- Gelaran Running Fest di Masjid Al Ikhlas PIK menyediakan ruang olahraga inklusif bagi seluruh perempuan tanpa memandang latar belakang.
- Peserta mengenakan busana syar'i dapat berlari dengan nyaman menggunakan pakaian berbahan jersey yang ringan dan menyerap keringat.
- Kegiatan tersebut berhasil menciptakan suasana kebersamaan yang mendukung gaya hidup sehat bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Suara.com - Lari kini bukan lagi sekadar olahraga, melainkan telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Dari anak muda hingga orang tua, dari komunitas kecil hingga ajang lari berskala besar, semakin banyak orang menjadikan aktivitas ini sebagai cara untuk menjaga kesehatan sekaligus membangun relasi sosial.
Tren tersebut juga menunjukkan bahwa olahraga lari semakin inklusif. Tidak ada batasan usia, profesi, maupun cara berpakaian untuk bisa ikut merasakan manfaatnya. Bahkan bagi perempuan yang mengenakan busana syar'i, lari tetap dapat dilakukan dengan nyaman dan menyenangkan.
Semangat itulah yang terlihat dalam gelaran Running Fest di Masjid Al Ikhlas PIK. Acara ini menghadirkan ruang bagi seluruh perempuan untuk berolahraga bersama, termasuk mereka yang mengenakan pakaian syar'i.
Salah satu peserta, Lisa, pelari hijab asal Ciledug, menilai kegiatan seperti Running Fest menjadi bukti bahwa olahraga lari dapat dinikmati oleh siapa saja tanpa terkecuali.
“Menurut aku sih ini bagus banget ya kak. Karena lari itu bukan hanya untuk beberapa kalangan tertentu. Yang syari-syari itu bisa ikutan,” ujar Lisa.
Menurutnya, masih ada anggapan di masyarakat bahwa mengenakan pakaian tertutup saat berolahraga akan membuat tubuh terasa lebih panas dan tidak nyaman. Padahal, kenyamanan saat berlari bukan ditentukan oleh model pakaian, melainkan oleh pemilihan bahan yang tepat.
“Kalau lari kan sebenarnya nggak panas ya. Syari itu bukan tentang panas tidaknya sih,” katanya.
Bagi Lisa, kunci utama agar tetap nyaman berlari dengan pakaian syar'i adalah memilih material yang ringan dan mampu menyerap keringat. Ia sendiri memilih pakaian berbahan jersey atau bahan olahraga lain yang dirancang khusus untuk aktivitas fisik.
“Untuk kainnya sendiri ada khusus nggak? Aku pakai yang jersey atau bisa yang pakai irisan gitu boleh,” tuturnya.
Begitu pula untuk hijab yang digunakan. Menurut Lisa, saat ini sudah banyak pilihan hijab olahraga yang nyaman dipakai untuk berlari, mulai dari bahan jersey hingga hijab khusus sport.
“Kerudungnya pakai yang khusus jersey atau yang running sport juga boleh,” ucapnya.
Ia menambahkan, bahan yang menyerap keringat akan membantu tubuh tetap terasa sejuk dan membuat pelari lebih mudah menjaga ritme hingga mencapai garis finis.
“Jersey itu lebih dingin kalau aku ya. Tapi jerseynya jersey yang ini juga yang memang nyerap juga,” jelasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan gaya hidup sehat di Indonesia semakin inklusif. Komunitas lari kini tidak lagi identik dengan kelompok tertentu, melainkan menjadi ruang bersama yang terbuka bagi siapa saja yang ingin bergerak dan hidup lebih sehat.
Hal senada juga dirasakan peserta nonmuslim, Joanne Susanti. Menurutnya, Running Fest menghadirkan suasana yang hangat dan penuh kebersamaan.
“Saya senang bisa ikut karena acaranya terasa inklusif. Semua peserta bisa berolahraga bersama tanpa merasa dibedakan,” ujarnya.
Bagi Joanne, nilai utama dari acara tersebut bukan hanya tentang berlari, tetapi juga tentang semangat saling mendukung di antara para peserta.
“Yang saya rasakan, semua orang saling mendukung dan menikmati acara bersama. Itu sangat positif,” katanya.
Lebih dari sekadar olahraga, lari telah berkembang menjadi ruang kebersamaan yang menghapus berbagai batas, termasuk soal cara berpakaian.
Semangat para peserta di Running Fest menunjukkan bahwa perempuan dengan busana syar'i pun bisa berlari dengan nyaman, percaya diri, dan menjadi bagian dari tren hidup sehat yang kini semakin diminati masyarakat.