- Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, menyatakan ekonomi makro 2026 dan 2027 menghadapi tantangan berat global serta domestik.
- Empat tekanan utama meliputi pelemahan rupiah, inflasi impor, suku bunga tinggi, dan perubahan iklim yang merusak daya beli masyarakat.
- Pelemahan nilai tukar rupiah justru membuka peluang besar bagi UMKM dan generasi muda untuk meningkatkan daya saing ekspor global.
Suara.com - Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia memperkirakan kondisi ekonomi makro masih dibayangi tantangan berat untuk 2026 maupun 2027, baik itu di tingkat global maupun domestik.
Ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli mengungkapkan setidaknya ada empat tantangan utama yang tengah menekan perekonomian nasional dan berimbas langsung pada industri serta masyarakat.
Tantangan pertama yakni tren pelemahan nilai tukar rupiah yang kini telah menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS. Dipo menilai kalau lemahnya mata uang RI amat berimbas ke industri.
"Pelemahan rupiah ini dampaknya ke banyak sekali industri. Karena banyak industri di Indonesia memiliki bahan baku impor yang cukup tinggi. Jadi ketika rupiah melemah, harga bahan baku meningkat dan harga jual menjadi makin tinggi," ungkap Dipo dalam acara Youth Economic Summit (YES) 2026 di Gedung Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, (7/11/2026).
Tantangan kedua berasal dari inflasi impor yang dipicu oleh eskalasi geopolitik, salah satunya perang Amerika Serikat vs Iran. Kondisi ini mendongkrak harga minyak dunia yang kemudian berimbas pada kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi di dalam negeri, sekaligus memicu pembengkakan biaya transportasi logistik di berbagai industri.
Faktor ketiga adalah tingginya suku bunga acuan (BI Rate). Dipo menjelaskan, kebijakan ini berimbas pada naiknya biaya pinjaman masyarakat.
"Biaya pinjaman pun jadi mahal. Yang tadinya cicilan KPR berapa jadi naik, kartu kredit jadi berapa juga ikut naik," timpal dia.
Adapun tantangan keempat berasal dari masalah perubahan iklim seperti El Nino serta Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang memicu inflasi pangan.
Akumulasi dari keempat tekanan makroekonomi tersebut secara langsung menghantam daya beli masyarakat umum, khususnya kelas menengah.
Dipo menyoroti fenomena penyusutan porsi kelas menengah yang trennya sebenarnya sudah berjalan sejak sebelum pandemi Covid-19.
"Banyak yang turun kelas, dari kelas menengah menjadi calon kelas menengah. Bagi yang sudah bekerja, gaji itu stabil bahkan cenderung turun. Tapi dengan kenaikan harga-harga, daya beli kita makin merosot," papar Dipo.
Meski proyeksi ekonomi terkesan suram, Dipo menekankan bahwa selalu ada pergeseran peluang di tengah krisis. Pelemahan rupiah justru membuat harga barang dan jasa dari Indonesia menjadi lebih murah di mata pembeli asing, sehingga daya saing ekspor melonjak.
"Peluang yang paling besar dengan semua tantangan ini adalah sebenarnya nilai tukar kita yang lemah. Artinya apa? Ada peluang besar untuk ekspor," tegasnya.
Dipo mendorong talenta muda dan UMKM untuk memaksimalkan era ekonomi tanpa batas atau borderless economy. Menurutnya, sumber daya muda Indonesia memiliki keterampilan unik yang mumpuni untuk bersaing dalam kancah global.
"Jangan hanya melihat peluang di Indonesia saja, tapi lihat yang ada di luar negeri. Ekonomi kita mungkin tertekan, tapi karena nilai tukar kita lemah, sebenarnya kita bisa bersaing dengan negara lain baik untuk barang maupun jasa," pungkasnya.