- Menhan Sjafrie Sjamsoeddin resmi sepakati Kemitraan MDCP di Pentagon untuk stabilitas kawasan Indo-Pasifik.
- Juru Bicara Pentagon memuji peran aktif Indonesia dalam Dewan Perdamaian dan stabilisasi internasional.
- Di tengah pengumuman kerja sama, beredar rumor dokumen rahasia AS meminta akses udara.
Mengesampingkan rumor yang beredar, pertemuan hari ini menghasilkan keputusan konkret.
Mengutip rilis resmi dari Kedutaan Besar AS (usembassy), kedua negara resmi mengumumkan Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama (MDCP). Pete Hegseth menegaskan kemitraan ini mewujudkan komitmen perdamaian melalui kekuatan.
Menhan Sjafrie Sjamsoeddin merespons antusias, menegaskan bahwa kerja sama ini dibangun atas dasar saling menghormati dan menguntungkan demi kepentingan nasional kedua negara.
![Amerika Serikat dan Indonesia resmi mengumumkan pembentukan Major Defense Cooperation Partnership sebagai langkah memperkuat kerja sama militer kedua negara. [Dok war.gov]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/14/54847-sjafrie-sjamsoeddin-pete-hegseth.jpg)
5. Tiga Pilar Militer dan Pujian Juru Bicara Pentagon
Kemitraan MDCP bertumpu pada tiga pilar, yakni peningkatan kapasitas organisasi, pendidikan militer profesional, serta kerja sama operasional.
Juru Bicara Utama Pentagon, Sean Parnell, melalui keterangan resminya memuji partisipasi Indonesia dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace) dan Pasukan Stabilisasi Internasional.
Parnell juga menegaskan bahwa latihan multinasional seperti Super Garuda Shield dan pelatihan pasukan khusus akan terus diperluas dengan fokus baru pada teknologi asimetris, maritim, bawah laut, hingga sistem otonom.
6. Misi Kemanusiaan Pemulangan Jenazah Perang Dunia II
Ada sisi historis mendalam yang dibahas di Pentagon. Melansir catatan usembassy, Hegseth sangat mengapresiasi bantuan Indonesia dalam menemukan dan melindungi jenazah prajurit AS yang gugur saat Perang Dunia II.
Melalui kesepakatan baru ini, Defense POW/MIA Accounting Agency akan diizinkan untuk melanjutkan misi pencarian dan pemulihan sisa-sisa jenazah di wilayah Indonesia.
7. "Garis Awal" Hubungan Bersejarah yang Ke-75 Tahun
Menariknya, baik Hegseth maupun Sjafrie sepakat menggunakan istilah militer "garis awal" untuk menggambarkan kesepakatan ini.
Keduanya menilai pertemuan ini bukanlah puncak, melainkan titik awal mula misi besar antara dua negara besar.
Momen ini sekaligus mempertegas hubungan diplomatik AS-Indonesia yang sudah terjalin kuat selama lebih dari 75 tahun sejak 1949.