- Abdul Latif asal Kediri mengajarkan pengetahuan batin Jawa melalui kelas daring dan komunitas Nafas Batin.
- Ia menerapkan pengalaman disiplin pabrik dan teknologi digital untuk menyusun latihan pernapasan serta olah rasa.
- Latif menolak praktik instan komersial serta mewajibkan muridnya mengutamakan kemandirian dan ikhtiar medis secara berdampingan.
Suara.com - Jalan hidup Abdul Latif tidak dimulai dari padepokan. Selama sekitar enam tahun ia bekerja sebagai trainer produksi dan quality assurance di PT SIIX dan PT EPCOS TDK, dua perusahaan manufaktur asal Jepang dan Jerman. Setelah itu ia menjadi manajer proyek di sebuah software house selama kurang lebih lima tahun.
Kini pria asal Kabupaten Kediri, Jawa Timur, itu lebih dikenal dengan nama Guru Sabdo Roso. Ia mengajarkan kawruh, pengetahuan batin Jawa tentang mengenal diri, melalui kelas daring, siaran langsung, dan komunitas belajar bernama Nafas Batin.
“Di pabrik saya belajar bahwa kualitas itu tidak bisa ditempel di akhir. Ia dijaga sejak awal proses. Batin manusia juga begitu, perlu dirawat setiap hari,” tutur Latif.
Disiplin pabrik dalam olah rasa
Pengalaman bertahun-tahun mengawal alur produksi hingga pemeriksaan mutu akhir ikut membentuk cara Latif mengajar. Ia menyusun laku batin menjadi langkah sederhana yang bisa dijalankan sendiri di rumah, tanpa ritual yang rumit.
Salah satunya latihan napas yang ia sebut Nafas Roso, dengan pola tarik napas empat hitungan, tahan empat hitungan, dan buang enam hitungan. Latihan ini dipadukan dengan semedi suwung, yakni duduk hening untuk menenangkan pikiran dan mengenali gejolak rasa.
Menurut Latif, manusia memiliki badan kasar dan badan halus. Dalam badan kasar terdapat empat dorongan yang dalam tradisi Jawa disebut sedulur papat: supiah, aluamah, amarah, dan mutmainah.
“Nafsu itu tidak untuk dibunuh, tapi diemong, diasuh. Yang perlu dilebur hanya kesombongan dan rasa paling benar sendiri,” katanya.
Menolak yang serba instan
Latif mengaku kerap menerima permintaan yang menjanjikan hasil cepat, mulai dari “buka aura” hingga pengobatan alternatif. Ia memilih menolaknya, termasuk ketika ada tawaran bayaran besar.
“Saya tidak jualan doa. Yang saya dampingi adalah prosesnya, belajar semedi dan olah rasa. Hasilnya tetap di tangan Gusti,” ujarnya.
Ia juga selalu menganjurkan murid yang sakit untuk menempuh pengobatan medis lebih dulu. Laku batin, menurutnya, berjalan berdampingan dengan ikhtiar medis, bukan menggantikannya.
Prinsip lain yang ia pegang adalah kemandirian murid. “Murid tidak boleh bergantung pada guru. Kalau seumur hidup harus datang ke guru, itu namanya guru bisnis,” kata Latif.
Memanfaatkan teknologi
Latar belakangnya di dunia teknologi membuat Latif memanfaatkan kanal digital untuk berbagi. Pada 2026 ia merilis aplikasi Nafas Batin di Google Play Store yang berisi panduan latihan napas dan pengingat laku harian.
Ia juga rutin menggelar siaran langsung di TikTok melalui akun @nafas.batin, dengan format tenang seperti radio malam. Topiknya meliputi semedi, tirakat, laku luhuring budi, hingga sangkan paraning dumadi, yakni pemahaman tentang asal dan tujuan hidup manusia.
Selain itu, Latif tengah menyiapkan buku berjudul Kawruh Pitulung melalui penerbit yang ia dirikan, Gurusabdo Pustaka. Buku itu berisi tuntunan laku harian, welas asih, dan cara belajar hening secara mandiri.
Semboyan yang ia pakai di situs resminya, gurusabdoroso.id, merangkum arah ajarannya: Laku Hening, Jernihing Roso, Luhur ing Budi.
“Harapan saya sederhana. Orang pulang ke dalam dirinya sendiri, lebih tenang, lebih welas asih, dan tetap memegang agamanya masing-masing,” pungkas Latif.