- Polda Metro Jaya menangkap Roy Suryo dan Dokter Tifa pada 19 Juni 2026 atas dugaan pencemaran nama baik Presiden Jokowi.
- Keduanya ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus penyebaran tudingan palsu mengenai keaslian ijazah pendidikan milik Presiden ke-7 RI tersebut.
- Roy Suryo memiliki latar belakang pendidikan sosial dan manajemen, sedangkan Dokter Tifa memiliki latar belakang pendidikan bidang kedokteran.
Suara.com - Kasus tudingan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kembali menjadi sorotan publik. Ini setelah dua figur vokal, Roy Suryo dan Dokter Tifa, ditangkap Polda Metro Jaya pada Jumat, 19 Juni 2026.
Keduanya menjadi tersangka dalam kasus dugaan pencemaran nama baik terkait keaslian ijazah Jokowi. Meski sama-sama terlibat dalam kontroversi yang sama, latar belakang pendidikan mereka cukup berbeda. Berikut beda pendidikan Roy Suryo dan Dokter Tifa.
Pendidikan Roy Suryo
![Roy Suryo [Suara.com/Faqih]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/11/07/24842-roy-suryo.jpg)
Roy Suryo dikenal sebagai mantan Menteri Pemuda dan Olahraga era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekaligus pakar telematika. Ia memiliki riwayat pendidikan yang beragam namun tidak langsung linear dengan bidang teknologi informasi yang ia kuasai di publik.
Roy Suryo menamatkan pendidikan dasar di SD Netral C Yogyakarta, SMP Negeri 5 Yogyakarta, dan SMA Negeri 3 Yogyakarta.
Untuk jenjang sarjana, Roy lulus dari Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada awal 1990-an.
Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan magister di bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat (M.Kes) dengan fokus perilaku dan promosi kesehatan di UGM (1998–2005).
Gelar doktor (Dr.) diraihnya dari Program Ilmu Manajemen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada 2016–2023.
Meski latar belakang formalnya kuat di komunikasi, kesehatan masyarakat, dan manajemen, Roy sering dikaitkan dengan keahlian telematika, multimedia, dan teknologi informasi.
Ia pernah mengajar di Jurusan Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan menjadi pengajar tamu di program komunikasi UGM, khususnya fotografi.
Perbedaan antara pendidikan formal dan citra publiknya sempat menjadi bahan kritik. Beberapa pihak mempertanyakan klaimnya sebagai pakar telematika karena tidak memiliki gelar teknik atau ilmu komputer.
Namun, Roy membangun reputasi tersebut melalui praktik lapangan, penelitian independen, dan aktivitas di bidang digital sejak era awal internet di Indonesia.
Pendidikannya yang luas di bidang sosial, kesehatan, dan manajemen tampaknya mendukung perannya sebagai pengamat kebijakan publik dan teknologi, meski menuai perdebatan.
Pendidikan Dokter Tifa

Berbeda dengan Roy Suryo, Dokter Tifa memiliki latar belakang pendidikan yang lebih terfokus dan linear di bidang kesehatan dan kedokteran.