Suara.com - Bagi masyarakat Pamona di sekitar Danau Poso, Sulawesi Tengah, padi bukan sekadar bahan makanan. Ada kisah yang selalu diceritakan turun-temurun bernama Tanoana mPae, atau "sukma padi". Kisah ini bercerita tentang seorang putri kahyangan yang rela turun ke bumi dan mengorbankan dirinya, agar kakaknya yang sudah lebih dulu hidup di bumi punya sumber makanan. Dari tanah bekas pusaranya, tumbuhlah padi dan berbagai tanaman pangan lain.
Karena percaya pangan hadir dari sebuah pengorbanan, masyarakat Pamona pun terbiasa mengambil secukupnya dari alam dan menghormati setiap butir padi yang mereka tanam.
Menghormati Makanan, Menghormati Alam
Menurut Ngkay W. Sigilipu, salah seorang tetua adat Poso yang menuturkan kisah ini, pesan di baliknya sangat sederhana: menghormati makanan berarti menghormati alam. Jika alam rusak, sumber makanan pun ikut rusak.
Nilai itu diwujudkan lewat berbagai praktik nyata. Salah satunya adalah Poniu, tempat menyimpan padi agar tetap awet, menjadi cadangan pangan sekaligus bibit untuk musim tanam berikutnya. Ada pula tradisi Padungku, perayaan syukur panen yang mempertemukan warga untuk berbagi hasil bumi dan menghidupkan semangat gotong royong atau mosintuwu.
Relevan di Tengah Krisis Iklim
Sulawesi Tengah termasuk wilayah yang cukup sering dilanda bencana hidrometeorologi. Banjir, longsor, dan kekeringan datang silih berganti, salah satunya dipicu oleh berkurangnya tutupan hutan di sejumlah kabupaten. Musim pun menjadi semakin sulit diprediksi.
Di tengah situasi ini, filosofi Tanoana mPae mengingatkan sesuatu yang mudah terlupakan: manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian darinya. Cara pandang ini sejalan dengan semangat kedaulatan pangan, yakni memastikan masyarakat tetap punya kendali atas cara pangan mereka ditanam dan dijaga, bukan bergantung sepenuhnya pada rantai pasok yang panjang dan rentan.
Guru besar psikologi Universitas Surabaya, Teguh Wijaya Mulya, yang ikut mendorong kearifan lokal ini masuk ke pendidikan perubahan iklim, mengatakan,
"Manusia tidak bisa hidup seperti ini terus. Kita harus belajar hidup berdampingan dengan alam, itu satu-satunya cara untuk bisa terus bertahan."
Ia menambahkan bahwa nenek moyang sebenarnya sudah lebih dulu memahami cara itu, jauh sebelum manusia modern mengenal istilah krisis iklim.
Menanam Sendiri, Langkah Kecil yang Berarti
Salah satu ajakan yang muncul dari kisah ini adalah kembali menanam sebagian bahan pangan sendiri, seperti cabai, tomat, atau sayuran di kebun dan halaman rumah. Langkah kecil ini dapat memangkas jejak karbon dari transportasi pangan yang biasanya menempuh jarak jauh sebelum sampai ke meja makan.
Tanoana mPae mengajarkan bahwa menjaga pangan sama artinya dengan menjaga kehidupan. Ketika sistem pangan modern kian goyah oleh cuaca ekstrem, kearifan yang sudah teruji selama bergenerasi ini justru menjadi pengingat sekaligus jalan pulang bagi masyarakat Pamona, untuk terus hidup selaras dengan alam.
Penulis: Inesia Dian