- Pameran "Gallery of Art: Wianta & Legacy" menampilkan seri legendaris Mandala karya mendiang Made Wianta di Bali pada Januari 2026.
- Made Wianta, maestro Bali yang mendunia, menerjemahkan filosofi kuno Pangider-ider menjadi bahasa visual modern yang kontemplatif.
- Pembukaan pameran dimeriahkan penampilan tari kontemporer yang terinspirasi Mandala, menghadirkan dialog antara tradisi dan modernitas.
Suara.com - Bali tak pernah kehabisan cara untuk memikat hati. Bukan hanya lewat pantai dan lanskap tropisnya, tapi juga melalui seni yang menyentuh sisi paling sunyi dalam diri manusia. Awal tahun 2026, The Apurva Kempinski Bali menghadirkan pengalaman budaya yang istimewa lewat pameran eksklusif “Gallery of Art: Wianta & Legacy”, yang menampilkan seri legendaris Mandala karya mendiang maestro seni Bali, Made Wianta.
Digelar di Pendopo Lobby mulai 23 Januari 2026, pameran ini menjadi momen bersejarah. Untuk pertama kalinya, koleksi lengkap seri geometris Mandala diperlihatkan kepada publik dalam satu ruang utuh — menghadirkan kesempatan langka untuk menyelami semesta visual yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan artistik sang maestro.
Saat Mandala Menjadi Bahasa Semesta
Dalam tangan Made Wianta, Mandala bukan sekadar simbol spiritual. Ia menjelma menjadi peta harmoni kosmis — ruang tempat garis, titik, warna, dan bentuk bertemu dalam ritme yang terasa hidup. Terinspirasi dari konsep Bali kuno Pangider-ider, yang menggambarkan sembilan penjuru mata angin dengan energi para dewa penjaganya, Wianta menerjemahkannya ke dalam bahasa visual modern yang berani dan kontemplatif.
Bentuk melingkar yang mendominasi seri ini seolah mengajak pengamat berhenti sejenak. Ada keseimbangan antara semesta di luar diri dan ketenangan di dalam jiwa. Pengalaman melihat karya-karya ini bukan hanya visual, tetapi juga emosional — seperti diajak berdialog tanpa kata dengan alam dan diri sendiri.
Jejak Global, Akar yang Tetap Bali
Lahir di Tabanan pada 1949, Made Wianta dikenal sebagai sosok yang membawa seni rupa Bali melangkah ke ranah kontemporer dunia. Ia pernah menetap di Brussel pada pertengahan 1970-an, menyerap dinamika seni modern Eropa, lalu meramunya dengan kedalaman filosofi lokal, musik karawitan Bali, serta estetika wayang klasik.
Perjalanannya membawanya ke panggung internasional, termasuk mewakili Indonesia di Venice Biennale 2003. Namun, sejauh apa pun langkahnya, karya Wianta selalu kembali pada satu hal yang esensial: hubungan manusia dengan alam semesta dan pencarian keseimbangan hidup.
Pembukaan yang Penuh Rasa
Baca Juga: Menpar Widiyanti Bantah Isu Bali Sepi Wisatawan, Ungkap Data 12,2 Juta Kunjungan di 2025
Peluncuran pameran ini juga menjadi peristiwa yang sarat makna emosional. Intan Kirana Wianta, istri mendiang Made Wianta, hadir berbagi cerita tentang perjalanan kreatif sang maestro, didampingi kedua putri mereka. Sosok Intan bukan hanya pendamping hidup, tetapi juga pilar intelektual dan emosional dalam perjalanan panjang seni Wianta.
Suasana pembukaan semakin hidup lewat pertunjukan tari kontemporer dari koreografer Bali, Ayu Anantha. Terinspirasi dari Mandala, ia menghadirkan dialog antara tubuh penari dan energi visual karya Wianta. Lewat konsep Sangkara, tarian ini menjembatani masa lalu dan masa kini — tradisi dan ekspresi modern bergerak dalam satu napas yang sama.
Bagi The Apurva Kempinski Bali, menghadirkan pameran ini adalah bagian dari komitmen merayakan kekayaan budaya Indonesia dalam pengalaman para tamu. Di tengah meningkatnya minat wisatawan pada pengalaman yang lebih bermakna, seni menjadi jembatan yang menghadirkan kedalaman, bukan sekadar kemewahan visual.
Melalui seri Mandala, pengunjung tidak hanya melihat karya seni, tetapi juga diajak merasakan filosofi tentang keseimbangan, keterhubungan, dan harmoni — nilai-nilai yang terasa relevan di dunia yang bergerak begitu cepat hari ini.