- Keluarga berperan krusial membangun literasi keuangan anak melalui praktik nyata sehari-hari, bukan sekadar teori di kelas.
- Indeks literasi keuangan pelajar Indonesia masih rendah (56,42%), menuntut pendekatan ekosistem melibatkan keluarga dan sekolah.
- Program JA SparktheDream menargetkan 2.300 siswa SMP hingga 2026 melalui edukasi holistik dengan melibatkan guru dan orang tua.
Utami Anita Herawati, Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia, menjelaskan bahwa keterlibatan guru dalam program ini merupakan investasi jangka panjang.
Melalui JA SparktheDream, guru dibekali metodologi, materi, dan pendekatan pembelajaran yang dapat dikembangkan dan diadaptasi ke dalam kurikulum seolah secara berkelanjutan.
Kehadiran sukarelawan dari FWD Insurance turut memperkaya proses belajar dengan menghadirkan contoh nyata dari dunia profesional, sehingga siswa memperoleh pemahaman yang utuh antara teori dan praktik.
Pelaksanaan tahun keempat JA SparktheDream diawali dengan seminar literasi keuangan bagi orang tua dan siswa bertajuk “Kelola Uang Hari Ini, Aman Esok Hari” yang diselenggarakan di SMP Al-Jannah, Depok.
Seminar ini dirancang untuk memperkuat peran orang tua sebagai pendamping utama anak dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini.
Dengan menjadikan rumah dan sekolah sebagai ruang belajar yang saling terhubung, JA SparktheDream menegaskan bahwa literasi keuangan bukan sekadar program edukasi, melainkan proses pembentukan kebiasaan hidup.
Upaya berkelanjutan ini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat bagi generasi muda Indonesia untuk tumbuh sebagai individu yang lebih bijak, aman, dan berdaya dalam mengambil keputusan finansial di masa depan.