- Kenyamanan esensial dalam hubungan sehat dibangun melalui komunikasi jujur mengenai preferensi dan batasan diri.
- Edukasi kesehatan seksual yang terbuka, seperti dibahas dr. Haekal Anshari, memandang proteksi sebagai wujud tanggung jawab bersama.
- Okamoto mempromosikan proteksi sebagai bentuk kepedulian melalui kampanye interaktif agar generasi muda lebih nyaman berdiskusi.
Suara.com - Banyak orang mengira kedekatan dalam hubungan cukup dibangun lewat rasa sayang dan chemistry. Padahal, ada satu hal penting yang sering terlewat: kenyamanan yang dikomunikasikan dengan jelas.
Hubungan yang sehat bukan soal bisa membaca pikiran pasangan, tapi soal berani ngobrol—termasuk tentang hal-hal yang sering dianggap canggung. Faktanya, rasa nyaman itu bukan sesuatu yang otomatis ada. Ia dibangun lewat komunikasi yang jujur, terbuka, dan saling menghargai.
Nyaman Itu Harus Dikomunikasikan
Sering kali orang menghindari topik sensitif karena takut merusak suasana atau dianggap berlebihan. Padahal justru di situlah letak kedewasaan dalam hubungan. Membicarakan batasan, preferensi, sampai soal proteksi diri bukan berarti tidak percaya pada pasangan—melainkan bentuk kepedulian.
Sex Educator dr. Haekal Anshari menilai pendekatan komunikasi yang ringan dan tidak menghakimi penting agar generasi modern lebih nyaman membahas kesehatan seksual.
“Dengan pendekatan yang lebih terbuka, positif, relevan dan tidak menghakimi, edukasi seksual dapat membantu memahami pentingnya proteksi dan kenyamanan dalam hubungan, termasuk memandang penggunaan kondom sebagai wujud tanggung jawab dan kepedulian terhadap diri sendiri dan pasangan,” jelasnya.
Artinya, proteksi bukan cuma soal alat, tapi tentang sikap saling menjaga.
Banyak pasangan fokus pada momen romantis, tapi lupa bahwa rasa aman juga bagian dari keintiman. Ketika dua orang bisa ngobrol terbuka soal apa yang membuat mereka nyaman, hubungan jadi terasa lebih tenang dan minim tekanan.
Inilah yang coba digaungkan Okamoto lewat kampanye terbarunya yang mengajak generasi modern melihat proteksi sebagai bentuk kepedulian, bukan pembatas. Melalui pengalaman interaktif bertajuk Playspace, topik yang biasanya terasa serius justru dikemas dengan cara yang ringan dan mudah diterima.
Baca Juga: Kemkomdigi Normalkan Akses Grok di X dengan Syarat Ketat dan Pengawasan Berkelanjutan
Senior Chief Marketer Okamoto Industries (HK) Ltd., Holly Kwan, menyebut kedekatan seharusnya selalu berjalan beriringan dengan rasa nyaman dan tanggung jawab.
“Kami ingin membantu generasi modern memandang proteksi bukan sebagai hal yang membatasi, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan pasangan, agar setiap hubungan dapat dijalani dengan lebih tenang dan percaya diri,” ujarnya.
Belajar Lewat Cara yang Tak Menggurui

Pendekatan edukasi yang terlalu kaku sering bikin orang langsung defensif. Karena itu, konsep interaktif seperti yang dihadirkan dalam acara Okamoto Experience Day: Playspace jadi cara baru untuk membuka percakapan.
Public figure Revina VT menilai cara ini membuat topik sensitif terasa lebih mudah diterima generasi muda.
“Topik yang biasanya sensitif dan dihindari malah menjadi seru untuk diulik karena dibawakan dengan seru dan interaktif,” katanya.
Pesannya jelas: ngobrol soal kenyamanan dan proteksi dalam hubungan itu bukan hal memalukan—justru tanda hubungan yang sehat.
Hubungan Sehat Itu Saling Dengar
Pada akhirnya, hubungan yang baik bukan cuma tentang rasa cinta, tapi juga tentang rasa dihargai. Ketika pasangan merasa didengar dan dihormati batasannya, keintiman tumbuh dengan sendirinya.
Karena kenyamanan bukan ditebak, tapi dibangun, dibicarakan, dan dijaga bersama.