- Refleksi keislaman modern menyoroti kegelisahan umat tentang krisis identitas dan kelelahan batin.
- Diskusi seperti CONNECT 2026 menegaskan bahwa nilai Islam tetap relevan menghadapi tantangan dunia modern.
- Pendekatan spiritual kini mengedepankan dialog inklusif, fokus pada keseimbangan hidup, dan dukungan sosial.
Suara.com - Di tengah ritme hidup yang serba cepat dan penuh tuntutan, semakin banyak Gen Z yang mulai melirik kajian sebagai ruang jeda. Bukan semata soal belajar agama, kajian kini menjadi tempat untuk mencari pegangan, menenangkan pikiran, sekaligus memahami diri di tengah tekanan sosial, ekspektasi hidup, dan arus informasi yang nyaris tak pernah berhenti.
Di balik citra Gen Z yang lekat dengan dunia digital dan budaya instan, tersimpan kebutuhan yang sama besarnya akan makna, arah, dan ketenangan batin.
Realitas inilah yang diangkat dalam berbagai diskusi dan refleksi keislaman yang belakangan banyak dibicarakan, termasuk dalam forum CONNECT 2026. Tema “Modern Struggles” merefleksikan kegelisahan umat hari ini: krisis identitas, rasa tidak pernah cukup, kelelahan batin, hingga kesulitan menjalankan nilai agama di tengah dunia yang serba cepat.
“Tema besar Modern Struggles kami angkat sebagai refleksi atas kondisi umat di era modern—mulai dari krisis identitas, tekanan sosial, rasa tidak cukup, kelelahan mental dan spiritual, hingga tantangan menjalankan peran sosial di tengah dunia yang serba cepat,” ujar CEO The Strong Minor Project, Ratna Galih.
Pesan yang ingin ditegaskan sederhana namun penting: Islam tidak tertinggal oleh zaman. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya justru relevan untuk membantu umat bertahan dan menemukan kembali makna hidup. Tantangannya bukan pada ajaran, melainkan pada bagaimana nilai tersebut dihidupkan di tengah realitas modern.
Menariknya, isu-isu berat seperti iman, kesehatan mental, dan perjuangan batin kini mulai dibicarakan dengan pendekatan yang lebih membumi.
Spiritualitas tidak lagi disampaikan dalam suasana yang kaku dan mengintimidasi, melainkan dalam ruang yang aman dan inklusif—tempat umat bisa merasa diterima, bukan dihakimi.
Pendekatan ini juga menegaskan bahwa menjaga iman bukan hanya soal hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga tentang keseimbangan hidup. Gaya hidup sehat, relasi sosial yang suportif, serta keberanian untuk berhenti sejenak dan reflektif menjadi bagian dari ikhtiar spiritual itu sendiri.
“Di era yang serba cepat ini, banyak dari kita merasa terputus—baik dengan diri sendiri, lingkungan sekitar, maupun dengan nilai-nilai spiritual. Melalui CONNECT, kami ingin menunjukkan bahwa menjadi bagian dari strong minority bukan berarti berjalan sendiri. Justru kita bisa tumbuh dengan saling terhubung dan saling menguatkan,” tambah Ratna.
Baca Juga: Minuman Beralkohol vs Kopi Gula Aren: Gen Z Lawan Emisi Bikin Industri Miras Gigit Jari
Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, perjuangan menjaga iman mungkin tidak selalu terlihat heroik. Namun, justru di sanalah letak kekuatannya—hadir dalam pilihan-pilihan kecil sehari-hari, saat seseorang tetap berusaha terhubung dengan nilai, makna, dan tujuan hidup yang lebih besar.