- Label DARIKU INDONESIA memamerkan koleksi busana ReWoven in White dalam ajang Indonesia Fashion Week 2026.
- Dua desainer muda, Nathania Caya Dewi dan Maxillianus Abbie Kumonong, mendaur ulang limbah perca denim putih menjadi pakaian berkualitas tinggi.
- Koleksi busana tersebut memadukan tema alam Sumatera Utara serta arsitektur Rumah Bolon dan ornamen Gorga Batak.
Suara.com - Industri fashion terus bergerak menuju arah yang lebih bertanggung jawab. Kini, sebuah karya tidak lagi dinilai hanya dari keindahan desainnya, tetapi juga dari cerita, proses, serta dampak yang dihadirkannya bagi lingkungan.
Di tengah perkembangan tersebut, konsep sustainable fashion semakin menjadi perhatian, mendorong para desainer untuk mengeksplorasi material dengan cara yang lebih kreatif tanpa meninggalkan nilai estetika maupun identitas budaya.
Semangat itu diwujudkan oleh DARIKU INDONESIA, label fashion yang mengusung filosofi Ethical, Sustainable, Luxury. Dengan mengedepankan pendekatan upcycling dan reconstruction, DARIKU menghadirkan karya yang memadukan inovasi, craftsmanship, serta kekayaan budaya Nusantara ke dalam setiap koleksinya.
Pada Indonesia Fashion Week 2026, DARIKU INDONESIA by Nathania & Maxillianus mempersembahkan ReWoven in White, sebuah koleksi yang lahir dari keyakinan bahwa setiap material masih memiliki kesempatan untuk hidup kembali.
Mengangkat tema Cloud Dancer in North of Sumatera, koleksi ini menghadirkan interpretasi artistik tentang awan yang bergerak lembut di langit Sumatera Utara, dipadukan dengan karakter kokoh arsitektur Rumah Bolon Batak dan sentuhan modern dari ornamen Gorga Batak.
Perpaduan ketiga elemen tersebut melahirkan busana yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga sarat makna budaya. Di balik tampilannya yang elegan, kekuatan utama ReWoven in White justru terletak pada proses pembuatannya.
DARIKU juga memanfaatkan perca denim putih yang sebelumnya dianggap sebagai limbah, kemudian merekonstruksinya bersama katun putih melalui teknik patchwork dan pengerjaan tangan yang teliti.
Setiap potongan kain disusun kembali menjadi karya couture dengan identitas baru, membuktikan bahwa material sisa tetap mampu menghasilkan busana berkualitas tinggi.
Sentuhan craftsmanship terlihat dalam setiap detail koleksi. Siluet rok balloon merepresentasikan bentuk awan yang bergerak bebas dan ringan, sementara struktur pada bagian atas busana menggambarkan keteguhan Rumah Bolon Batak.
Hasilnya adalah dialog harmonis antara budaya, inovasi desain, dan komitmen terhadap keberlanjutan. Melalui koleksi ini, DARIKU ingin menunjukkan bahwa kemewahan sejati tidak selalu berasal dari penggunaan material baru.
Sebaliknya, nilai sebuah karya justru lahir dari kreativitas dalam mengolah kembali material yang ada, kepedulian terhadap lingkungan, serta penghormatan terhadap warisan budaya Indonesia.
Di balik lahirnya DARIKU INDONESIA terdapat dua talenta muda, Nathania Caya Dewi dan Maxillianus Abbie Kumonong. Nathania yang baru menyelesaikan pendidikan menengah atas dan akan melanjutkan studi Fashion Design di ESMOD Jakarta memiliki ketertarikan besar terhadap eksplorasi material, desain kontemporer, serta sustainable fashion yang menjadi fondasi identitas kreatif DARIKU.
Sementara itu, Maxillianus yang tengah menempuh pendidikan Teknik Industri di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menghadirkan perspektif berbeda dalam pengembangan brand.
Latar belakang akademiknya mendukung inovasi material, efisiensi proses produksi, hingga penerapan sistem yang selaras dengan konsep fashion berkelanjutan.
Perjalanan kreatif keduanya juga mendapat pendampingan dari desainer Indonesia Elok Re Napio sebagai Creative Mentor. Melalui bimbingannya, proses pengembangan konsep, eksplorasi desain, pemilihan material, hingga penyempurnaan koleksi dilakukan agar setiap karya memiliki identitas yang kuat sekaligus relevan dengan perkembangan industri fashion saat ini.