Label Ramah Lingkungan Bisa Picu Konsumsi Berlebih, Bagaimana Bisa?

Bimo Aria Fundrika

Minggu, 28 Juni 2026 | 17:15 WIB
Label Ramah Lingkungan Bisa Picu Konsumsi Berlebih, Bagaimana Bisa?
Ilustrasi produk ramah lingkungan (pixabay.com)

Suara.com - Selama ini, label “ramah lingkungan” sering dianggap sebagai tanda bahwa suatu produk lebih baik bagi bumi. Di industri fashion, pendekatan seperti penggunaan bahan daur ulang, penyewaan pakaian, hingga konsep ekonomi sirkular banyak dipromosikan sebagai cara mengurangi limbah dan emisi.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan hasil yang lebih kompleks: produk yang dianggap lebih hijau ternyata juga bisa membuat orang membeli lebih banyak.

Konsep ekonomi sirkular dirancang agar material tetap berada dalam siklus penggunaan lebih lama sehingga kebutuhan produksi baru bisa ditekan. Dalam praktiknya, ini dilakukan melalui penggunaan bahan daur ulang, perpanjangan umur produk, hingga sistem reuse dan rental.

Tetapi penelitian How Circular Economy Innovation Can Backfire on the Environment: Quantifying the Rebound Effect of the Textiles and Clothing Sector menemukan adanya fenomena backfire rebound effect atau efek bumerang.

Fenomena ini terjadi ketika inovasi yang seharusnya menurunkan dampak lingkungan justru memicu peningkatan produksi dan konsumsi.

Salah satu penyebabnya adalah biaya produksi yang menjadi lebih efisien, sementara konsumen merasa lebih nyaman membeli lebih banyak karena menganggap produk tersebut sudah “lebih hijau”.

Ketika Label Hijau Mendorong Konsumsi Berlebih

Sebagai contoh, pakaian berbahan daur ulang sering dipasarkan sebagai produk yang lebih ramah lingkungan. Namun, label tersebut dapat memicu konsumen membeli pakaian lebih banyak dibandingkan sebelumnya. Akibatnya, permintaan terhadap pakaian baru terus meningkat sehingga manfaat lingkungan dari proses daur ulang menjadi berkurang, bahkan dapat hilang sama sekali.

Penelitian tersebut menghitung rata-rata efek bumerang global sebesar 1,6, angka yang tergolong tinggi. Secara sederhana, setiap peningkatan inovasi lingkungan sebesar satu persen di sektor tekstil justru diikuti kenaikan produksi tekstil baru sekitar 0,6 persen.

baca juga

Temuan ini mengingatkan pada Paradoks Jevons, yang dikemukakan oleh ekonom Inggris William Stanley Jevons dalam buku "The Coal Question" pada 1865. Jevons menemukan bahwa peningkatan efisiensi penggunaan batu bara justru menyebabkan konsumsi batu bara semakin meningkat karena penggunaannya menjadi lebih murah dan meluas.

Fenomena tersebut menjadi perhatian karena industri tekstil merupakan salah satu penyumbang dampak lingkungan terbesar di dunia. Industri ini mengonsumsi sekitar 20 persen penggunaan air global, menghasilkan sekitar 1,7 miliar ton emisi karbon dioksida setiap tahun, serta memproduksi sekitar 92 juta ton limbah tekstil. Ironisnya, kurang dari 1 persen limbah tersebut benar-benar didaur ulang menjadi pakaian baru. 

Inovasi Perlu Diiringi Kebijakan dan Perubahan Perilaku

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa ekonomi sirkular bukanlah pendekatan yang harus ditinggalkan. Sebaliknya, inovasi perlu diiringi berbagai kebijakan pendukung, seperti penerapan pajak terhadap produksi yang berdampak besar pada lingkungan, pembatasan produksi pakaian baru, serta pemberian insentif untuk memperpanjang umur pakai produk. Langkah-langkah tersebut dinilai dapat menekan peningkatan konsumsi yang berlebihan sehingga manfaat lingkungan dari ekonomi sirkular benar-benar dapat tercapai.

Kebijakan juga perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara. Negara produsen tekstil seperti Bangladesh, misalnya, sangat bergantung pada industri garmen yang menyumbang lebih dari 80 persen nilai ekspornya, sebagaimana dilaporkan Reuters (27/6/2026). Industri tersebut juga menyerap jutaan tenaga kerja sehingga transisi menuju fesyen berkelanjutan perlu mempertimbangkan dampak ekonomi terhadap para pekerja.

Selain kebijakan pemerintah, perubahan perilaku konsumen juga memegang peranan penting. Masyarakat didorong untuk membeli pakaian sesuai kebutuhan, memperbaiki pakaian yang rusak, memanfaatkan kembali pakaian yang masih layak, serta tidak mudah tergoda oleh klaim "ramah lingkungan" semata.

Menurut para peneliti, keberhasilan fashion berkelanjutan tidak hanya bergantung pada inovasi teknologi, tetapi juga pada kemampuan mengurangi konsumsi berlebihan agar manfaat lingkungan benar-benar dapat dirasakan.

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

3 Rekomendasi Setrika Uap yang Cepat Panas, Daya Mulai 800 Watt

3 Rekomendasi Setrika Uap yang Cepat Panas, Daya Mulai 800 Watt

Lifestyle | Minggu, 28 Juni 2026 | 14:35 WIB

Bisakah Plastik Dibuat Lebih Mudah Terurai? Penelitian Baru Tawarkan Pendekatan Lewat Upcycling

Bisakah Plastik Dibuat Lebih Mudah Terurai? Penelitian Baru Tawarkan Pendekatan Lewat Upcycling

Lifestyle | Rabu, 24 Juni 2026 | 11:30 WIB

Label Poliester Daur Ulang Terlihat Ramah Lingkungan, tetapi Apakah Benar Berkelanjutan?

Label Poliester Daur Ulang Terlihat Ramah Lingkungan, tetapi Apakah Benar Berkelanjutan?

Lifestyle | Rabu, 24 Juni 2026 | 10:32 WIB

Terkini

Menolak Mati di Usia 30: Kebangkitan 'Case 15', Cetak Biru Punk Rock Superman Is Dead

Menolak Mati di Usia 30: Kebangkitan 'Case 15', Cetak Biru Punk Rock Superman Is Dead

Entertainment | Minggu, 27 September 2026 | 00:01 WIB

TPA Cikundul Sukabumi Terbakar, Api Merambat Hingga Dasar Gunungan Sampah

TPA Cikundul Sukabumi Terbakar, Api Merambat Hingga Dasar Gunungan Sampah

News | Sabtu, 26 September 2026 | 23:28 WIB

Tim Gabungan Buka Pintu Satu per Satu Usut Dugaan Pelanggaran di Lapas Cibinong

Tim Gabungan Buka Pintu Satu per Satu Usut Dugaan Pelanggaran di Lapas Cibinong

Jabar | Sabtu, 26 September 2026 | 23:20 WIB

Klarifikasi Pengelola TPST Abu & Co di Tangsel, Mengaku Belum Mengantongi Izin dan Dokumen IPAL

Klarifikasi Pengelola TPST Abu & Co di Tangsel, Mengaku Belum Mengantongi Izin dan Dokumen IPAL

Banten | Sabtu, 26 September 2026 | 22:44 WIB

Kejar PAD Rp520 Juta dari Sektor Parkir 2026, Dishub Kota Tangsel Imbau Pengelola Taat Regulasi

Kejar PAD Rp520 Juta dari Sektor Parkir 2026, Dishub Kota Tangsel Imbau Pengelola Taat Regulasi

Banten | Sabtu, 26 September 2026 | 22:34 WIB

Realisasi Pajak Parkir Capai Rp15 Miliar, Bapenda Kota Tangsel Siapkan 6 Jurus Optimalkan PAD

Realisasi Pajak Parkir Capai Rp15 Miliar, Bapenda Kota Tangsel Siapkan 6 Jurus Optimalkan PAD

Banten | Sabtu, 26 September 2026 | 22:20 WIB

65 Kasus Flu Babi H1N1 Terdeteksi di Bandung

65 Kasus Flu Babi H1N1 Terdeteksi di Bandung

Jabar | Sabtu, 26 September 2026 | 22:14 WIB

Menikmati Sejuknya Jogja dengan Nuansa Jepang di Onsen Resort Kaliurang

Menikmati Sejuknya Jogja dengan Nuansa Jepang di Onsen Resort Kaliurang

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 21:59 WIB

Urutan Elemen Shio Paling Terkuat dan Paling Dominan dalam Feng Shui, Kenali 5 Unsurnya

Urutan Elemen Shio Paling Terkuat dan Paling Dominan dalam Feng Shui, Kenali 5 Unsurnya

Lifestyle | Sabtu, 26 September 2026 | 21:25 WIB

Isuzu Andalkan Kualitas dan Layanan Purnajual untuk Hadapi Gempuran Merek China

Isuzu Andalkan Kualitas dan Layanan Purnajual untuk Hadapi Gempuran Merek China

Otomotif | Sabtu, 26 September 2026 | 20:54 WIB

×