- Moisturizer kerap dianggap sederhana, tapi banyak mitos yang beredar.
- Tidak semua anggapan soal pelembap itu benar, ada fakta ilmiah yang perlu diketahui.
- Simak 5 mitos moisturizer yang wajib dihentikan agar kulit tetap sehat dan lembap.
Suara.com - Moisturizer atau pelembap sering dianggap sebagai produk sederhana dalam rutinitas skincare, padahal kenyataannya banyak mitos dan kesalahpahaman seputar penggunaannya.
Nah, mengetahui fakta di balik pelembap menjadi hal penting untuk diketahui agar kulit tetap sehat, lembap, dan terlindungi dari kerusakan.
Melansir laman Paula’s Choice pada Senin, 9 Februari 2026, berikut beberapa mitos seputar moisturizer yang penting untuk diketahui.

1. Kulit Menjadi "Malas" jika Rutin Memakai Moisturizer
Banyak orang percaya jika menggunakan pelembap setiap hari, kulit akan "malas" mempertahankan kelembapannya sendiri.
Faktanya, kulit tidak bisa "lupa" bagaimana cara mempertahankan hidrasi alami.
Sama seperti tubuh yang tetap membutuhkan air dan nutrisi setiap hari, kulit juga membutuhkan bantuan pelembap untuk tetap sehat.
Seiring bertambahnya usia, kulit kehilangan kemampuan alami untuk menjaga hidrasi, terutama karena paparan sinar matahari, polusi, dan perubahan iklim.
Bahkan pemakaian produk skincare yang keras seperti scrub atau sabun berbahan keras dapat membuat kulit kering.
Baca Juga: Setelah Serum Boleh Pakai Moisturizer? Ini 5 Pelembap Terbaik yang Mudah Menyerap
Dengan pelembap yang tepat, kulit bisa pulih dan kembali terasa lembap serta nyaman.
2. Kulit Bisa Kecanduan Pelembap
Ada anggapan bahwa kulit bisa menjadi ketergantungan terhadap pelembap. Padahal, kondisi ini lebih bersifat psikologis, bukan fisik.
Kulit yang kering akan merasa lebih nyaman ketika diberi pelembap, sehingga kita terbiasa dengan sensasi lembap tersebut.
Yang terjadi adalah kita menikmati kulit yang lembap dan tampak sehat.
Pelembap membantu memperbaiki kondisi kulit yang rusak akibat faktor lingkungan atau usia, tetapi kulit tidak menjadi tergantung secara biologis.