- Roemah Koffie meluncurkan produk kopi Cing Cangkeling dari perkebunan keluarga Roby Siswanda di Mandalagiri, Garut.
- Produk kopi ini menggunakan varietas Yellow Bourbon yang diolah dengan metode Classic Natural berprofil Espresso Roast.
- Cing Cangkeling tersedia dalam kemasan 200 gram sebagai seasonal coffee sejak 18 September hingga 31 Oktober 2026.
Suara.com - Bukan sekadar soal rasa, secangkir kopi juga bisa membawa cerita panjang tentang sebuah tempat, keluarga, hingga perjuangan orang-orang yang merawatnya.
Hal itulah yang terasa dalam Cing Cangkeling, premium roasted coffee beans terbaru dari Roemah Koffie yang menggunakan biji kopi single origin dari Mandalagiri, Garut, Jawa Barat.
Cing Cangkeling dikembangkan dari kebun keluarga petani kopi setempat yang telah dirawat sejak 2009. Berada di kawasan Mandalagiri dengan ketinggian sekitar 1.500–1.600 meter di atas permukaan laut, kopi ini memiliki karakter yang khas, terutama karena menggunakan varietas Yellow Bourbon.
Yellow Bourbon menjadi salah satu keunikan Cing Cangkeling. Jika kebanyakan buah kopi berubah menjadi merah ketika matang, varietas ini justru memiliki buah berwarna kuning saat mencapai kematangan.
Karakter tersebut kemudian berpadu dengan proses Classic Natural yang menghasilkan profil rasa fruity dan juicy, dengan sweetness yang kaya dan berlapis.

Dalam setiap tegukannya, Cing Cangkeling menghadirkan notes stone fruit, anggur, beri, hingga gula merah. Karakternya dibuat tetap ekspresif melalui profil Espresso Roast sehingga dapat dinikmati dalam berbagai sajian kopi.
Namun, keistimewaan Cing Cangkeling tidak berhenti pada varietas maupun profil rasanya. Ada cerita keluarga yang membuat kopi ini memiliki makna lebih dalam.
Pemilik perkebunan kopi di Mandalagiri, Roby Siswanda, mengungkapkan bahwa Cing Cangkeling merupakan hasil perjalanan panjang keluarganya dalam merawat kebun kopi. Perjalanan tersebut bahkan telah dimulai sejak 2009.
“Cing Cangkeling bukan sekadar nama atau produk. Cing Cangkeling hadir dari kebun kami sejak 2009. Bisa menyampaikan beans ini kepada teman-teman adalah bagian dari perjuangan bapak sejak tahun 2009, bagaimana beliau survive untuk menghidupi keluarga,” ujar Roby Siswanda.
Perjalanan itu pula yang mendorong Roby untuk tidak hanya mengandalkan hasil kebun. Melihat potensi kopi yang dimiliki keluarganya, ia mulai mempelajari coffee processing secara mandiri.
Roby kemudian mengembangkan sejumlah metode pengolahan, termasuk Red Anaerob dan Classic Natural. Dari proses tersebut, potensi biji kopi Mandalagiri semakin terlihat dan kemudian mempertemukan Roby dengan Roemah Koffie.
Roemah Koffie lalu mengajak Roby berkolaborasi untuk membawa kopi dari kebun keluarga tersebut kepada penikmat kopi yang lebih luas. Kolaborasi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kopi Indonesia melalui karakter daerah asal dan cerita manusia di baliknya.
“Bagi keluarga kami, kebun ini telah menjadi bagian dari perjalanan yang panjang. Senang rasanya bisa bertemu dengan Roemah Koffie karena perjalanan panjang kopi ini sekarang dapat dikenal lebih luas, bukan hanya dari rasanya, tetapi juga dari cerita di baliknya, bahkan tempat asalnya,” kata Roby.
Bukan Sekadar Nama, Cing Cangkeling Punya Makna Mendalam
Nama Cing Cangkeling sendiri bukan dipilih secara sembarangan. Roemah Koffie mengambilnya dari lagu tradisional Jawa Barat yang lekat dengan ungkapan Sunda “cing cicing, kade eling”.
Ungkapan tersebut dapat dimaknai sebagai ajakan untuk berhenti sejenak, berpikir, dan menenangkan diri. Makna ini kemudian diterjemahkan Roemah Koffie sebagai pengalaman menikmati kopi dengan lebih perlahan, bukan sekadar meminum kopi, tetapi memberikan waktu untuk mengapresiasi rasa sekaligus cerita di baliknya.
Bagi Roemah Koffie, Mandalagiri sendiri merupakan salah satu kawasan yang memiliki karakter spesial dari Garut. Cing Cangkeling kemudian dikurasi untuk menghadirkan karakter tersebut ke dalam sebuah produk yang bisa dinikmati lebih luas.
Felix TJ, CEO Roemah Koffie, mengatakan setiap kopi memiliki cerita yang ingin disampaikan kepada konsumen.
“Bagi kami, setiap kopi memiliki cerita. Melalui Cing Cangkeling, kami ingin membawa cerita dari Mandalagiri ke dalam setiap cangkir, sehingga konsumen tidak hanya menikmati rasanya, tetapi juga mengenal daerah asal, karakter kopi, dan manusia yang telah merawat serta mengembangkannya,” ujar Felix.
Menariknya, makna Cing Cangkeling juga berkaitan dengan keluarga. Nama tersebut dimaknai sebagai doa dan doa bersama keluarga. Dengan begitu, secangkir kopi yang berasal dari kebun keluarga di Mandalagiri ini seolah membawa perjalanan dari sebuah keluarga yang telah bertahan dan merawat kebunnya selama bertahun-tahun.
Karena itu, Cing Cangkeling menjadi lebih dari sekadar single origin coffee. Ada perjalanan sejak 2009, ada kebun keluarga, ada proses belajar dan mengembangkan pengolahan kopi, sekaligus ada upaya membawa hasil perkebunan Mandalagiri agar dapat dikenal oleh lebih banyak orang.
Dengan profil Espresso Roast, kata Felix, Cing Cangkeling dirancang untuk tetap menunjukkan karakter yang kaya dan ekspresif ketika disajikan sebagai minuman kopi.
Penikmat kopi dapat menikmatinya sebagai Black Coffee untuk merasakan karakter beans yang lebih direct dan menonjol. Sementara bagi mereka yang menyukai tekstur lebih creamy, Cing Cangkeling juga dapat dinikmati sebagai White Coffee dengan karakter yang lebih rounded.
Cing Cangkeling tersedia dalam kemasan 200 gram melalui outlet dan kanal e-commerce resmi Roemah Koffie. Produk ini juga hadir sebagai seasonal coffee dalam jumlah terbatas sekaligus menjadi Beans of the Month mulai 18 September hingga 31 Oktober 2026.
Kehadirannya melanjutkan eksplorasi Roemah Koffie dalam memperkenalkan keragaman kopi Indonesia. Sebelumnya, Roemah Koffie telah menghadirkan sejumlah varian seperti Rambadia, Anak Daro, dan Cublak Suweng yang masing-masing membawa karakter daerah serta unsur budaya Indonesia.