“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar.”
Dzikir ini dibaca secara pelan di antara setiap takbir, baik oleh imam maupun makmum. Bacaan ini menjadi cara untuk mengisi jeda di antara takbir sekaligus memperbanyak pujian kepada Allah SWT.
Bacaan Dzikir Lain yang Dianjurkan
Selain bacaan di atas, sebagian ulama juga menganjurkan membaca dzikir yang sedikit lebih panjang berikut ini:
Arab:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
Latin:
Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illa
Artinya:
“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.”
Namun perlu diketahui bahwa bacaan di antara takbir ini bersifat sunnah, sehingga jika seseorang tidak membacanya atau hanya diam sejenak tetap sah salatnya.
Takbir tambahan dalam salat Idul Fitri memiliki makna yang sangat dalam. Takbir merupakan bentuk pengagungan kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan, termasuk kesempatan menjalankan ibadah puasa Ramadan.
Selain itu, takbir juga menjadi simbol kemenangan spiritual bagi umat Islam setelah berhasil menahan diri dari berbagai hal yang membatalkan puasa. Dengan memperbanyak takbir, umat Muslim diingatkan bahwa segala keberhasilan berasal dari pertolongan Allah SWT.
Suasana takbir juga terasa sangat khas pada malam dan pagi hari Idul Fitri. Umat Islam di berbagai tempat melantunkan takbir bersama sebagai bentuk rasa syukur dan kebahagiaan menyambut hari kemenangan.
Kontributor : Nadia Lutfiana Mawarni