- Misnati belajar matematika dan bahasa Inggris didampingi siswa SMAK 4 Penabur Jakarta, Jason, di Sekolah Adat Kampoeng Batara, Banyuwangi, pada Senin, 21 September 2026.
- Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Spirit of Challenge BPK Penabur Jakarta yang melibatkan 205 siswa dari 16 SLTAK di Banyuwangi tanggal 18–23 September 2026.
- Program kunjungan yang berlangsung sejak tahun 2024 ini membawa perubahan positif, termasuk perhatian pemerintah berupa pembangunan jalan aspal menuju Dusun Papring.
Suara.com - Misnati (34) tersenyum sambil memijat kepalanya. Sesekali ia tertawa ketika mencoba menyelesaikan soal hitung-hitungan yang diberikan kepadanya. Bagi sebagian orang, penjumlahan, pengurangan hingga pembagian mungkin terasa sederhana.
Namun bagi Misnati, mengingat kembali pelajaran yang pernah diterimanya hingga kelas 3 SD membutuhkan usaha lebih.
“Kalau untuk membaca, Insyaallah, saya bisa. Tapi kalau hitung-hitungan, mumet saya, memori saya sudah full,” ujar Misnati sambil tertawa.
Senin (21/9/2026) menjadi salah satu hari yang berbeda bagi Misnati. Di Sekolah Adat Kampoeng Batara, Dusun Papring, Kalipuro, Banyuwangi, ia kembali duduk belajar bersama ratusan peserta lain. Kali ini, ia didampingi Jason Marciano Nugroho, siswa SMAK 4 Penabur Jakarta.
Jason tidak sekadar memberikan soal. Ia mencoba mengikuti ritme belajar Misnati, mulai dari soal tambah, kurang, kali, bagi hingga desimal.
“Saya memberikan soal tambah, kurang, kali dan bagi, juga mencoba beberapa soal desimal untuk memberikan semangat kepada Bu Misnati agar lebih tekun belajar,” kata Jason.
Menariknya, proses belajar tersebut tidak berhenti pada angka. Di tengah rasa tegang dan kaki yang mulai kesemutan, Misnati justru meminta Jason mengajarinya perkenalan dalam bahasa Inggris.
Jason kemudian menuliskan contoh kalimat di buku belajar Misnati. Mereka mengulanginya beberapa kali hingga akhirnya Misnati berani memperkenalkan dirinya dalam bahasa Inggris di hadapan teman-temannya.
Momen sederhana itu memperlihatkan bahwa belajar bukan hanya soal kemampuan akademis. Ada keberanian untuk mencoba, kemauan untuk mendengarkan, sekaligus kesediaan seseorang untuk menemani orang lain melewati rasa sulit.
Hal seperti inilah yang semakin penting dikenalkan kepada generasi muda. Di tengah kehidupan yang serba cepat dan interaksi yang banyak berlangsung melalui layar, empati dan simpati tidak cukup hanya dipahami sebagai teori. Keduanya perlu dialami secara langsung.
Ketika seorang anak muda duduk berhadapan dengan orang yang memiliki pengalaman hidup berbeda, ia belajar melihat dunia dari sudut pandang yang tidak selalu ia temui sehari-hari. Ia belajar bahwa setiap orang memiliki cerita, keterbatasan, sekaligus keinginan untuk berkembang.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari rangkaian “Spirit of Challenge” BPK Penabur Jakarta yang berlangsung pada 18-23 September 2026. Sebanyak 205 siswa dari 16 SLTAK Penabur Jakarta mengikuti kegiatan yang mempertemukan mereka dengan masyarakat lokal di Banyuwangi.
Pengurus BPK Penabur Jakarta, Henricus Arif, mengatakan bahwa dampak bagi orang lain sebenarnya bisa dimulai dari tindakan yang sangat sederhana.
“Dampak bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti kesediaan mendengar dan belajar, memberi dengan tulus, memperlakukan orang lain sebagai pribadi yang berharga, serta sebisa mungkin meringankan beban orang lain,” ujarnya.
Bagi Widie Nurmahmudy, penggagas Sekolah Adat Kampoeng Batara, pertemuan dengan para siswa tersebut juga memiliki arti tersendiri. Ia mengatakan kehadiran mereka untuk keempat kalinya sejak 2024 ikut membawa perubahan positif bagi Dusun Papring.