- Dr. Irwan Dewanto meluncurkan buku di Jakarta pada 20 Mei 2026 mengenai strategi kepemimpinan milenial dalam organisasi modern.
- Buku ini menawarkan konsep The Big 4 dan LEAD-PRO untuk membangun ekosistem kerja kolaboratif serta inovatif yang inklusif.
- Kegagalan beradaptasi dengan model kepemimpinan baru berisiko menyebabkan penurunan produktivitas serta kehilangan talenta terbaik bagi sebuah perusahaan.
Suara.com - Buku Milenial Bisa Memimpin karya Dr. Irwan Dewanto hadir sebagai salah satu bacaan yang mencoba menjawab tantangan besar dunia kerja saat ini: bagaimana generasi milenial tidak hanya menjadi bagian dari sistem, tetapi juga mampu mengambil peran sebagai pemimpin di tengah perubahan yang serba cepat.
Disusun berdasarkan riset akademik yang berasal dari disertasi doktoral penulis, buku ini tidak sekadar menawarkan teori kepemimpinan, tetapi juga mengemasnya dalam bahasa yang lebih praktis dan relevan dengan realitas organisasi modern.
Peluncuran buku ini digelar di Jakarta, Rabu (20/5/2026), dan mendapat perhatian dari kalangan akademisi serta praktisi sumber daya manusia. Salah satu sorotan utama datang dari gagasan bahwa kepemimpinan di era sekarang tidak lagi bisa bertumpu pada struktur hierarki yang kaku.
Dalam pandangan Dr. Irwan, organisasi perlu bertransformasi dari pola kepemimpinan berbasis kekuasaan menuju ekosistem kolaboratif yang menekankan tujuan bersama.
“Keberlanjutan organisasi saat ini tidak lagi bisa bertumpu pada pola kepemimpinan lama. Kita harus berani bertransisi dari struktur hierarki kaku yang berbasis kekuasaan menuju ekosistem kolaboratif,” ujarnya dalam peluncuran buku.
Salah satu konsep utama yang ditawarkan dalam buku ini adalah The Big 4, yakni empat pilar kepemimpinan yang dianggap penting di era disrupsi. Keempatnya mencakup pembangunan budaya kerja yang sehat, apresiasi terhadap pencapaian tim, pemanfaatan teknologi untuk mempercepat kerja, serta komunikasi dua arah melalui mentoring.
Dari keempat pilar tersebut, budaya organisasi menjadi fokus yang paling ditekankan. Menurut buku ini, lingkungan kerja yang transparan, terbuka, dan kolaboratif menjadi kunci utama dalam mendorong kreativitas serta inovasi.
Selain membahas konsep kepemimpinan, buku ini juga mengulas tantangan yang dihadapi organisasi apabila gagal beradaptasi dengan perubahan generasi kerja. Salah satunya adalah risiko talent drain, yakni kehilangan talenta terbaik akibat sistem kerja yang tidak lagi relevan dengan kebutuhan generasi muda.
Tak hanya itu, penulis juga menyoroti potensi penurunan produktivitas akibat kurangnya komunikasi antar-level dalam organisasi yang semakin kompleks.
Dalam perspektif jangka panjang, buku ini menawarkan gagasan Multiplier Leadership sebagai bagian dari visi menuju Indonesia Emas 2045. Konsep ini menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan yang memberi ruang bagi generasi muda untuk tumbuh dan mengambil peran strategis.
Selain itu, framework LEAD-PRO yang diperkenalkan juga menempatkan milenial sebagai pilar kepemimpinan, sementara Gen Z diposisikan sebagai penggerak produktivitas digital.
Meski sarat dengan konsep dan framework, buku ini tetap mencoba menghadirkan pesan yang sederhana: kepemimpinan bukan lagi soal usia atau jabatan, tetapi soal kemampuan beradaptasi dan membangun kolaborasi.
Dengan pendekatan tersebut, Milenial Bisa Memimpin menjadi salah satu buku yang relevan bagi para profesional muda, manajer, hingga organisasi yang sedang berproses menghadapi perubahan zaman.
Buku ini tidak hanya memotret kondisi dunia kerja saat ini, tetapi juga mengajak pembaca untuk mulai mengubah cara pandang terhadap kepemimpinan di masa depan.