Kasus ini menimbulkan kritik keras terhadap DOJ karena dianggap gagal menjalankan perlindungan dasar terhadap korban kejahatan seksual. Publik juga makin keras mengkritik DOJ karena bukan hanya korban Epstein saja yang terdampak.
Masalah penyensoran juga meluas ke pihak-pihak yang sama sekali tidak terkait langsung dengan kejahatan Epstein. CBC News menemukan bahwa nama depan seorang sipir penjara Manhattan, tempat Epstein meninggal, sempat tidak disensor sehingga identitasnya dapat dilacak.
Dalam kasus lain, alamat email pribadi seorang perempuan muda, yang orang tuanya berteman dengan Epstein, tidak disamarkan di satu dokumen, meski telah disensor di dokumen lain.
Kesalahan-kesalahan ini menimbulkan kesan bahwa proses penyaringan dilakukan tidak konsisten dan tergesa-gesa. Pada akhirnya ribuan dokumen harus ditarik.
Juru bicara DOJ mengakui kepada CBC News bahwa sekitar 0,1 persen dari total halaman yang dirilis mengandung informasi identitas korban yang tidak disensor. Dengan total rilis mencapai sekitar tiga juta halaman, angka tersebut berarti lebih dari 3.000 halaman harus ditarik kembali. Dalam dokumen pengadilan, pengacara korban menyatakan kebocoran ini sepenuhnya bisa dicegah, bahkan dengan metode sederhana seperti pencarian nama otomatis.
Demikian itu Epstein Files yang jumlah pastinya masih belum diketahui. Kasus ini memperlihatkan ironi besar yakni niat membuka kebenaran justru berujung pada luka baru bagi para korban, sekaligus mempertanyakan keseriusan negara dalam melindungi mereka. Rilis Epstein File pun kini bukan hanya soal transparansi, tetapi juga tentang tanggung jawab, etika, dan batas antara kepentingan publik dan hak privasi korban.
Kontributor : Mutaya Saroh