- Uban muncul akibat penurunan produksi melanin karena faktor usia, genetik, atau gaya hidup tidak sehat.
- Para ahli medis melarang mencabut uban karena dapat merusak folikel, memicu infeksi, dan menyebabkan kebotakan.
- Sebagai solusi aman, sebaiknya gunting uban di dekat pangkal atau menggunakan pewarna rambut.
Suara.com - Melihat sehelai rambut putih alias uban menyempil di antara rambut hitam sering kali memicu dorongan spontan untuk langsung menariknya. Namun, pertanyaannya, apakah boleh mencabut uban?
Sebagian orang menganggap kebiasaan ini sebagai cara cepat dan instan untuk menjaga penampilan tetap awet muda.
Sayangnya, tindakan sepele ini justru menyimpan risiko masalah kesehatan pada kulit kepala dan folikel rambut jika dilakukan terus-menerus.
Mengapa Uban Muncul dan Bagaimana Mitos di Masyarakat?
Secara medis, uban muncul ketika sel-sel pembuat warna rambut (melanosit) mulai berhenti memproduksi pigmen melanin.
Kondisi ini umumnya terjadi seiring pertambahan usia, namun bisa juga dipicu oleh faktor genetik, stres, kekurangan nutrisi, hingga pola hidup.
"Uban muncul karena menurunnya produksi melanin di folikel rambut. Kondisi ini bisa muncul akibat penuaan, keturunan, malnutrisi, kebiasaan merokok, efek samping obat, gangguan hormon, dan vitiligo," demikian dikutip dari laman Alodokter.
Di masyarakat, beredar mitos populer yang menyebutkan bahwa mencabut satu uban akan membuat uban lain tumbuh makin banyak.
Padahal secara biologis, setiap helai rambut tumbuh dari satu kantung folikel tersendiri. Mencabut satu helai tidak akan memengaruhi folikel rambut di sekitarnya.
Meskipun mitos tersebut tidak benar, secara medis para ahli kesehatan tetap tidak menyarankan kebiasaan mencabut uban.
Efek Samping dari Kebiasaan Mencabut Uban
Mencabut uban berpotensi merusak struktur kulit kepala. Beberapa efek buruk yang dapat terjadi meliputi:
- Kerusakan Folikel Rambut: Paksaan saat menarik helai rambut dapat merobek dinding folikel. Jika dilakukan berulang kali, folikel bisa mati permanen sehingga rambut baru tidak dapat tumbuh lagi.
- Risiko Infeksi dan Iritasi: Saat uban dicabut, area kulit kepala akan meninggalkan luka terbuka mikro. Bakteri dapat dengan mudah masuk ke pori-pori tersebut dan memicu timbulnya bisul atau bisul akar rambut (folikulitis).
- Penipisan Rambut dan Kebotakan: Kerusakan pada folikel yang terjadi terus-menerus akan menyebabkan area tersebut berhenti memproduksi rambut. Akibatnya, rambut justru akan menipis di area yang sering dicabut.
Solusi Aman Mengatasi Uban
Daripada mengambil risiko merusak kulit kepala, ada beberapa langkah yang lebih aman untuk menyiasati uban.
- Menggunakan Pewarna Rambut: Pilih cat rambut yang bebas dari bahan kimia keras seperti amonia agar kesehatan kulit kepala tetap terjaga.
- Menggunting Rambut Putih: Jika uban yang tumbuh hanya satu atau dua helai, guntinglah uban tepat di dekat pangkal kulit kepala tanpa perlu menarik akarnya.
- Memenuhi Nutrisi Rambut: Konsumsi makanan kaya vitamin B12, vitamin D, zat besi, serta antioksidan untuk memperlambat penuaan sel folikel.
Kesimpulannya, jika kamu masih ragu dan bertanya-tanya apakah boleh mencabut uban, jawaban secara medis adalah tidak disarankan.
Daripada mencabut uban dan memicu infeksi atau penipisan rambut, lebih baik merawat kesehatan kulit kepala dengan nutrisi seimbang atau menggunakan teknik pewarnaan yang aman.