- Istilah diaspora kembali ramai dibahas setelah Ragnar Oratmangoen bergabung dengan Persib Bandung.
- Kepindahan ke kompetisi domestik membuat Ragnar menjadi pemain naturalisasi Timnas Indonesia yang tidak lagi berstatus diaspora.
- Simak arti diaspora serta alasan pemain naturalisasi kehilangan status tersebut setelah berkarier di liga lokal.
Suara.com - Istilah diaspora belakangan kembali ramai diperbincangkan di kalangan pencinta sepak bola Indonesia.
Hal itu menyusul bergabungnya sejumlah pemain naturalisasi Timnas Indonesia ke klub-klub Indonesia Super League, termasuk Ragnar Oratmangoen yang resmi memperkuat Persib Bandung.
Kepindahan Ragnar dari klub Belgia FCV Dender ke kompetisi domestik membuatnya kehilangan status sebagai pemain diaspora.
Ia menjadi pemain naturalisasi Timnas Indonesia ke-11 yang tidak lagi menyandang status tersebut karena kini berkarier di liga lokal.
Meski sering digunakan dalam pemberitaan olahraga, tidak sedikit masyarakat yang masih bertanya-tanya mengenai arti diaspora.
Lantas, mengapa Ragnar Oratmangoen dan sejumlah pemain naturalisasi lainnya disebut kehilangan status diaspora setelah bergabung dengan klub lokal?
Berikut penjelasan mengenai arti diaspora beserta alasan di balik perubahan status yang kini menjadi sorotan publik.
Apa Itu Diaspora?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diaspora berarti masa tercerai-berainya suatu bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia atau kelompok masyarakat yang hidup di luar tanah leluhurnya tetapi masih memiliki ikatan dengan asal-usulnya.
Dalam perkembangan maknanya, istilah diaspora juga digunakan untuk menyebut warga keturunan suatu negara yang menetap atau berkarier di luar negeri.
Dalam dunia sepak bola Indonesia, istilah pemain diaspora umumnya merujuk pada pemain berdarah Indonesia yang lahir, besar, atau berkarier di luar negeri, kemudian membela Timnas Indonesia melalui jalur keturunan dan naturalisasi.
Banyak dari mereka tetap memperkuat klub di Eropa atau negara lain meski telah resmi menjadi warga negara Indonesia.
Status diaspora tidak ditentukan oleh kewarganegaraan semata, melainkan juga oleh domisili atau tempat pemain berkarier.
Karena itu, ketika seorang pemain naturalisasi yang sebelumnya merumput di luar negeri memutuskan bergabung dengan klub Liga Indonesia, ia umumnya tidak lagi disebut sebagai pemain diaspora, melainkan pemain naturalisasi yang bermain di kompetisi domestik.
Hal inilah yang terjadi pada Ragnar Oratmangoen setelah resmi bergabung dengan Persib Bandung dari klub Belgia, FCV Dender.
Kepindahan tersebut membuat Ragnar menjadi pemain naturalisasi Timnas Indonesia ke-11 yang kehilangan status diaspora karena kini berkarier di liga lokal bersama klub Indonesia.
Sebelumnya sudah ada Thom Haye, Eliano Reijnders, dan Sandy Walsh yang juga bergabung dengan Persib Bandung. Kemudian ada juga Mauro Zijlstra yang bermain untuk Persija Jakarta, hingga Rafael Struick dan Ivar Jenner yang membela Dewa United.
Meski demikian, hilangnya status diaspora tidak memengaruhi kelayakan pemain untuk membela Timnas Indonesia.
Selama masih memenuhi syarat sebagai warga negara Indonesia dan dipanggil pelatih, pemain tersebut tetap dapat memperkuat skuad Garuda di berbagai ajang internasional, terlepas dari apakah mereka bermain di luar negeri maupun di kompetisi domestik.

Beda Diaspora dan Imigran
Istilah diaspora dan imigran sering dianggap memiliki arti yang sama karena sama-sama berkaitan dengan perpindahan penduduk ke luar negeri.
Padahal, keduanya memiliki makna yang berbeda, terutama dari segi identitas, hubungan dengan negara asal, dan tujuan perpindahan.
Perbedaan utama terletak pada cakupan pengertiannya. Menurut KBBI, imigran adalah orang yang datang dari negara lain dan tinggal menetap secara permanen di suatu negara.
Sedangkan diaspora adalah komunitas yang merantau di luar negeri tapi tetap menjaga hubungan sosial, budaya, ekonomi, atau emosional dengan negara asal.
Seseorang dapat menjadi bagian dari diaspora tanpa harus berstatus imigran permanen. Misalnya, mahasiswa, pekerja profesional, atau atlet yang tinggal sementara di luar negeri tapi masih aktif berkontribusi dan mempertahankan identitas dengan negara asal.
Dalam konteks sepak bola Indonesia, istilah diaspora biasanya digunakan untuk pemain berdarah Indonesia yang lahir atau berkarier di luar negeri serta masih memiliki hubungan dengan Indonesia.
Ketika pemain tersebut memutuskan bermain di kompetisi domestik, ia umumnya tidak lagi disebut sebagai pemain diaspora karena aktivitas profesionalnya sudah tidak berada di luar negeri, meski status kewarganegaraannya tetap sama.