- Laporan Climate Central menyatakan penduduk kota di Indonesia kehilangan 84 jam tidur setiap tahun akibat suhu malam yang panas.
- Suhu malam yang hangat akibat pemanasan global mengganggu kemampuan alami tubuh sehingga durasi dan kualitas tidur masyarakat menurun.
- Kurang tidur akibat krisis iklim ini memicu berbagai masalah kesehatan serius, penurunan produktivitas, serta risiko gangguan kognitif.
Suara.com - Krisis iklim tidak hanya memicu cuaca ekstrem, tetapi juga mulai mengganggu kualitas tidur masyarakat. Laporan Climate Change is Costing People Sleep dari Climate Central mengungkapkan, penduduk di kota-kota Indonesia kehilangan rata-rata 84 jam tidur per tahun akibat suhu malam yang semakin panas.
Dalam laporan tersebut disebutkan, sekitar tujuh jam dari total kehilangan waktu tidur itu berkaitan dengan perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Sementara sisanya dipicu oleh suhu malam yang tinggi secara keseluruhan.
Suhu malam yang semakin hangat mengganggu kemampuan alami tubuh untuk menurunkan suhu inti saat tidur. Akibatnya, durasi tidur menjadi lebih pendek dan kualitas tidur menurun, terutama saat periode panas ekstrem, di wilayah beriklim hangat, dan pada kelompok yang lebih rentan.

Secara global, rata-rata penduduk dunia kehilangan hampir 56 jam tidur setiap tahun akibat tingginya suhu malam selama periode 2020–2025. Sekitar enam jam di antaranya diperkirakan merupakan dampak dari pemanasan global yang dipicu aktivitas manusia.
Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan yang mengalami kehilangan waktu tidur cukup tinggi. Penduduk di sejumlah kota di kawasan ini diperkirakan kehilangan 78 hingga 91 jam tidur per tahun, termasuk Indonesia yang mencapai rata-rata 84 jam.
Climate Central juga menemukan bahwa dampak perubahan iklim terhadap waktu tidur terus meningkat. Dibandingkan awal 1970-an, kehilangan waktu tidur yang berkaitan dengan perubahan iklim kini setidaknya telah berlipat ganda di hampir seluruh kota yang dianalisis di dunia.
Kurang tidur bukan sekadar membuat tubuh lelah. Berbagai penelitian menunjukkan kondisi ini berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan suasana hati, penurunan fungsi kognitif, produktivitas, serta masalah kesehatan jantung dan sistem kekebalan tubuh.
Meski penggunaan pendingin ruangan dapat membantu mengurangi dampak panas pada malam hari, akses terhadap teknologi pendingin masih bergantung pada tingkat pendapatan. Climate Central juga mengingatkan bahwa lansia, perempuan, masyarakat di negara berpendapatan rendah hingga menengah, serta penduduk yang tinggal di wilayah beriklim panas menghadapi risiko kehilangan waktu tidur yang lebih besar akibat suhu malam yang terus meningkat.