- Roni Timothy meluncurkan buku berjudul The Epic Journey of Vershome di Wonder Bookstore Jakarta Selatan.
- Buku tersebut mendokumentasikan perjalanan studio desain pameran Vershome serta filosofi yang menjadi fondasi karya mereka.
- Peluncuran buku ini diharapkan dapat menginspirasi para pelaku industri kreatif Indonesia untuk mendokumentasikan pengetahuan mereka.
Suara.com - Di era ketika inspirasi desain begitu mudah ditemukan lewat media sosial, ternyata masih ada satu bidang yang nyaris tak memiliki dokumentasi dalam bentuk buku.
Kekosongan itulah yang dirasakan Roni Timothy, Founder & Creative Director Vershome, selama bertahun-tahun berkarya di industri desain pameran.
Alih-alih hanya mengeluh, ia memilih mengubah keresahan tersebut menjadi sebuah karya yang diharapkan dapat menginspirasi para pelaku industri kreatif berikutnya.
Keinginan itu kemudian diwujudkan lewat buku The Epic Journey of Vershome, yang resmi diluncurkan di Wonder Bookstore, Ashta District 8, Jakarta Selatan.
Lebih dari sekadar buku portofolio, karya ini menjadi catatan perjalanan Vershome dalam membangun studio desain, merawat kepercayaan klien, sekaligus membagikan filosofi yang selama ini menjadi fondasi setiap karya mereka.
Roni bercerita, kecintaannya pada buku visual sudah tumbuh sejak lama. Setiap kali akan memulai sebuah proyek, ia selalu meluangkan waktu mencari berbagai referensi untuk memahami proses berpikir di balik sebuah desain.
Menurutnya, inspirasi terbaik bukan sekadar melihat hasil akhir, tetapi memahami alasan mengapa sebuah karya diciptakan.
"Saya tipikal orang yang sebelum mulai mendesain harus mencari referensi yang cukup. Saya mencoba menghindari Pinterest, mencoba menghindari Google. Saya ingin mencari sesuatu yang menjelaskan kenapa orang membuat desain seperti itu. Namun ternyata susah sekali," ujarnya.
Pencarian itu bahkan membawanya ke berbagai toko buku di London, Tokyo, hingga Seoul. Meski rak-rak dipenuhi buku tentang desain rumah, restoran, apartemen, hingga museum, ia tak menemukan buku yang secara khusus membahas desain booth dan exhibition.
"Dari situ saya merasa ada sesuatu yang hilang. Kok belum ada ya buku yang benar-benar membahas desain exhibition secara spesifik? Akhirnya saya berpikir, kenapa tidak membuatnya sendiri? Siapa tahu bisa menjadi referensi bagi banyak orang," katanya.
Awalnya, Roni membayangkan bukunya hanya akan berisi dokumentasi visual berbagai proyek yang pernah dikerjakan Vershome. Namun, di tengah proses penyusunan, perspektifnya berubah setelah menempuh pendidikan magister di bidang manajemen.
Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa pertumbuhan sebuah studio desain bukan hanya ditentukan oleh kualitas karya, tetapi juga oleh budaya kerja dan hubungan antarmanusia yang dibangun di dalamnya.
"Saya belajar bahwa organisasi dan culture itu sangat penting untuk membangun perusahaan yang lebih besar. Saya melihat ternyata yang membuat kami bisa bertumbuh bukan hanya desainnya, tetapi human interaction. Cara kami bekerja dengan orang, memahami tujuan mereka, sampai bagaimana kami membangun hubungan dengan klien," jelasnya.
Kesadaran itulah yang membuat The Epic Journey of Vershome berkembang menjadi lebih dari sekadar kumpulan gambar. Buku ini juga mengajak pembaca memahami proses berpikir, nilai, hingga perjalanan membangun sebuah studio kreatif yang terus bertumbuh bersama orang-orang di dalamnya.
Bagi Roni, sebuah desain seharusnya selalu memiliki makna. Visual yang menarik saja tidak cukup jika tidak dibangun di atas tujuan yang jelas.
"Tanpa adanya value, semuanya akan terasa kosong. Tidak ada tujuannya. Kami percaya ketika sebuah karya dibangun dengan value, maka karya itu memiliki purpose," tuturnya.
Nilai tersebut kemudian dirangkum dalam filosofi Epic, yakni Experience, Prestigious, Inspire, dan Creative. Keempat prinsip itu menjadi panduan Vershome dalam menerjemahkan karakter setiap klien menjadi pengalaman ruang yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu membangun koneksi emosional dengan pengunjung.
Selama lebih dari satu dekade, Vershome telah dipercaya mengerjakan berbagai proyek untuk brand lokal maupun internasional, seperti Wardah, Michael Kors, YouTube, PINTU, Somethinc, Mamitoko, hingga %Arabica.
Beragam pengalaman itu menjadi bagian dari cerita yang dituangkan dalam buku ini, sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah ruang pamer dapat menjadi media bercerita, bukan sekadar tempat memajang produk.
Lewat buku pertamanya, Roni berharap semakin banyak pelaku industri kreatif Indonesia terdorong untuk mendokumentasikan pengetahuan dan pengalaman mereka sendiri.
Sebab, menurutnya, sebuah perjalanan bukan hanya layak dikenang, tetapi juga dibagikan agar dapat menjadi inspirasi bagi generasi kreatif berikutnya.