- Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia, Ni Made Daryanti, menyatakan perlunya evaluasi dana darurat dan perlindungan aset saat risiko terjadi.
- Allianz Indonesia mencatat pembayaran klaim kesehatan sebesar Rp1,8 triliun pada Januari hingga Juni 2026 akibat berbagai penyakit.
- Financial check-up pertengahan tahun membantu masyarakat menilai kembali target keuangan, riwayat transaksi, serta batas cicilan ideal.
Suara.com - Kita terbiasa mengingat jadwal medical check up. Saat badan terasa tidak fit, kita segera memeriksakan kesehatan. Bahkan banyak perusahaan kini rutin memfasilitasi karyawannya untuk melakukan pemeriksaan kesehatan setiap tahun.
Namun, ada satu hal yang sering luput diperiksa: kesehatan finansial.
Padahal, kondisi keuangan juga bisa "sakit" tanpa disadari. Awalnya hanya merasa tabungan berkurang sedikit demi sedikit. Lalu kartu kredit mulai sering dipakai untuk menutup kebutuhan bulanan.
Dana darurat yang tadinya aman perlahan habis karena biaya sekolah, liburan keluarga, atau kebutuhan mendadak. Semuanya terasa wajar sampai suatu hari muncul pengeluaran besar yang benar-benar tidak diprediksi.
Pertengahan tahun menjadi waktu yang tepat untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apakah kondisi keuangan saya masih sekuat enam bulan lalu?
Enam bulan pertama dalam setahun memang sering menjadi periode yang "mahal". Ada pengeluaran untuk Hari Raya, libur panjang, tahun ajaran baru, hingga berbagai kebutuhan keluarga yang datang silih berganti. Belum lagi kenaikan biaya hidup dan risiko kesehatan yang bisa muncul kapan saja.
Di sinilah pentingnya melakukan financial check-up. Bukan sekadar melihat sisa saldo rekening, tetapi mengevaluasi apakah fondasi keuangan masih cukup kuat menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan.
Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia, Ni Made Daryanti, mengatakan banyak orang masih menganggap perencanaan keuangan hanya berkaitan dengan menabung atau berinvestasi. Padahal, perlindungan terhadap aset yang sudah dibangun memiliki peran yang sama pentingnya.
"Perencanaan keuangan yang baik tidak hanya berfokus pada bagaimana menumbuhkan aset melalui tabungan atau investasi, tetapi juga memastikan aset tersebut tetap terlindungi saat risiko datang. Risiko mungkin tidak selalu dapat diprediksi, tetapi dampak finansialnya dapat dipersiapkan. Financial check-up menjadi kesempatan untuk meninjau kembali apakah dana darurat, perlindungan kesehatan, maupun target keuangan yang telah disusun di awal tahun masih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi saat ini," ujar Ni Made.
Pernyataan tersebut terasa semakin relevan ketika melihat besarnya dampak finansial yang ditimbulkan oleh risiko kesehatan. Data Allianz Indonesia menunjukkan, sepanjang Januari hingga Juni 2026 perusahaan membayarkan klaim sebesar Rp1,8 triliun, meningkat 4,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Lima jenis klaim kesehatan dengan nilai tertinggi didominasi oleh kanker payudara dengan total klaim lebih dari Rp77,6 miliar, disusul diare (lebih dari Rp50,4 miliar), infeksi saluran pernapasan atas (lebih dari Rp34 miliar), penebalan dinding pembuluh darah arteri jantung (lebih dari Rp32,8 miliar), dan infeksi bakteri (lebih dari Rp29,3 miliar).
Data tersebut menjadi pengingat bahwa penyakit bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga bisa mengganggu stabilitas keuangan keluarga apabila belum dipersiapkan dengan baik.
Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah kondisi finansial kita masih sehat?
Menurut Allianz Indonesia, ada lima hal sederhana yang bisa dijadikan checklist saat melakukan financial check-up.
Yang pertama adalah mengecek kembali dana darurat. Idealnya, dana darurat masih mampu menutup kebutuhan hidup selama tiga hingga enam bulan. Bila selama enam bulan terakhir dana tersebut sempat digunakan, mengisinya kembali sebaiknya menjadi prioritas sebelum menambah investasi atau pengeluaran lain.