- Banyak perusahaan di Indonesia menghadapi kegagalan saat menerapkan proyek AI ke dalam operasional bisnis sehari-hari akibat data yang terpecah.
- Managing Director Insignia Richard Ho menyatakan bahwa keberhasilan penggunaan AI di perusahaan sangat bergantung pada kekuatan fondasi data.
- Databricks dan Insignia bermitra strategis untuk membantu perusahaan membangun fondasi data yang terintegrasi agar implementasi AI sukses.
Suara.com - Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin banyak diadopsi perusahaan di Indonesia. Namun, tidak sedikit proyek AI yang hanya berhasil saat tahap uji coba (proof of concept), tetapi gagal ketika mulai diterapkan dalam operasional bisnis sehari-hari.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan transformasi digital bukan lagi sekadar memiliki teknologi AI, melainkan memastikan kesiapan data yang menjadi fondasi sistem tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan berinvestasi pada AI generatif untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, hingga pengalaman pelanggan. Memasuki 2026, fokus perusahaan pun mulai bergeser.
Jika sebelumnya hanya bereksperimen dengan AI, kini manajemen menginginkan solusi yang benar-benar siap digunakan (production-grade) dan mampu memberikan dampak nyata terhadap bisnis.
Namun, implementasi tersebut masih menghadapi berbagai kendala.
Salah satu persoalan terbesar adalah data perusahaan yang masih tersebar di berbagai sistem atau data silo, baik pada infrastruktur lama (legacy system), layanan cloud, maupun lingkungan hybrid.
Akibatnya, model AI yang mampu bekerja dengan baik saat pengujian sering kali tidak dapat berjalan optimal ketika digunakan dalam skala operasional.
Pengelolaan data yang belum terintegrasi juga menyulitkan perusahaan dalam menjaga kualitas data, keamanan, serta tata kelola informasi yang dibutuhkan agar AI dapat menghasilkan keputusan yang akurat.
Managing Director Insignia, Richard Ho, mengatakan keberhasilan implementasi AI sangat bergantung pada kualitas fondasi data yang dimiliki perusahaan.
"Perusahaan membutuhkan fondasi data yang kuat agar AI tidak hanya berhenti sebagai demonstrasi teknologi, tetapi benar-benar bisa digunakan dalam operasional bisnis," ujarnya.

Senada, Business Director Insignia Guta Saputra menilai sebagian besar proyek AI yang gagal bukan disebabkan oleh model AI itu sendiri.
"Hampir setiap perusahaan yang kami temui memiliki pengalaman serupa. Demo AI berjalan baik, tetapi proyek berhenti ketika masuk tahap implementasi. Masalahnya biasanya bukan pada model AI, melainkan data yang menjadi fondasinya," katanya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Databricks dan perusahaan teknologi Indonesia Insignia menjalin kemitraan strategis melalui Databricks Delivery Provider Programme (DPP). Kolaborasi ini bertujuan membantu perusahaan membangun fondasi data yang lebih terintegrasi sehingga implementasi AI dapat berjalan hingga tahap produksi.
Melalui kerja sama tersebut, kedua perusahaan akan mendukung implementasi platform data, machine learning, MLOps, hingga AI generatif untuk berbagai sektor, termasuk perbankan, fintech, ritel, dan BUMN.
Pengamat menilai, keberhasilan transformasi AI di masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan algoritma, tetapi juga kesiapan perusahaan dalam membangun ekosistem data yang terintegrasi, aman, dan mudah dikelola. Tanpa fondasi tersebut, investasi AI berisiko berhenti sebatas proyek percobaan tanpa memberikan nilai tambah yang signifikan bagi bisnis.