Ta’ala."
Pilihan Niat Lainnya
Jika Anda ingin fokus pada satu niat saja, berikut adalah pilihannya:
1. Niat Puasa Qadha Ramadhan Saja
Jika Anda hanya ingin berniat membayar utang puasa:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi Ramadhāna lillāhi ta‘ālā.
Artinya: "Saya berniat berpuasa besok untuk mengqadha kewajiban puasa Ramadan karena Allah Ta’ala."
2. Niat Puasa Syaban Saja
Jika Anda tidak memiliki tanggungan utang puasa dan hanya ingin puasa sunnah:
نَوَيْتُ صَوْمَ الشَّهْرِ الشَّعْبَانِ سُنَّةَ لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu shauma syahri syabana sunnatan lillahi ta'ala.
Artinya: "Saya berniat puasa bulan Syaban sunnah karena Allah Ta’ala."
Keutamaan Puasa di Bulan Syaban
Anjuran puasa Syaban didasarkan pada hadits sahih. Aisyah RA pernah bercerita mengenai kebiasaan Rasulullah SAW:
"Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada di bulan Sya’ban." (HR. Bukhari dan Muslim).
Bahkan, Aisyah RA sendiri sering kali baru bisa membayar utang puasa Ramadhan pada bulan Syaban karena kesibukannya melayani Rasulullah SAW.
Hal ini menjadi dasar kuat bahwa meng-qadha puasa di bulan Syaban adalah hal yang lazim dilakukan oleh sahabat Nabi.